Ad space available
SpaceX-xAI Luncurkan Rencana Data Center di Orbit, Klaim Lebih Hemat
SpaceX resmi menggabungkan diri dengan xAI dan mengajukan izin untuk satu juta satelit data center berbasis surya di orbit. Elon Musk menargetkan 2028 sebagai titik balik ekonomi untuk komputasi AI di luar angkasa.

SpaceX-xAI Luncurkan Rencana Data Center di Orbit, Klaim Lebih Hemat
Jakarta, (Kamis, 5 Februari 2026)
- SpaceX mengajukan izin ke FCC untuk jaringan "satu juta" satelit data center bertenaga surya di orbit.
- Penggabungan SpaceX–xAI yang sah sejak Senin menjadi fondasi infrastruktur AI orbital.
- Elon Musk memprediksi dalam 30–36 bulan ke depan biaya operasional AI di orbit akan lebih murah karena panel surya di angkasa menghasilkan lima kali lebih banyak energi.
Mengutip laporan dari TechCrunch, SpaceX pada Jumat pekan lalu mengajukan rencana ambisius ke Federal Communications Commission (FCC) untuk menerbangkan sejuta satelit yang berfungsi sebagai data center di orbit. Rencana ini makin menguat setelah SpaceX secara resmi mengakuisisi xAI pada Senin (2/2), menyatukan dua kekuatan Elon Musk di bidang antariksa dan kecerdasan buatan.
Langkah administratif berikutnya terjadi Rabu ketika FCC menerima pengajuan dan membuka jadwal komentar publik. Ketua FCC Brendan Carr bahkan membagikan berkas tersebut di X, menandakan dukungan politik yang kuat. Carr dikenal pro-pihak yang dekat dengan Donald Trump, sehingga selama Musk tetap dalam garis kebijakan sang presiden, proyek ini diprediksi akan lancar.
Dalam podcast "Cheeky Pint" bersama Patrick Collison dan Dwarkesh Patel, Musk menjabarkan logika ekonominya: "Panel surya di angkasa menghasilkan sekitar lima kali lebih banyak daya ketimbang di darat, jadi biaya operasionalnya jauh lebih murah." Ia menegaskan bahwa 2028 akan menjadi masa kritis ketika komputasi AI di orbit secara ekonomi lebih menarik ketimbang pusat data konvensional.
Tentu saja, tantangan teknis tak sedikit. Patel menyoroti masalah perawatan GPU yang rusak selama training model AI di luar angkasa. Namun Musk tetap optimistis: "Tandai kata-kata saya, dalam 36 bulan—bahkan 30 bulan—lokasi paling ekonomis untuk menjalankan AI akan di angkasa."
Dengan SpaceX kini memiliki xAI, arus pendapatan dari peluncuran satelit akan makin deras. Ditambah rumor IPO konglomerasi SpaceX-xAI dalam beberapa bulan ke depan, investor akan makin sering mendengar narasi "data center orbital" sebagai bagian dari strategi AI Musk.
Dampak bagi Indonesia
Jika prediksi Musk benar dan biaya kWh untuk komputasi AI di orbit turun hingga US$0,02/kWh (sekitar Rp320), tarif cloud GPU di Indonesia yang saat ini berkisar US$0,4–0,6/kWh (sekitar Rp6.400–Rp9.600) bisa terpukul. Penyedia lokal seperti Telkomsigma dan Indosat Cloud akan terdorong menekan harga atau mempercepat ekspansi data center hiperskala di Batam dan Banten agar tetap kompetitif. Regulasi komunikasi satelit dari Kominfo pun diprediksi akan diperbarui untuk mengakomodasi konstelasi non-geostasioner berbasis AI seiring lonjakan permintaan bandwidth antariksa.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


