Advertisement

Ad space available

Berita AI

Sam Altman Puji Programmer, Netizen Sebut "Pidato Kematian" Profesi

CEO OpenAI Sam Altman menuai kritik tajam setelah memberikan apresiasi kepada programmer yang menulis kode secara manual. Netizen menganggap pernyataan tersebut tidak peka di tengah badai layoff industri teknologi.

Tim Rekayasa AI
Penulis
18 Maret 2026
4 min read
#Sam Altman#OpenAI#Software Engineer#Kecerdasan Buatan#Layoff
Sam Altman Puji Programmer, Netizen Sebut "Pidato Kematian" Profesi

Sam Altman Puji Programmer, Netizen Sebut "Pidato Kematian" Profesi

SAN FRANCISCO, (18 Maret 2024)

Key Takeaway
  • Sam Altman memicu kontroversi setelah mengapresiasi upaya penulisan kode manual di platform X.
  • Komunitas pengembang merasa pernyataan tersebut tidak peka karena OpenAI merupakan pemicu utama otomatisasi pekerjaan coding.
  • Banyak netizen menganggap ucapan terima kasih tersebut sebagai bentuk 'eulogi' bagi profesi software engineer tradisional.

CEO OpenAI, Sam Altman, baru-baru ini menjadi pusat perhatian di media sosial setelah mengunggah pesan apresiasi kepada para pengembang perangkat lunak. Namun, pesan yang dimaksudkan untuk menghormati upaya manusia itu justru disambut dengan sinisme dan kemarahan oleh komunitas teknologi global.

Dalam unggahannya di platform X, Altman menulis: "Saya sangat berterima kasih kepada orang-orang yang menulis software yang sangat kompleks karakter demi karakter. Sudah mulai sulit untuk mengingat berapa banyak upaya yang sebenarnya dibutuhkan. Terima kasih telah membawa kita sampai ke titik ini."

Ironi di Balik Kata-Kata Manis

Bagi banyak pengembang, ucapan Altman terasa seperti "garam di atas luka." Di saat yang bersamaan, ribuan pekerja teknologi di seluruh dunia sedang menghadapi ketidakpastian pekerjaan. Perusahaan besar seperti Amazon, Meta, dan Microsoft terus melakukan perampingan dengan alasan efisiensi—sebuah langkah yang sering kali didorong oleh adopsi alat AI generatif seperti GitHub Copilot dan ChatGPT, yang merupakan produk unggulan OpenAI.

Kritik utama yang muncul adalah fakta bahwa teknologi AI milik OpenAI dilatih menggunakan miliaran baris kode yang ditulis secara manual oleh manusia. Para pengembang merasa ironis ketika orang yang menciptakan alat untuk menggantikan mereka justru memberikan ucapan terima kasih karena telah "membawa kita sampai ke titik ini," yang seolah mengisyaratkan bahwa peran manusia sudah selesai.

Reaksi Keras dan Meme Netizen

Respons netizen terhadap unggahan tersebut sangat masif. Salah satu komentar yang populer menyebutkan bahwa pernyataan Altman terdengar seperti sebuah pidato pemakaman. "Ini seperti seorang penebang pohon yang berterima kasih kepada pohon terakhir di hutan karena telah tumbuh dengan baik sebelum ia menebangnya," tulis salah satu pengguna X.

Sentimen ini mencerminkan ketakutan nyata di industri. Meskipun Altman berulang kali menyatakan bahwa AI akan menjadi asisten bagi manusia, kecepatan otomatisasi membuat banyak posisi pengembang tingkat junior dan mid-level merasa sangat rentan terhadap pemangkasan hubungan kerja.

Dampak bagi Industri di Indonesia

Fenomena ini juga menjadi alarm bagi ekosistem digital di Indonesia. Dengan masuknya alat bantu AI yang mampu menulis kode dalam hitungan detik, standar kompetensi bagi pengembang lokal dipastikan akan bergeser drastis. Perusahaan tidak lagi hanya mencari individu yang mahir menulis sintaks, melainkan mereka yang mampu melakukan supervisi terhadap kode yang dihasilkan AI serta memiliki kemampuan pemecahan masalah yang kompleks.


Dapatkan update terbaru seputar dunia teknologi dan kecerdasan buatan hanya di platform kami. Pantau terus perkembangan karir di era AI agar tetap relevan di pasar kerja global.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin