Ad space available
Infosys Gandeng Anthropic Bangun Enterprise AI Agent di Tengah Gejolak Pasar
Infosys bermitra dengan Anthropic untuk mengintegrasikan model Claude ke dalam platform Topaz guna mengembangkan AI Agent otonom bagi perusahaan. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran pasar terhadap disrupsi AI pada industri layanan IT tradisional.

Infosys Gandeng Anthropic Bangun Enterprise AI Agent di Tengah Gejolak Pasar
NEW DELHI, (17 Februari 2026)
- Infosys mengintegrasikan model Claude milik Anthropic ke dalam platform Topaz untuk menciptakan sistem AI Agent otonom bagi sektor perbankan hingga manufaktur.
- Kerja sama ini bertujuan meredam kekhawatiran investor terkait disrupsi AI terhadap model bisnis outsourcing tenaga kerja yang bernilai $280 miliar.
- Anthropic resmi membuka kantor di Bengaluru, memperkuat posisi India sebagai pasar penggunaan Claude terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Raksasa layanan IT asal India, Infosys, mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah bermitra dengan Anthropic untuk mengembangkan enterprise-grade AI agents. Mengutip laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Jagmeet Singh, langkah ini dilakukan seiring dengan transformasi industri layanan IT global akibat gelombang otomasi yang dipicu oleh Large Language Models (LLM).
Melansir data dari kemitraan tersebut, Infosys berencana mengintegrasikan model Claude milik Anthropic ke dalam platform Topaz AI mereka untuk membangun sistem yang disebut sebagai "agentic". Perusahaan mengklaim bahwa AI Agent ini akan mampu menangani alur kerja perusahaan yang kompleks secara otonom di berbagai sektor seperti perbankan, telekomunikasi, dan manufaktur. Kesepakatan ini diumumkan dalam acara AI Impact Summit di New Delhi minggu ini.
Menghadapi Ancaman Disrupsi AI
Kerja sama ini muncul di tengah ketakutan bahwa alat AI, terutama yang dibangun oleh laboratorium besar seperti Anthropic dan OpenAI, akan mengganggu industri layanan IT India yang bernilai $280 miliar. Model bisnis outsourcing yang padat karya kini dipertanyakan masa depannya.
Pada awal bulan ini, saham perusahaan IT India sempat mengalami terjun bebas setelah Anthropic meluncurkan rangkaian alat Enterprise AI yang diklaim mampu mengotomatisasi tugas-tugas di bidang hukum, penjualan, pemasaran, hingga riset. Melalui kemitraan ini, Infosys mendapatkan akses ke model Claude dan alat pengembang untuk membangun AI Agent yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan besar. Infosys juga mulai menerapkan Claude Code secara internal untuk membantu menulis, menguji, dan melakukan debug kode program.
Infosys merinci bahwa layanan terkait AI telah menyumbang pendapatan sebesar ₹25 miliar (sekitar $275 juta) atau 5,5% dari total pendapatan perusahaan pada kuartal Desember. Sebagai perbandingan, rivalnya, Tata Consultancy Services (TCS), sebelumnya menyatakan bahwa layanan AI mereka menghasilkan sekitar $1,8 miliar per tahun.
Ekspansi Anthropic ke Asia
Bagi Anthropic, kemitraan ini menawarkan jalur masuk ke sektor perusahaan yang teregulasi ketat, di mana penerapan sistem AI dalam skala besar memerlukan keahlian industri dan kapabilitas tata kelola.
"Ada celah besar antara model AI yang berfungsi dalam demo dengan model yang berfungsi di industri teregulasi," ujar Dario Amodei, co-founder dan CEO Anthropic. Ia menambahkan bahwa pengalaman Infosys di sektor layanan keuangan dan telekomunikasi membantu menjembatani celah tersebut.
Anthropic juga baru saja membuka kantor pertamanya di India yang berlokasi di Bengaluru. Saat ini, India menyumbang sekitar 6% dari penggunaan Claude secara global, menjadikannya pasar terbesar kedua setelah AS, dengan aktivitas utama terkonsentrasi pada bidang pemrograman.
Dampak bagi Indonesia
Langkah strategis Infosys ini memberikan sinyal penting bagi pasar teknologi di Indonesia:
- Transformasi Sektor BPO dan Layanan IT: Perusahaan penyedia jasa IT di Indonesia perlu segera mengadopsi teknologi AI Agent untuk tetap kompetitif. Nilai industri IT India yang mencapai Rp4.300 triliun lebih menunjukkan bahwa skala disrupsi ini sangat masif dan akan merembet ke pasar regional.
- Kebutuhan Enterprise AI yang Teregulasi: Mengingat banyaknya sektor perbankan dan telekomunikasi di Indonesia yang terikat regulasi ketat, kolaborasi antara penyedia layanan IT lokal dengan platform AI seperti Anthropic dapat menjadi standar baru dalam penerapan Cloud Computing dan Generative AI yang aman.
- Peningkatan Skill Pengembang: Dengan meluasnya penggunaan Claude Code, talenta digital di Indonesia harus mulai beralih dari sekadar koding manual menuju peran yang lebih strategis dalam mengelola sistem AI otonom.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


