Advertisement

Ad space available

Berita AI

Benchmark Kucurkan $225 Juta untuk Cerebras, Rival Nvidia Bervaluasi Rp360 T

Benchmark Capital menggalang dana khusus $225 juta untuk memperkuat investasinya di Cerebras Systems, produsen chip AI raksasa. Startup ini kini memiliki valuasi fantastis sebesar $23 miliar pasca kontrak besar dengan OpenAI.

Tim Rekayasa AI
Penulis
7 Februari 2026
4 min read
#Cerebras Systems#Benchmark Capital#AI Chip#Semiconductor#Nvidia Rival
Benchmark Kucurkan $225 Juta untuk Cerebras, Rival Nvidia Bervaluasi Rp360 T

Benchmark Kucurkan $225 Juta untuk Cerebras, Penantang Serius Nvidia di Sektor Infrastruktur AI

SUNNYVALE, (7 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Cerebras Systems meraih pendanaan baru senilai $1 miliar, mendongkrak valuasinya menjadi $23 miliar (sekitar Rp360 triliun).
  • Benchmark Capital membentuk kendaraan investasi khusus senilai $225 juta demi menambah kepemilikan saham di rival utama Nvidia tersebut.
  • Perusahaan menargetkan melantai di bursa (IPO) pada kuartal kedua 2026 setelah mengamankan kontrak $10 miliar dengan OpenAI.

Minggu ini, produsen chip AI raksasa, Cerebras Systems, mengumumkan perolehan modal segar sebesar $1 miliar dengan valuasi mencapai $23 miliar. Mengutip laporan dari TechCrunch, angka ini merepresentasikan lonjakan hampir tiga kali lipat dari valuasi $8,1 miliar yang dicapai perusahaan hanya dalam enam bulan sebelumnya.

Melansir data yang dihimpun oleh jurnalis Marina Temkin, meskipun putaran pendanaan ini dipimpin oleh Tiger Global, kontribusi signifikan datang dari investor kawakan Silicon Valley, Benchmark Capital. Benchmark dilaporkan mengucurkan setidaknya $225 juta melalui dua kendaraan investasi khusus bernama 'Benchmark Infrastructure' yang dibentuk khusus untuk mendanai investasi di Cerebras.

Keunggulan Teknologi Wafer Scale Engine

Apa yang membuat Cerebras menonjol dibandingkan kompetitornya adalah skala fisik prosesornya yang masif. Produk unggulan mereka, Wafer Scale Engine (WSE), memiliki ukuran sekitar 8,5 inci di setiap sisi dan mengintegrasikan 4 triliun transistor ke dalam satu keping silikon tunggal.

Berbeda dengan chip tradisional yang merupakan potongan kecil dari sebuah Silicon Wafer 300mm, Cerebras menggunakan hampir seluruh permukaan wafer tersebut. Arsitektur ini menyediakan 900.000 core khusus yang bekerja secara paralel, memungkinkan sistem memproses kalkulasi AI tanpa hambatan distribusi data antar chip yang sering menjadi bottleneck pada kluster GPU konvensional. Perusahaan mengklaim teknologi ini mampu menjalankan tugas AI Inference hingga 20 kali lebih cepat dibandingkan sistem pesaing.

Kontrak Raksasa dengan OpenAI dan Rencana IPO

Langkah strategis Cerebras semakin diperkuat dengan kesepakatan multi-tahun senilai lebih dari $10 miliar (sekitar Rp157 triliun) bersama OpenAI yang ditandatangani bulan lalu. Melalui kerja sama ini, Cerebras akan menyediakan daya komputasi sebesar 750 megawatt hingga tahun 2028 untuk membantu OpenAI mempercepat waktu respons kueri AI yang kompleks.

Meski sempat menghadapi kendala regulasi terkait hubungan historisnya dengan perusahaan AI asal UEA, G42, Cerebras kini telah membersihkan daftar investornya dari entitas yang memicu kekhawatiran keamanan nasional AS. Dengan hambatan tersebut yang kini teratasi, Cerebras tengah bersiap untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) pada kuartal kedua 2026.

Dampak bagi Indonesia

Kenaikan valuasi Cerebras hingga $23 miliar (Rp360 triliun) menandakan pergeseran peta kekuatan di industri Semiconductor global yang selama ini didominasi oleh Nvidia. Bagi Indonesia, fenomena ini membawa beberapa dampak strategis:

  1. Efisiensi Biaya Data Center: Jika teknologi Wafer Scale Engine mulai diadopsi secara luas oleh penyedia Cloud Computing di Indonesia, biaya operasional untuk melatih Large Language Model (LLM) lokal berpotensi turun karena efisiensi energi dan performa yang lebih tinggi.
  2. Akses Teknologi AI Generative: Kontrak Cerebras dengan OpenAI kemungkinan besar akan mempercepat pengembangan fitur-fitur baru pada ChatGPT dan layanan OpenAI lainnya, yang merupakan alat produktivitas populer bagi pengguna dan pengembang di Indonesia.
  3. Dinamika Investasi Fintech dan Startup: Keberhasilan Benchmark dalam melakukan exit atau pendanaan lanjutan pada sektor infrastruktur AI dapat memicu minat modal ventura lokal untuk lebih melirik startup Deep Tech dan perangkat keras, bukan hanya startup berbasis aplikasi.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin