Ad space available
Sam Altman: Manusia Juga Butuh Energi Besar untuk 'Dilatih', Bukan Hanya AI
CEO OpenAI Sam Altman menepis kekhawatiran berlebih mengenai dampak lingkungan AI dan membandingkannya dengan energi yang dikonsumsi manusia. Ia menekankan pentingnya transisi cepat ke energi nuklir dan terbarukan.

Sam Altman: Manusia Juga Butuh Energi Besar untuk "Dilatih", Bukan Hanya AI
NEW DELHI, (21 Februari 2026)
- Sam Altman menyebut klaim mengenai pemborosan air oleh ChatGPT sebagai informasi yang sama sekali tidak benar karena perubahan teknologi pendinginan pada Data Center.
- Ia berargumen bahwa proses pelatihan manusia selama 20 tahun dan evolusi biologis juga membutuhkan energi yang sangat besar dibandingkan Generative AI.
- Bos OpenAI ini mendesak dunia untuk segera beralih ke energi nuklir, angin, dan surya guna menopang kebutuhan daya komputasi di masa depan.
CEO OpenAI, Sam Altman, menanggapi kekhawatiran publik mengenai dampak lingkungan dari teknologi AI saat berbicara dalam acara yang diselenggarakan oleh The Indian Express. Mengutip laporan dari TechCrunch, Altman yang tengah berada di India untuk menghadiri konferensi AI tingkat tinggi, memberikan pembelaan terhadap efisiensi energi perusahaan pengembang ChatGPT tersebut.
Altman menyatakan bahwa kekhawatiran mengenai penggunaan air oleh AI adalah hal yang "sepenuhnya palsu." Meski ia mengakui bahwa penggunaan air sempat menjadi masalah nyata ketika Data Center masih menggunakan sistem evaporative cooling, teknologi tersebut kini telah ditinggalkan.
"Sekarang kita tidak lagi melakukannya. Anda melihat hal-hal di internet yang menyebut 'Jangan gunakan ChatGPT karena memakan 17 galon air untuk setiap query' atau semacamnya," ujar Altman. "Ini benar-benar tidak benar, sangat gila, dan tidak memiliki koneksi dengan kenyataan."
Perbandingan dengan Evolusi Manusia
Meski menepis isu penggunaan air, Altman mengakui bahwa konsumsi energi secara total—bukan per query—adalah hal yang patut diperhatikan seiring dengan meluasnya penggunaan AI secara global. Menurutnya, solusi utama dari masalah ini adalah percepatan transisi menuju energi nuklir, tenaga surya, dan angin.
Menariknya, Altman juga mengkritik narasi yang dianggapnya tidak adil saat membandingkan biaya energi untuk melatih model AI dengan biaya seorang manusia untuk menjawab satu pertanyaan.
"Dibutuhkan banyak energi juga untuk melatih seorang manusia. Perlu waktu sekitar 20 tahun hidup dan semua makanan yang Anda konsumsi selama itu sebelum Anda menjadi pintar," kata Altman. Ia menambahkan bahwa manusia adalah produk evolusi dari 100 miliar orang yang pernah hidup, belajar bertahan hidup, dan memahami sains.
Ia berpendapat bahwa perbandingan yang adil adalah membandingkan energi yang dibutuhkan model AI yang sudah terlatih untuk menjawab satu pertanyaan dengan energi yang dikeluarkan manusia. Dalam perspektif tersebut, Altman meyakini bahwa AI mungkin sudah melampaui efisiensi energi manusia.
Dampak bagi Indonesia
Narasi Sam Altman ini relevan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi hub Data Center di Asia Tenggara. Saat ini, pemerintah Indonesia tengah mendorong pembangunan pusat data ramah lingkungan, khususnya di kawasan Batam dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Jika klaim Altman mengenai efisiensi energi per query terbukti benar, hal ini dapat meredakan kekhawatiran para aktivis lingkungan di Indonesia terkait beban listrik nasional. Namun, transisi ke energi nuklir yang disarankan Altman masih menjadi perdebatan panjang di tanah air. Di sisi lain, harga listrik untuk industri Cloud Computing di Indonesia tetap menjadi faktor penentu daya saing. Dengan peningkatan efisiensi LLM, biaya operasional bagi perusahaan rintisan lokal yang mengintegrasikan AI diharapkan dapat tetap terjangkau bagi pengguna di pasar domestik.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


