Advertisement

Ad space available

Berita AI

Anthropic Briefing Trump Soal Mythos, Model AI Cybersecurity Rahasia

Anthropic mengonfirmasi telah memberikan pengarahan kepada pemerintahan Trump mengenai Mythos, model AI terbaru dengan kemampuan cybersecurity tingkat tinggi yang tidak dirilis untuk publik.

Tim Rekayasa AI
Penulis
14 April 2026
4 min read
#Anthropic#Mythos AI#Cybersecurity#National Security#AI Governance
Anthropic Briefing Trump Soal Mythos, Model AI Cybersecurity Rahasia

Anthropic Briefing Trump Soal Mythos, Model AI Cybersecurity Rahasia

SAN FRANCISCO, (14 April 2026)

Key Takeaway
  • Mythos adalah model AI terbaru Anthropic yang sengaja tidak dirilis ke publik karena memiliki kemampuan Cybersecurity yang dianggap terlalu berbahaya.
  • Jack Clark (Co-founder Anthropic) mengonfirmasi keterlibatan perusahaan dengan administrasi Trump untuk membahas aspek National Security dari model tersebut.
  • Meski sempat bersitegang dengan Departemen Pertahanan AS, Anthropic kini mulai melakukan pengujian Mythos bersama bank-bank besar di Wall Street.

Mengutip laporan dari TechCrunch, salah satu pendiri Anthropic sekaligus Head of Public Benefit, Jack Clark, mengonfirmasi bahwa perusahaan telah memberikan pengarahan (briefing) kepada pemerintahan Trump mengenai model AI terbaru mereka yang bernama Mythos.

Melansir data yang diungkapkan dalam konferensi Semafor’s World Economy pekan ini, Clark menjelaskan bahwa model tersebut sangat berbahaya sehingga tidak dirilis untuk umum. Alasan utamanya adalah kemampuan Cybersecurity yang sangat kuat, yang jika disalahgunakan dapat mengancam infrastruktur digital secara masif.

Ketegangan Hukum dan Kerjasama Pemerintah

Konfirmasi ini muncul di saat yang cukup kontradiktif bagi Anthropic. Pada Maret 2026, Anthropic mengajukan gugatan terhadap Departemen Pertahanan (DOD) Amerika Serikat setelah lembaga tersebut melabeli perusahaan sebagai supply chain risk. Perselisihan ini bermula ketika Pentagon menuntut akses tanpa batas ke sistem AI Anthropic untuk keperluan pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom—sebuah kesepakatan yang akhirnya dimenangkan oleh OpenAI.

Namun, Clark menepis anggapan bahwa gugatan tersebut menghambat kerjasama mereka dengan pemerintah. Ia menyebut perselisihan itu hanyalah "sengketa kontrak yang sempit" dan menegaskan bahwa sektor swasta yang sedang merevolusi ekonomi melalui AI harus tetap bermitra dengan pemerintah, terutama terkait isu National Security.

Selain pemerintah, pejabat administrasi Trump dilaporkan telah mendorong sejumlah bank investasi raksasa seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Citigroup, Bank of America, dan Morgan Stanley untuk mulai menguji kapabilitas Mythos dalam sistem mereka.

Dampak Terhadap Tenaga Kerja

Selain membahas Mythos, Clark juga menanggapi kekhawatiran CEO Anthropic, Dario Amodei, tentang pengangguran massal akibat AI. Meski Amodei memprediksi angka pengangguran bisa menyamai era Great Depression, Clark sedikit tidak setuju. Berdasarkan data dari tim ekonom Anthropic, saat ini pelemahan baru terlihat pada penyerapan tenaga kerja lulusan baru (graduate employment) di industri tertentu.

Clark menyarankan agar mahasiswa saat ini fokus pada jurusan yang melibatkan kemampuan sintesis lintas subjek dan berpikir analitis. Menurutnya, AI memungkinkan seseorang mengakses keahlian subjek apa pun secara instan, namun kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan menghubungkan wawasan dari berbagai disiplin ilmu tetap akan menjadi nilai unik manusia.

Dampak bagi Indonesia

Kehadiran model AI berkekuatan tinggi seperti Mythos memiliki dampak langsung bagi lanskap teknologi di Indonesia:

  1. Standar Keamanan Siber: Jika perbankan global mulai mengadopsi model seperti Mythos, institusi finansial di Indonesia harus segera meningkatkan infrastruktur Cybersecurity mereka untuk mencegah ketertinggalan standar keamanan data nasabah.
  2. Kedaulatan Data dan AI: Pelabelan supply chain risk di AS memberikan pelajaran penting bagi pemerintah Indonesia dalam menyeleksi penyedia layanan Cloud Computing dan LLM asing yang digunakan dalam proyek strategis nasional.
  3. Transformasi Pendidikan: Sesuai saran Jack Clark, kurikulum di perguruan tinggi Indonesia perlu bergeser dari sekadar penguasaan teknis ke arah Critical Thinking dan kemampuan berinteraksi dengan AI Agent. Nilai ekonomi ke depan akan bergantung pada seberapa efektif talenta lokal mampu melakukan Prompt Engineering dan integrasi sistem AI.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin