Ad space available
OpenAI Kembali Tunda Peluncuran 'Adult Mode' di ChatGPT
OpenAI resmi menunda kembali peluncuran 'adult mode' yang memungkinkan akses konten dewasa bagi pengguna terverifikasi. Keputusan ini diambil untuk memprioritaskan peningkatan kecerdasan dan kepribadian AI.

OpenAI Kembali Tunda Peluncuran 'Adult Mode' di ChatGPT
SAN FRANCISCO, (7 Maret 2026)
- OpenAI menunda fitur 'adult mode' untuk kedua kalinya guna memprioritaskan pengembangan kecerdasan dan sifat proaktif pada chatbot.
- Fitur ini dirancang untuk memberikan akses konten erotika bagi pengguna dewasa yang telah melalui proses verifikasi usia.
- Belum ada jadwal rilis pasti setelah rencana peluncuran awal pada Desember 2025 dan kuartal pertama 2026 resmi dibatalkan.
Mengutip laporan dari TechCrunch, OpenAI kembali memutuskan untuk menunda peluncuran fitur "adult mode" pada layanan ChatGPT. Fitur ini sedianya akan memberikan akses kepada pengguna dewasa yang terverifikasi untuk mengeksplorasi konten erotika dan materi dewasa lainnya melalui platform tersebut.
Melansir data dari pengumuman awal CEO OpenAI, Sam Altman, pada Oktober lalu, fitur ini merupakan bagian dari prinsip perusahaan untuk "memperlakukan pengguna dewasa selayaknya orang dewasa." Awalnya, fitur ini dijadwalkan meluncur pada Desember 2025 bersamaan dengan penerapan sistem age-gating yang lebih ketat.
Namun, peluncuran tersebut telah mengalami beberapa kali hambatan. Penundaan pertama terjadi pada Desember lalu ketika Altman dilaporkan mengirimkan memo internal yang menyatakan status "code red". Saat itu, tim diinstruksikan untuk beralih fokus pada pengalaman inti ChatGPT guna menghadapi persaingan dengan Google Gemini.
Fokus pada Kecerdasan dan Proaktifitas
Dalam laporan terbaru yang pertama kali diungkap oleh Sources dan dikonfirmasi melalui Axios, juru bicara OpenAI menyatakan bahwa perusahaan memilih untuk memundurkan jadwal rilis adult mode. Langkah ini diambil demi memprioritaskan aspek-aspek yang dianggap lebih krusial bagi basis pengguna yang lebih luas.
"Kami mendorong jadwal peluncuran adult mode untuk fokus pada pekerjaan yang menjadi prioritas lebih tinggi bagi lebih banyak pengguna saat ini, seperti peningkatan aspek kecerdasan, kepribadian, dan membuat chatbot menjadi lebih proaktif," ujar juru bicara tersebut.
Meski demikian, OpenAI menegaskan bahwa mereka tidak membatalkan rencana tersebut. Perusahaan mengeklaim tetap percaya pada prinsip memberikan kebebasan konten bagi orang dewasa, namun memerlukan waktu lebih lama untuk memastikan pengalaman pengguna (UX) yang tepat dan aman.
Hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai berapa lama penundaan ini akan berlangsung. Penundaan ini terjadi di tengah momentum peluncuran GPT-5.4 yang membawa peningkatan signifikan pada kemampuan berpikir (reasoning) dan versi profesional untuk pengguna korporasi.
Dampak bagi Indonesia
Penundaan fitur adult mode ini memiliki implikasi unik bagi pasar Indonesia, mengingat regulasi konten internet yang sangat ketat di bawah pengawasan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
- Regulasi Konten: Di Indonesia, akses terhadap konten dewasa melalui platform digital diatur ketat oleh UU ITE. Jika nantinya fitur ini dirilis, OpenAI dipastikan harus berhadapan dengan sistem filtrasi konten lokal atau berisiko mengalami pemblokiran jika tidak menyesuaikan dengan norma hukum di tanah air.
- Verifikasi Identitas: Implementasi age-gating kemungkinan besar akan memerlukan integrasi identitas resmi. Bagi pengguna di Indonesia, hal ini mungkin melibatkan mekanisme verifikasi pihak ketiga yang sesuai dengan standar perlindungan data pribadi nasional.
- Perilaku Pengguna: Absennya fitur ini di ChatGPT membuat pengguna di Indonesia tetap akan menggunakan batasan keamanan standar (safety guardrails) yang selama ini mencegah pembuatan konten sensitif atau eksplisit.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


