Ad space available
Para CEO Tech Alami 'AI Psychosis'? Aaron Levie: PHK Massal Jadi Indikasi
CEO Box Aaron Levie menilai banyak pemimpin perusahaan teknologi menderita 'AI psychosis' yang menyebabkan keputusan PHK massal. Fenomena ini disorot di tengah lonjakan pemutusan hubungan kerja di sektor teknologi global.

Apakah Para CEO Tech Terjangkit 'AI Psychosis'?
JAKARTA, (30 Mei 2026)
- Aaron Levie, CEO Box, memperingatkan adanya 'AI psychosis' di kalangan CEO teknologi yang dapat memicu PHK karena kesalahpahaman tentang peran AI.
- Sektor teknologi global menyaksikan lonjakan PHK, seperti di ClickUp yang memangkas 22% karyawan karena AI Agents, sementara adopsi DuckDuckGo meningkat sebagai penolakan terhadap pemaksaan AI dalam pencarian.
- Podcast Equity TechCrunch mengulas isu ini bersama perkembangan lain seperti robotaxi Waymo, kesepakatan AWS-Snowflake, pendanaan Stord, dan kenaikan OpenRouter.
Menurut laporan dari TechCrunch, Aaron Levie, pendiri Box, menyuarakan kekhawatirannya tentang apa yang ia sebut sebagai "AI psychosis" di kalangan pemimpin perusahaan. Ia mengemukakan bahwa pihak yang memutuskan AI bisa menggantikan suatu pekerjaan seringkali adalah mereka yang paling tidak memahami esensi pekerjaan tersebut. Ini menjadi pemicu di balik gelombang PHK di sektor teknologi.
Melansir data dari TechCrunch, fenomena ini tercermin dari tindakan sejumlah perusahaan, seperti ClickUp yang baru-baru ini memangkas 22% dari total tenaga kerjanya demi mengadopsi AI Agents. Jumlah PHK di sektor teknologi pada tahun 2026 ini bahkan hampir menyamai total PHK sepanjang tahun 2025. Di sisi lain, instalasi DuckDuckGo juga melonjak 30% karena pengguna menolak pemaksaan AI dalam hasil pencarian Google dan hanya menginginkan tautan langsung.
Dalam episode podcast Equity TechCrunch, Kirsten Korosec, Anthony Ha, dan Sean O’Kane mendalami dinamika ketika pandangan pro-AI dan skeptis terhadap AI sama-sama memiliki dasar yang kuat. Mereka juga membahas tiga kesepakatan penting di industri serta peluncuran robotaxi baru dari Waymo.
Dalam episode tersebut, pendengar dapat menyimak:
- Tinjauan awal Kirsten tentang robotaxi Ojai baru Waymo di Phoenix, dan pandangan tim mengenai jalur perusahaan menuju profitabilitas.
- Kesepakatan lima tahun senilai $6 miliar antara raksasa Cloud data storage Snowflake dengan AWS.
- Alasan di balik penggalangan dana sebesar $250 juta oleh Stord, startup logistik yang disebut sebagai "anti-Amazon", dengan valuasi $3 miliar.
- Apa yang tersirat dari penggalangan dana $113 juta oleh OpenRouter mengenai "picks-and-shovels layer" dalam ekosistem AI, dan seberapa lama minat tersebut akan bertahan.
- Bagaimana gelombang AI Agent secara fundamental mengubah proses perekrutan, bukan hanya sekadar pengurangan jumlah karyawan.
Dampak bagi Indonesia
Fenomena 'AI psychosis' yang diungkapkan oleh Aaron Levie memiliki relevansi signifikan bagi lanskap teknologi dan ketenagakerjaan di Indonesia. Perusahaan-perusahaan teknologi di Tanah Air, terutama startup yang tengah berkembang, perlu berhati-hati dalam mengadopsi AI dan memastikan bahwa keputusan mengenai peran AI tidak didasarkan pada pemahaman yang dangkal. Adopsi AI Agents seharusnya fokus pada peningkatan efisiensi dan produktivitas, bukan semata-mata sebagai alasan untuk pemutusan hubungan kerja massal tanpa analisis mendalam tentang nilai tambah manusia.
Perkembangan di sektor Cloud Computing, seperti kesepakatan antara Snowflake dan AWS, juga akan memengaruhi ekosistem bisnis di Indonesia. Banyak perusahaan di Indonesia mengandalkan layanan Cloud Computing dari penyedia global, sehingga efisiensi dan inovasi dari kemitraan semacam ini dapat berdampak pada biaya operasional dan kemampuan adopsi teknologi AI lokal. Di sisi lain, peningkatan instalasi DuckDuckGo menunjukkan adanya kekhawatiran privasi dan keinginan pengguna untuk kontrol lebih besar atas pengalaman pencarian mereka, sebuah tren yang mungkin juga berkembang di Indonesia seiring meningkatnya kesadaran digital. Terakhir, meski regulasi robotaxi di Indonesia masih dalam tahap awal, perkembangan Waymo memberikan gambaran potensi mobilitas masa depan yang perlu diantisipasi secara regulasi dan infrastruktur.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


