Advertisement

Ad space available

Berita AI

Eksodus Ilmu Komputer: Mahasiswa Kini Berbondong-bondong Pindah ke Jurusan AI

Pendaftaran jurusan Computer Science di Amerika Serikat mengalami penurunan drastis seiring beralihnya minat mahasiswa ke program spesialisasi Artificial Intelligence.

Tim Rekayasa AI
Penulis
15 Februari 2026
4 min read
#Artificial Intelligence#Computer Science#Edutech#Pendidikan Tinggi#Teknologi
Eksodus Ilmu Komputer: Mahasiswa Kini Berbondong-bondong Pindah ke Jurusan AI

Eksodus Ilmu Komputer: Mahasiswa Kini Berbondong-bondong Pindah ke Jurusan AI

SAN FRANCISCO, (15 Februari 2026)

Key Takeaway
  1. Pendaftaran jurusan Computer Science (CS) di universitas UC turun 6% tahun ini, penurunan pertama sejak jatuhnya era dot-com.
  2. Mahasiswa beralih ke jurusan spesifik Artificial Intelligence, seperti yang terlihat pada lonjakan pendaftaran di MIT dan UC San Diego.
  3. China memimpin persaingan global dengan mewajibkan literasi AI sebagai infrastruktur pendidikan esensial di berbagai universitas top.

Fenomena aneh tengah terjadi di berbagai kampus University of California (UC) pada semester ini. Mengutip laporan dari TechCrunch dan data San Francisco Chronicle, pendaftaran untuk jurusan Computer Science mengalami penurunan sebesar 6% tahun ini, menyusul penurunan 3% pada tahun 2024. Padahal, secara nasional, pendaftaran perguruan tinggi di Amerika Serikat justru naik 2%.

Satu-satunya pengecualian yang mencolok adalah UC San Diego, yang merupakan satu-satunya kampus UC dengan jurusan Artificial Intelligence khusus yang diluncurkan musim gugur ini. Melansir data dari National Student Clearinghouse Research Center, tren ini mengindikasikan bahwa mahasiswa bukan meninggalkan dunia teknologi, melainkan meninggalkan gelar CS tradisional demi program yang lebih spesifik pada kecerdasan buatan.

Pergeseran Global dan Dominasi China

Pergeseran ini kemungkinan besar bukan sekadar fluktuasi sementara, melainkan indikator masa depan industri. China telah lebih dulu merangkul perubahan ini. Berdasarkan laporan MIT Technology Review, universitas-universitas di China memperlakukan Artificial Intelligence bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai infrastruktur esensial.

Di Universitas Zhejiang, mata kuliah Artificial Intelligence kini bersifat wajib. Sementara itu, institusi papan atas seperti Universitas Tsinghua telah mendirikan perguruan tinggi interdisipliner AI yang baru. Di China, kefasihan terhadap AI bukan lagi pilihan, melainkan syarat dasar untuk bersaing di pasar kerja.

Universitas di Amerika Serikat pun mulai berbenah. Jurusan "AI and decision-making" di MIT kini menjadi jurusan terbesar kedua di kampus tersebut. University of South Florida juga melaporkan lebih dari 3.000 mahasiswa mendaftar di perguruan tinggi AI dan Cybersecurity baru mereka. Langkah serupa diambil oleh University at Buffalo dengan meluncurkan departemen "AI and Society".

Resistensi dan Kekhawatiran Orang Tua

Transisi ini tidak selalu berjalan mulus. Di UNC Chapel Hill, Chancellor Lee Roberts menghadapi tantangan dari para pengajar. Meskipun universitas mencoba menggabungkan sekolah untuk membentuk entitas yang berfokus pada AI, sebagian fakultas masih bersikap skeptis.

"Tidak ada perusahaan yang akan melarang lulusan menggunakan AI di dunia kerja, namun kita memiliki anggota fakultas yang secara efektif mengatakan hal itu sekarang," ujar Roberts.

Di sisi lain, orang tua juga turut andil dalam pergeseran ini. David Reynaldo dari konsultansi College Zoom mencatat bahwa orang tua yang dulunya mendorong anak-anak mereka ke Computer Science, kini mulai mengarahkan mereka ke teknik mesin atau teknik elektro yang dianggap lebih tahan terhadap automasi AI.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena global ini memberikan sinyal penting bagi lanskap pendidikan tinggi dan industri teknologi di Indonesia:

  1. Relevansi Kurikulum: Kampus-kampus besar seperti UI, ITB, dan BINUS University perlu mempercepat integrasi kurikulum spesifik Artificial Intelligence agar lulusannya tetap kompetitif. Gelar Computer Science umum mungkin mulai kehilangan daya tawarnya jika tidak dibarengi dengan keahlian Generative AI atau Machine Learning.
  2. Pasar Kerja: Perusahaan teknologi di Indonesia (GoTo, Traveloka, dsb.) diprediksi akan menggeser permintaan dari pengembang perangkat lunak umum menjadi AI Engineer. Dengan gaji entry-level di bidang AI yang bisa mencapai Rp15 juta - Rp25 juta per bulan, minat mahasiswa lokal diprediksi akan mengikuti tren global.
  3. Kesenjangan Literasi: Indonesia berisiko tertinggal dari China jika AI hanya dianggap sebagai alat bantu (tools) dan bukan sebagai kompetensi dasar dalam sistem pendidikan nasional.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin