Advertisement

Ad space available

Berita AI

Veteran SpaceX Raih US$50 Juta untuk Revolusi Koneksi Data Center AI

Tiga mantan insinyur SpaceX mendirikan Mesh Optical Technologies untuk memproduksi massal transceiver optik bagi infrastruktur AI. Startup ini mengamankan pendanaan US$50 juta untuk memperkuat konektivitas GPU cluster.

Tim Rekayasa AI
Penulis
17 Februari 2026
3 min read
#Data Center#GPU#SpaceX#Semiconductor#Mesh Optical Technologies
Veteran SpaceX Raih US$50 Juta untuk Revolusi Koneksi Data Center AI

Veteran SpaceX Raih US$50 Juta untuk Revolusi Koneksi Data Center AI

LOS ANGELES, (17 FEBRUARI 2026)

Key Takeaway
  • Mesh Optical Technologies meraih pendanaan US$50 juta untuk memproduksi massal optical transceivers guna mendukung konektivitas GPU cluster.
  • Teknologi Mesh diklaim mampu mengurangi konsumsi daya pada sistem hyperscaler sebesar 3% hingga 5%.
  • Perusahaan menargetkan produksi 1.000 unit per hari tahun ini untuk mengurangi ketergantungan industri pada rantai pasok asal China.

Tiga mantan insinyur SpaceX yang sebelumnya membidani sistem komunikasi optik untuk satelit Starlink, kini beralih fokus untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan. Mengutip laporan dari TechCrunch, Travis Brashears, Cameron Robinson, dan Serena Grown-Haeberli baru saja mengumumkan pendanaan Series A senilai US$50 juta untuk startup mereka, Mesh Optical Technologies.

Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Thrive Capital. Mesh berambisi melakukan produksi massal optical transceivers, yakni perangkat vital yang mengubah sinyal optik dari fiber atau laser menjadi sinyal elektrik untuk komputer. Teknologi ini menjadi tulang punggung bagi Data Center modern yang digunakan untuk melatih dan mengoperasikan Generative AI serta model deep learning skala besar.

Mengatasi Bottleneck Infrastruktur AI

Dalam sebuah cluster yang berisi satu juta GPU, dibutuhkan setidaknya empat hingga lima juta unit transceivers agar setiap unit pemrosesan dapat berkomunikasi dengan lancar. CEO Mesh, Travis Brashears, menekankan bahwa ketergantungan industri saat ini pada pemasok luar negeri, terutama dari China, menjadi tantangan tersendiri bagi keamanan rantai pasok global.

"Jika AI adalah teknologi terpenting dalam beberapa generasi terakhir, maka membiarkan bagian kritis dari Data Center AI bergantung pada negara kompetitor adalah sebuah masalah," ujar Philip Clark, Partner di Thrive Capital kepada TechCrunch.

Mesh berencana memproduksi 1.000 unit per hari dalam tahun ini sebagai persiapan untuk kualifikasi pesanan dalam jumlah besar (bulk orders) pada tahun 2027 dan 2028. Selain keunggulan rantai pasok, desain Mesh diklaim lebih efisien karena menghapus satu komponen yang boros energi. Hal ini dapat mengurangi penggunaan daya pada GPU cluster sebesar 3% hingga 5%, angka yang sangat signifikan bagi para hyperscalers yang ingin mengoptimalkan efisiensi sistem mereka.

Ke depannya, Mesh tidak hanya menyasar Data Center. Mereka melihat komunikasi panjang gelombang optik sebagai paradigma baru yang akan menggantikan frekuensi radio (RF) ke arah photonics untuk menghubungkan segala perangkat.

Dampak bagi Indonesia

Langkah Mesh Optical Technologies memberikan sinyal penting bagi perkembangan ekosistem Data Center di Indonesia. Dengan nilai pendanaan US$50 juta atau setara Rp785 miliar (asumsi kurs Rp15.700), investasi ini menunjukkan betapa krusialnya komponen fisik dalam ekonomi AI global.

Bagi Indonesia yang sedang gencar membangun pusat data melalui pemain lokal seperti DCI Indonesia atau Telkom, kehadiran inovasi optical transceivers yang lebih hemat energi dapat membantu menekan biaya operasional listrik (OPEX) yang merupakan pengeluaran terbesar dalam manajemen Data Center. Selain itu, diversifikasi rantai pasok di luar China memberikan opsi lebih aman bagi penyedia Cloud Computing lokal dalam mengamankan perangkat keras AI di tengah dinamika regulasi perdagangan internasional.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin