Ad space available
Nvidia Networking: Bisnis Multimiliar Dolar yang Kini Menyaingi Divisi Chip
Divisi networking Nvidia mencatat pendapatan fantastis sebesar $11 miliar hanya dalam satu kuartal. Bisnis ini kini menjadi pilar utama dalam pembangunan infrastruktur AI Factory global.

Nvidia Networking: Bisnis Multimiliar Dolar yang Kini Menyaingi Divisi Chip
SANTA CLARA, (18 MARET 2026)
- Divisi networking Nvidia meraup pendapatan $11 miliar dalam satu kuartal, tumbuh 267% YoY, menyamai performa tahunan raksasa networking tradisional.
- Pertumbuhan ini dipicu oleh kebutuhan infrastruktur "AI Factory" yang mengintegrasikan GPU dengan teknologi interkoneksi seperti NVLink dan Spectrum-X.
- Strategi akuisisi Mellanox senilai $7 miliar pada tahun 2020 terbukti menjadi kunci sukses Nvidia dalam mendominasi ekosistem Data Center secara full-stack.
CEO Nvidia, Jensen Huang, terbukti melangkah jauh di depan pasar ketika ia mulai mendorong perusahaan untuk mengembangkan chip spesifik AI pada tahun 2010. Mengutip laporan dari TechCrunch, langkah serupa dilakukan pada tahun 2020 dengan memperkuat divisi networking melalui akuisisi strategis yang kini bertransformasi menjadi salah satu mesin pendapatan paling menguntungkan bagi perusahaan.
Melansir data keuangan terbaru, bisnis networking Nvidia yang dirancang untuk menghubungkan unit-unit di Data Center telah tumbuh menjadi penggerak pendapatan terbesar kedua setelah divisi compute. Pada kuartal terakhir, divisi ini melaporkan pendapatan sebesar $11 miliar, mencatat kenaikan sebesar 267% dibandingkan tahun sebelumnya (YoY). Untuk setahun penuh, divisi ini menyumbang lebih dari $31 miliar bagi kantong Nvidia.
Fondasi Utama AI Factory
Didorong oleh lonjakan pemrosesan AI, divisi ini mencakup berbagai teknologi krusial seperti NVLink yang mengatur komunikasi antar GPU, Nvidia InfiniBand Switches, platform Spectrum-X untuk Ethernet networking, hingga co-packaged optics switches. Gabungan teknologi ini merupakan komponen inti dalam membangun apa yang disebut Jensen Huang sebagai "AI Factory", yaitu Data Center yang dioptimalkan khusus untuk melatih LLM dan model Generative AI skala besar.
Kevin Cook, senior equity strategist di Zacks Investment Research, menyatakan bahwa pencapaian ini sangat impresif. "Divisi networking Nvidia melaporkan $11 miliar per kuartal; angka itu lebih besar dari bisnis networking Cisco, hampir menyamai estimasi setahun penuh mereka," ujar Cook. Dengan kata lain, Nvidia melakukan dalam satu kuartal apa yang dilakukan Cisco dalam setahun.
Kevin Deierling, Senior Vice President Networking Nvidia, menjelaskan bahwa networking bukan lagi sekadar perangkat periferal. "Dulu orang menganggap networking hanya untuk menghubungkan printer. Sekarang, network adalah back lining dari AI Factory. Jensen melihat bahwa networking adalah potongan puzzle yang hilang untuk menjadikan GPU sebagai paket yang lengkap," ungkapnya.
Inovasi Terbaru di GTC 2026
Dalam ajang Nvidia GTC 2026 baru-baru ini, Nvidia kembali memperkenalkan pembaruan besar. Perusahaan meluncurkan platform Nvidia Rubin yang mencakup enam chip baru untuk mentenagai superkomputer AI. Selain itu, diperkenalkan pula platform Nvidia Inference Context Memory Storage dan switch Nvidia Spectrum-X Ethernet Photonics yang lebih efisien.
Keunggulan utama Nvidia terletak pada kemampuannya menyediakan solusi full-stack. Berbeda dengan kompetitor, Nvidia tidak hanya menjual komponen individu, melainkan ekosistem terintegrasi yang mencakup unit komputasi, perangkat lunak, hingga infrastruktur jaringan yang saling teroptimasi.
Dampak bagi Indonesia
Indonesia saat ini tengah mengalami tren ekspansi Data Center besar-besaran, terutama di wilayah Batam dan Cikarang yang menjadi hub strategis bagi perusahaan teknologi global. Pertumbuhan bisnis networking Nvidia senilai $31 miliar (sekitar Rp486 triliun) ini menandakan bahwa investasi infrastruktur digital di Indonesia tidak lagi cukup hanya dengan membeli GPU canggih.
Para penyedia layanan Cloud Computing dan korporasi di Indonesia harus mulai mengadopsi standar networking kelas atas seperti InfiniBand atau Spectrum-X untuk memastikan efisiensi pelatihan AI. Mengingat harga perangkat networking enterprise ini yang premium, biaya pembangunan Data Center di Indonesia diprediksi akan tetap tinggi, namun hal ini menjadi krusial demi mendukung performa AI Agent dan aplikasi Machine Learning lokal yang kompetitif di level regional.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


