Ad space available
Berkas IPO SpaceX Ungkap Kerugian xAI Tembus US$6,4 Miliar di 2025
Laporan IPO SpaceX mengungkap bahwa xAI mencatat kerugian operasional sebesar US$6,4 miliar pada tahun 2025. Elon Musk tetap berencana memacu pengembangan Grok hingga triliunan parameter meskipun pengeluaran membengkak.

Berkas IPO SpaceX Ungkap Kerugian xAI Tembus US$6,4 Miliar di 2025
HAWTHORNE, (21 MEI 2026)
- xAI mencatat kerugian operasional sebesar US$6,4 miliar pada tahun 2025 dengan pendapatan hanya mencapai US$3,2 miliar.
- Belanja modal (capex) tahunan untuk infrastruktur AI diproyeksikan melonjak hingga US$30,8 miliar guna mendukung pengembangan Grok.
- SpaceX menargetkan peluncuran satelit orbital AI compute mulai tahun 2028 untuk menekan biaya operasional Data Center di Bumi.
Laporan pendaftaran IPO SpaceX mengungkap bahwa unit Generative AI milik Elon Musk, xAI, mengalami kerugian operasional sebesar US$6,4 miliar (sekitar Rp102,4 triliun) dari pendapatan sebesar US$3,2 miliar pada tahun 2025. Melansir laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Rebecca Bellan, pengeluaran besar-besaran ini justru diprediksi akan terus tumbuh seiring ambisi perusahaan meningkatkan kemampuan Grok.
SpaceX, yang baru saja melakukan merger dengan xAI pada Februari lalu, berencana membawa perusahaan gabungan ini melantai di bursa saham tahun ini. Berkas tersebut memberikan gambaran perdana mengenai finansial xAI dan platform X (Twitter). Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, xAI mencatat kerugian US$1,56 miliar dengan pendapatan US$2,62 miliar, menunjukkan jurang kerugian yang semakin melebar di tahun berikutnya.
Ambisi Triliunan Parameter dan Belanja Infrastruktur
Peningkatan pengeluaran ini dipicu oleh rencana SpaceX untuk melatih LLM Grok ke skala "beberapa triliun parameter". Langkah ini memerlukan compute spend yang luar biasa besar. Belanja modal atau capex untuk segmen AI melonjak dari US$12,7 miliar pada 2025 menjadi US$7,7 miliar hanya pada kuartal pertama 2026. Jika dikalkulasi secara tahunan, run rate pengeluaran ini mencapai US$30,8 miliar.
Saat ini, infrastruktur utama xAI ditopang oleh Data Center Colossus dan Colossus II yang secara kolektif menyediakan daya compute sekitar 1 gigawatt. SpaceX mengklaim bahwa integrasi vertikal pada stack teknologi AI memungkinkan mereka melatih model frontier dengan kecepatan lebih tinggi dan biaya lebih rendah dibandingkan kompetitor.
Selain infrastruktur darat, Elon Musk merencanakan solusi futuristik berupa orbital AI compute satellites. Berkas IPO tersebut menyebutkan bahwa SpaceX berniat mulai mengerahkan satelit pemrosesan AI ini paling cepat tahun 2028, yang diklaim akan menjadi alternatif lebih murah dibandingkan Data Center konvensional.
Dampak bagi Indonesia
Fenomena kerugian masif xAI ini memberikan potret nyata bagi industri teknologi di Indonesia bahwa pengembangan model AI tingkat lanjut memerlukan investasi modal yang sangat besar. Dengan kurs saat ini (asumsi Rp16.000 per US$), kerugian US$6,4 miliar setara dengan lebih dari Rp102 triliun, angka yang jauh melampaui valuasi mayoritas unicorn di tanah air.
Bagi pengguna di Indonesia, integrasi Grok yang lebih dalam ke platform X mungkin akan berdampak pada penyesuaian harga langganan fitur premium di masa mendatang. Di sisi lain, rencana satelit AI compute pada 2028 berpotensi menguntungkan Indonesia sebagai negara kepulauan, karena dapat memangkas latensi dan hambatan infrastruktur fisik untuk akses layanan Cloud Computing berbasis AI di wilayah terpencil. Namun, dominasi perusahaan global seperti SpaceX dalam "physical stack" AI ini juga menjadi pengingat bagi regulator lokal mengenai pentingnya kedaulatan data dan pengembangan talenta Machine Learning dalam negeri.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

