Ad space available
Flapping Airplanes Raih $180 Juta: Ambisi AI yang Melampaui Otak Manusia
Lab AI Flapping Airplanes mendapatkan pendanaan seed sebesar $180 juta untuk mengembangkan model yang belajar seefisien otak manusia. Proyek ini bertujuan memangkas ketergantungan data hingga 1.000 kali lipat.

Flapping Airplanes Raih $180 Juta: Ambisi AI yang Melampaui Otak Manusia
SAN FRANCISCO, (10 Februari 2026)
- Flapping Airplanes mengamankan seed funding sebesar $180 juta dari investor elit seperti Sequoia, Google Ventures (GV), dan Index.
- Lab ini berupaya menciptakan model AI yang 1.000 kali lebih efisien dalam penggunaan data dengan meniru mekanisme pembelajaran manusia.
- Startup ini mewakili generasi "neolabs" yang memprioritaskan riset fundamental AI di atas komersialisasi produk instan.
Mengutip laporan dari TechCrunch, lab AI baru bernama Flapping Airplanes baru saja mengamankan pendanaan tahap awal (seed funding) yang sangat besar senilai $180 juta. Investasi ini dipimpin oleh raksasa modal ventura seperti Sequoia Capital, Google Ventures (GV), dan Index Ventures, sebuah angka yang luar biasa bagi perusahaan yang bahkan belum meluncurkan produk komersial.
Didirikan oleh Ben Spector, Asher Spector, dan Aidan Smith, Flapping Airplanes hadir dengan visi radikal: mengubah cara Machine Learning bekerja. Alih-alih menggunakan metode saat ini yang "menyedot" seluruh data dari internet untuk melatih LLM, mereka ingin membangun sistem yang belajar dengan efisiensi data layaknya manusia.
Filosofi "Brain is the Floor"
Dalam wawancara eksklusif di podcast Equity, tim pendiri menjelaskan bahwa mereka menganggap kemampuan otak manusia sebagai "lantai" (batas bawah), bukan "langit-langit" (batas atas) bagi potensi AI. Saat ini, model Generative AI populer membutuhkan triliunan token data untuk memahami satu konsep, sementara manusia hanya butuh beberapa contoh saja.
Flapping Airplanes menargetkan peningkatan efisiensi data hingga 1.000 kali lipat. Pendekatan ini merupakan bagian dari gerakan "neolabs", di mana fokus utama dialihkan kembali ke riset fundamental untuk memecahkan hambatan teknis terbesar dalam pengembangan AI, seperti kebutuhan akan GPU masif dan konsumsi energi Data Center yang ekstrem.
Strategi mereka juga unik dalam hal rekrutmen, di mana mereka lebih memprioritaskan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah dibandingkan sekadar gelar akademis atau kredibilitas formal di bidang AI konvensional.
Dampak bagi Indonesia
Suntikan dana $180 juta atau sekitar Rp2,84 triliun (kurs Rp15.800) ini memiliki implikasi signifikan bagi lanskap teknologi di tanah air:
- Aksesibilitas Teknologi AI: Jika teknologi pembelajaran efisien ini terwujud, startup di Indonesia dapat melatih AI canggih menggunakan infrastruktur yang jauh lebih murah. Ini akan mengurangi ketergantungan pada Cloud Computing global yang memakan biaya devisa besar.
- Pelatihan dengan Data Lokal yang Terbatas: Salah satu hambatan AI di Indonesia adalah kurangnya dataset lokal yang masif dibandingkan bahasa Inggris. Dengan model yang 1.000x lebih efisien, pengembangan AI yang memahami konteks budaya dan bahasa daerah di Indonesia menjadi jauh lebih layak dilakukan dengan data yang terbatas.
- Efisiensi Energi dan ESG: Sejalan dengan komitmen Indonesia menuju ekonomi hijau, pengurangan kebutuhan Data Center raksasa untuk pelatihan AI akan membantu perusahaan teknologi lokal mencapai target keberlanjutan mereka.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


