Ad space available
Ricursive Intelligence: Startup AI Desain Chip Raih Valuasi $4 Miliar
Didirikan oleh eks tim Google Brain, Ricursive Intelligence meraih pendanaan $335 juta dalam empat bulan untuk merevolusi desain chip menggunakan AI.

Ricursive Intelligence: Revolusi Desain Chip Berbasis AI dengan Valuasi $4 Miliar
SAN FRANCISCO, (16 Februari 2026)
- Ricursive Intelligence berhasil mengumpulkan pendanaan total $335 juta dengan valuasi $4 miliar hanya dalam waktu empat bulan sejak peluncurannya.
- Co-founder startup ini, Anna Goldie dan Azalia Mirhoseini, merupakan tokoh kunci di balik Alpha Chip Google yang mampu mendesain layout chip dalam hitungan jam.
- Fokus utama perusahaan bukan memproduksi hardware, melainkan menyediakan platform AI untuk mempercepat desain arsitektur chip bagi raksasa seperti Nvidia dan Intel.
Mengutip laporan dari TechCrunch, startup AI pendatang baru, Ricursive Intelligence, telah mencatatkan pertumbuhan valuasi yang fenomenal. Melansir data terbaru, perusahaan yang dipimpin oleh duet legendaris di dunia AI ini berhasil mengamankan pendanaan Series A sebesar $300 juta yang dipimpin oleh Lightspeed, hanya berselang dua bulan setelah meraih pendanaan seed senilai $35 juta dari Sequoia.
Keberhasilan kilat ini tidak lepas dari profil pendirinya. Anna Goldie (CEO) dan Azalia Mirhoseini (CTO) adalah mantan peneliti senior di Google Brain dan karyawan awal di Anthropic. Reputasi mereka begitu besar hingga Mark Zuckerberg dilaporkan pernah mengirimkan tawaran personal untuk merekrut mereka. Keduanya dikenal luas berkat penciptaan Alpha Chip, sebuah AI tool yang mampu menghasilkan layout chip berkualitas tinggi dalam hitungan jam—proses yang biasanya memakan waktu setahun bagi desainer manusia.
Bukan Kompetitor Nvidia, Melainkan Mitra Strategis
Berbeda dengan banyak startup semikonduktor yang mencoba menantang dominasi Nvidia, Ricursive Intelligence justru membangun AI tools untuk mendesain chip, bukan memproduksi chip itu sendiri. Strategi unik ini membuat raksasa seperti Nvidia, AMD, dan Intel menjadi target pelanggan utama mereka. Bahkan, Nvidia tercatat sebagai salah satu investor di startup ini.
"Kami ingin memungkinkan chip apa pun, baik itu custom chip maupun chip tradisional, dibangun secara otomatis dan sangat cepat menggunakan AI," ujar Mirhoseini kepada TechCrunch.
Platform Ricursive memanfaatkan Deep Neural Network dan LLM untuk menangani seluruh proses, mulai dari penempatan komponen (placement) hingga verifikasi desain. Dengan menggunakan reward signal, AI Agent milik Ricursive belajar dari setiap iterasi untuk menghasilkan desain yang lebih efisien dalam penggunaan daya dan performa.
Menuju Era AGI dengan Hardware yang Efisien
Goldie menekankan bahwa chip adalah "bahan bakar" bagi perkembangan AI. Visi jangka panjang Ricursive adalah membantu pencapaian Artificial General Intelligence (AGI) dengan membiarkan AI mendesain "otak" komputernya sendiri. Hal ini diharapkan dapat mengatasi kendala kecepatan inovasi yang saat ini dibatasi oleh siklus desain hardware yang lambat.
Selain kecepatan, efisiensi sumber daya menjadi poin krusial. Dengan desain arsitektur yang dioptimalkan secara khusus untuk model AI tertentu, Ricursive mengklaim dapat mencapai peningkatan performa hingga 10 kali lipat per total cost of ownership.
Dampak bagi Indonesia
Masuknya teknologi desain chip berbasis AI seperti yang ditawarkan Ricursive Intelligence memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:
- Efisiensi Biaya Infrastruktur Digital: Valuasi Ricursive yang mencapai Rp62,8 triliun (asumsi kurs Rp15.700/USD) mencerminkan urgensi efisiensi hardware. Bagi penyedia Data Center dan perusahaan fintech di Indonesia, adopsi chip yang didesain lebih efisien oleh AI dapat menekan biaya operasional komputasi awan (Cloud Computing) di masa depan.
- Peluang Custom Chip Lokal: Dengan proses desain yang lebih murah dan cepat (dari tahunan menjadi jam), instansi pemerintah atau perusahaan teknologi besar di Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan custom chip yang sesuai dengan regulasi lokalisasi data dan kebutuhan spesifik pasar domestik tanpa harus memiliki tim desainer hardware yang masif.
- Transformasi Talenta Digital: Munculnya AI-driven chip design menuntut talenta lokal di bidang semiconductor dan Computer Science untuk mulai menguasai Machine Learning dan Prompt Engineering yang spesifik untuk arsitektur hardware.
--- Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


