Ad space available
CEO Databricks: SaaS Tidak Mati, Tapi AI Akan Membuatnya Tidak Relevan
CEO Databricks, Ali Ghodsi, memprediksi bahwa AI akan mengubah fundamental industri SaaS melalui antarmuka bahasa alami. Meskipun SaaS tidak mati, relevansinya terancam oleh kompetitor AI-native.

CEO Databricks: SaaS Tidak Mati, Tapi AI Akan Membuatnya Tidak Relevan
SAN FRANCISCO, (9 Februari 2026)
- Databricks mencatat revenue run-rate sebesar US$5,4 miliar dengan pertumbuhan 65% YoY, di mana US$1,4 miliar berasal dari produk AI.
- CEO Ali Ghodsi menyatakan ancaman utama AI terhadap SaaS bukanlah penggantian data, melainkan hilangnya ketergantungan pada antarmuka pengguna (UI) tradisional.
- Perusahaan secara resmi menutup putaran pendanaan besar senilai US$5 miliar dengan valuasi mencapai US$134 miliar.
Pada hari Senin, Databricks mengumumkan pencapaian finansial yang signifikan dengan revenue run-rate menyentuh angka US$5,4 miliar. Melansir data dari TechCrunch, pertumbuhan ini mencapai 65% secara tahunan (year-over-year), dengan lini produk AI menyumbang lebih dari US$1,4 miliar dari total pendapatan tersebut.
Founder sekaligus CEO Databricks, Ali Ghodsi, mengungkapkan angka-angka pertumbuhan ini untuk menepis narasi bahwa AI akan mematikan bisnis SaaS (Software as a Service). Bagi Databricks, kehadiran Generative AI justru meningkatkan penggunaan Cloud Computing dan layanan data mereka.
Meski demikian, Ghodsi memberikan peringatan keras bagi industri SaaS. Menurutnya, AI tidak akan serta-merta mengganti system of record—tempat perusahaan menyimpan data krusial seperti penjualan atau keuangan—karena memindahkan data tersebut sangatlah sulit. Namun, AI akan membuat produk SaaS menjadi tidak relevan dengan cara mengganti user interface (UI) tradisional menjadi bahasa alami (natural language).
Pergeseran ke Antarmuka Bahasa Alami
Ghodsi menyoroti salah satu produk AI milik Databricks yang bernama Genie, sebuah antarmuka LLM yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan Data Warehouse menggunakan bahasa sehari-hari. Jika sebelumnya analisis data memerlukan bahasa kueri khusus atau pemrograman laporan, kini siapa pun dapat melakukannya melalui Prompt Engineering sederhana.
"Jutaan orang di seluruh dunia dilatih untuk menggunakan antarmuka pengguna tersebut (Salesforce, SAP, atau ServiceNow). Itulah parit pertahanan (moat) terbesar bagi bisnis-bisnis tersebut," peringat Ghodsi. Begitu antarmuka berubah menjadi bahasa alami, produk tersebut menjadi "invisible" seperti pipa air yang tidak terlihat oleh pengguna.
Hal ini membuka peluang bagi kompetitor AI-native untuk menawarkan alternatif yang lebih optimal bagi AI Agent. Sebagai langkah antisipasi, Databricks telah meluncurkan Lakebase, sebuah database yang dirancang khusus untuk AI Agent. Dalam delapan bulan pertama, Lakebase mencatatkan pendapatan dua kali lipat lebih besar dibandingkan produk Data Warehouse tradisional pada usia yang sama.
Status IPO dan Pendanaan
Bersamaan dengan laporan pertumbuhan ini, Databricks resmi menutup putaran pendanaan sebesar US$5 miliar dengan valuasi fantastis US$134 miliar. Perusahaan juga mendapatkan fasilitas pinjaman senilai US$2 miliar.
Meski memiliki modal yang sangat kuat, Ghodsi menyatakan bahwa perusahaan belum berencana untuk melakukan IPO (Initial Public Offering) dalam waktu dekat. "Sekarang bukan waktu yang tepat untuk go public," ujarnya. Ia lebih memilih perusahaan memiliki kapitalisasi yang kuat untuk melindungi diri jika kondisi pasar kembali memburuk seperti pasca-ZIRP tahun 2022.
Dampak bagi Indonesia
Fenomena yang dipaparkan Ali Ghodsi memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:
- Reorientasi Skill Tenaga Kerja TI: Dengan nilai revenue run-rate US$5,4 miliar (sekitar Rp84,5 triliun), dominasi Databricks menunjukkan arah pasar global. Tenaga kerja TI di Indonesia yang selama ini fokus menjadi spesialis UI produk SaaS tertentu (seperti SAP atau Salesforce) harus mulai beralih mendalami integrasi AI Agent dan LLM agar tetap relevan.
- Adopsi AI-Native di Sektor Fintech: Perusahaan Fintech dan Enterprise di Indonesia kemungkinan besar akan mulai melirik solusi seperti Lakebase atau Genie untuk mempercepat pengambilan keputusan berbasis data tanpa harus bergantung pada tim analis data yang besar.
- Efisiensi Operasional: Pergeseran ke antarmuka bahasa alami akan mendemokratisasi akses data di perusahaan-perusahaan Indonesia, memungkinkan staf non-teknis untuk melakukan analisis kompleks secara mandiri, yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas nasional.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


