Ad space available
Startup Eragon Raih $12 Juta, Ubah Software Enterprise Jadi Sistem Prompt
Startup Eragon meraih pendanaan seed senilai $12 juta untuk membangun AI operating system yang mengganti tombol tradisional dengan antarmuka prompt.

Eragon: Startup yang Ingin Mengganti Tombol Software Enterprise dengan Prompt
SAN FRANCISCO, (18 Maret 2026)
- Eragon meraih pendanaan awal senilai $12 juta dengan valuasi pasca-pendanaan mencapai $100 juta untuk membangun AI operating system bagi perusahaan.
- Visi utamanya adalah menggantikan antarmuka tradisional (buttons dan menus) dengan interaksi berbasis prompt menggunakan LLM.
- Sistem ini mengutamakan keamanan dengan menjaga data tetap berada di server internal pelanggan dan menggunakan model open-source yang di-optimasi secara khusus.
Setiap teknologi baru menciptakan lingkungan kerja baru, namun peran AI dalam mengubah cara kita bekerja masih menjadi teka-teki. Melansir laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Tim Fernholz, sebuah startup bernama Eragon menawarkan visi di mana antarmuka perangkat lunak konvensional akan menghilang sepenuhnya.
Didirikan oleh Josh Sirota pada Agustus lalu, Eragon baru saja mengamankan pendanaan seed sebesar $12 juta. Sirota, yang memiliki pengalaman luas di tim go-to-market Oracle dan Salesforce, membawa tesis berani: "Software sudah mati." Baginya, era tombol, kotak dialog, dan menu tarik-turun adalah masa lalu, karena masa depan bisnis akan dijalankan melalui prompt.
Eragon berupaya menawarkan seluruh rangkaian perangkat lunak bisnis—seperti Salesforce, Snowflake, Tableau, hingga Jira—melalui antarmuka LLM. Tim teknis mereka, yang mencakup PhD dari Berkeley dan MIT, membangun tech stack yang memungkinkan eksekutif meminta analisis data atau melakukan tindakan operasional hanya dengan bahasa alami.
Dalam demonstrasi teknisnya, Eragon menunjukkan kemampuannya melakukan post-train pada model open-source seperti Qwen dan Kimi menggunakan dataset spesifik pelanggan. Sistem ini kemudian dihubungkan ke akun email perusahaan dan sumber daya lainnya. Sebagai contoh, pengguna bisa meminta software untuk membuat dashboard baru atau melakukan otomatisasi persetujuan faktur (invoice approval) secara instan.
Aspek keamanan menjadi nilai jual utama Eragon. Berbeda dengan solusi yang bergantung pada API pihak ketiga, data perusahaan tetap berada di dalam server atau Cloud Computing internal mereka. Pelanggan memiliki bobot model (model weights) mereka sendiri, yang menurut Sirota akan menjadi aset perusahaan yang sangat berharga di masa depan.
Langkah Eragon ini sejalan dengan pernyataan CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam konferensi GTC baru-baru ini. Huang berpendapat bahwa alat AI Agent untuk enterprise akan menggantikan pendekatan tradisional dalam pekerjaan kantoran. "Setiap perusahaan SaaS akan bertransformasi menjadi Agentic as a Service," ungkap Huang.
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran teknologi seperti Eragon memiliki relevansi tinggi bagi lanskap korporasi dan regulasi di Indonesia:
- Kepatuhan Data (UU PDP): Dengan fokus pada on-premise atau private cloud deployment, solusi Eragon sangat cocok dengan regulasi Perlindungan Data Pribadi di Indonesia yang memperketat pengolahan data sensitif di luar infrastruktur perusahaan.
- Investasi Teknologi: Pendanaan sebesar $12 juta (sekitar Rp189 miliar) menunjukkan pergeseran minat investor global ke arah AI terapan. Perusahaan besar di Indonesia (seperti perbankan dan manufaktur) dapat memanfaatkan model ini untuk memangkas waktu pelatihan karyawan dalam mengoperasikan software kompleks.
- Efisiensi Operasional: Alih-alih mengandalkan lisensi mahal untuk ribuan kursi SaaS dengan UI rumit, perusahaan lokal dapat mulai melirik sistem AI Agent yang dapat mengonsolidasi berbagai fungsi bisnis dalam satu antarmuka percakapan.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


