Advertisement

Ad space available

Berita AI

Blackstone Suntik Neysa USD 1,2 Miliar Bangun Infrastruktur AI India

Startup infrastruktur AI Neysa mengamankan pendanaan hingga USD 1,2 miliar dari Blackstone untuk ekspansi GPU. Langkah ini memperkuat ambisi India membangun kedaulatan komputasi AI domestik.

Tim Rekayasa AI
Penulis
16 Februari 2026
4 min read
#GPU#Infrastruktur AI#Blackstone#Neysa#Data Center
Blackstone Suntik Neysa USD 1,2 Miliar Bangun Infrastruktur AI India

Blackstone Suntik Neysa USD 1,2 Miliar Bangun Infrastruktur AI India

MUMBAI, (15 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Neysa mengamankan pendanaan ekuitas hingga USD 600 juta dari Blackstone, menjadikannya pemegang saham mayoritas.
  • Startup ini berencana menambah USD 600 juta dalam bentuk debt financing untuk memperluas kapasitas hingga lebih dari 20.000 GPU.
  • Investasi ini menargetkan pemenuhan permintaan komputasi AI lokal bagi sektor pemerintah dan perusahaan di India.

Melansir laporan dari TechCrunch, startup infrastruktur AI asal India, Neysa, telah mendapatkan dukungan finansial besar dari perusahaan private equity ternama asal Amerika Serikat, Blackstone. Langkah strategis ini dilakukan di tengah ambisi besar India untuk membangun kemampuan AI domestik yang mandiri.

Blackstone bersama konsorsium investor yang mencakup Teachers’ Venture Growth, TVS Capital, 360 ONE Assets, dan Nexus Venture Partners, telah sepakat untuk menginvestasikan hingga USD 600 juta dalam bentuk primary equity. Kesepakatan ini memberikan Blackstone kepemilikan saham mayoritas. Selain itu, Neysa yang berbasis di Mumbai ini berencana menggalang dana tambahan sebesar USD 600 juta melalui debt financing guna memperluas kapasitas GPU, sebuah lonjakan signifikan dari pendanaan sebelumnya yang hanya sebesar USD 50 juta.

Munculnya Tren "Neo-Clouds"

Investasi ini hadir saat permintaan global akan komputasi AI melonjak drastis, yang menyebabkan keterbatasan pasokan chip khusus serta kapasitas Data Center untuk melatih dan menjalankan model besar. Fenomena ini memicu lahirnya penyedia infrastruktur khusus AI atau sering disebut sebagai "neo-clouds".

Berbeda dengan hyperscalers tradisional, neo-clouds seperti Neysa menawarkan kapasitas GPU khusus dan penerapan yang lebih cepat. Neysa memposisikan diri sebagai penyedia infrastruktur GPU-first yang disesuaikan untuk korporasi, lembaga pemerintah, dan pengembang AI di India yang membutuhkan latensi rendah dan kepatuhan terhadap regulasi lokal.

"Banyak pelanggan menginginkan pendampingan dan dukungan 24 jam dengan respon 15 menit. Hal-hal seperti inilah yang kami sediakan, yang terkadang tidak bisa diberikan oleh penyedia hyperscalers besar," ungkap CEO dan Co-founder Neysa, Sharad Sanghi.

Proyeksi Pertumbuhan GPU di India

Ganesh Mani, Senior Managing Director di Blackstone Private Equity, memperkirakan bahwa saat ini India memiliki kurang dari 60.000 GPU yang terpasang. Namun, angka ini diprediksi akan melonjak hampir 30 kali lipat menjadi lebih dari dua juta unit dalam beberapa tahun ke depan.

Ekspansi ini didorong oleh permintaan dari sektor-sektor yang diatur ketat seperti layanan keuangan (Fintech) dan kesehatan yang diwajibkan menyimpan data secara lokal. Neysa saat ini mengoperasikan sekitar 1.200 GPU dan menargetkan penyebaran lebih dari 20.000 GPU seiring meningkatnya permintaan beban kerja AI.

Dana baru ini akan digunakan untuk membangun cluster GPU skala besar, mencakup infrastruktur Cloud Computing, jaringan (networking), dan penyimpanan (storage). Sebagian kecil lainnya akan dialokasikan untuk riset dan pengembangan (R&D) serta pembangunan platform perangkat lunak untuk orchestration, observability, dan cybersecurity.

Dampak bagi Indonesia

Investasi masif Blackstone ke Neysa di India memberikan gambaran krusial bagi lanskap teknologi di Indonesia:

  1. Kedaulatan Data dan AI: Nilai investasi USD 1,2 miliar (sekitar Rp18,8 triliun) ini menunjukkan betapa mahalnya biaya membangun kedaulatan digital. Indonesia, yang memiliki regulasi pelokalan data serupa, dapat melihat ini sebagai referensi bagi startup lokal untuk membangun penyedia GPU domestik guna mengurangi ketergantungan pada server luar negeri.
  2. Peluang Sektor Enterprise: Kebutuhan akan hand-holding dan dukungan teknis cepat yang ditawarkan Neysa adalah celah pasar yang juga ada di Indonesia, terutama bagi perusahaan BUMN dan perbankan yang ingin mengadopsi Generative AI namun terkendala isu privasi pada platform publik.
  3. Persaingan Infrastruktur Regional: Dengan kapasitas komputasi India yang melonjak, persaingan menarik talenta Machine Learning dan proyek AI Agent di tingkat regional akan semakin ketat, mendorong penyedia layanan di Indonesia untuk mempercepat pembangunan Data Center berbasis AI.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin