Ad space available
Aneel Bhusri Kembali Jadi CEO Workday, Fokus Penuh pada Ekspansi AI
Pendiri Workday, Aneel Bhusri, kembali menjabat sebagai CEO untuk memimpin transisi perusahaan menuju era AI. Keputusan ini diambil setelah Carl Eschenbach resmi mengundurkan diri dari posisinya secara mendadak.

Pendiri Workday Aneel Bhusri Kembali Jadi CEO, Siap Pimpin Revolusi AI
PLEASANTON, (9 Februari 2026)
- Carl Eschenbach resmi mengundurkan diri dari jabatan CEO; salah satu pendiri, Aneel Bhusri, kembali memimpin perusahaan secara permanen.
- Fokus utama Workday di bawah kepemimpinan Bhusri adalah integrasi AI yang dianggap sebagai transformasi lebih besar dibandingkan SaaS.
- Transisi kepemimpinan ini dilakukan secara mendadak setelah periode restrukturisasi tenaga kerja yang signifikan pada tahun sebelumnya.
Melansir laporan dari TechCrunch, raksasa penyedia perangkat lunak Enterprise Resource Planning (ERP), Workday, mengumumkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) Carl Eschenbach resmi mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan dewan direksi perusahaan efektif segera. Sebagai gantinya, pendiri sekaligus mantan CEO Aneel Bhusri akan kembali mengambil alih posisi puncak tersebut.
Eschenbach bergabung dengan Workday pada Desember 2022 sebagai Co-CEO bersama Bhusri, dan telah menjabat sebagai CEO tunggal sejak Februari 2024. Sementara itu, Bhusri yang telah memimpin perusahaan sejak 2009—baik sebagai Co-CEO maupun CEO tunggal—sebelumnya menjabat sebagai Executive Chairman sejak awal 2024. Workday mengonfirmasi bahwa kembalinya Bhusri bersifat permanen, bukan sekadar pengisi jabatan sementara selama pencarian kandidat baru.
AI Sebagai Fokus Strategis Baru
Langkah strategis ini diambil seiring ambisi Workday untuk menjadikan AI sebagai inti dari babak pertumbuhan perusahaan selanjutnya. Dalam pernyataan resminya, Bhusri menekankan pentingnya momentum teknologi saat ini bagi masa depan industri perangkat lunak perusahaan.
"Kita sekarang memasuki salah satu momen paling menentukan dalam sejarah perusahaan," ujar Bhusri. "AI adalah transformasi yang lebih besar daripada SaaS—dan teknologi ini akan menentukan pemimpin pasar generasi berikutnya. Saya sangat bersemangat untuk kembali sebagai CEO dan bekerja bersama presiden kami, Gerrit Kazmaier dan Rob Enslin."
Perubahan kepemimpinan ini terjadi setahun setelah Workday melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 8,5% karyawannya atau sekitar 1.750 orang pada Februari 2025. Saat itu, Eschenbach menyatakan bahwa perusahaan membutuhkan pendekatan baru terhadap pengelolaan tenaga kerja di tengah maraknya adopsi Generative AI dan Cloud Computing.
Dampak bagi Indonesia
Perubahan di pucuk pimpinan Workday memiliki dampak langsung bagi ekosistem korporasi di Indonesia, mengingat banyaknya perusahaan besar dan unicorn lokal yang mengandalkan solusi HRIS dan ERP dari Workday untuk operasional mereka.
- Akselerasi Generative AI di Perusahaan Lokal: Dengan kembalinya Bhusri yang pro-AI, pengguna Workday di Indonesia kemungkinan besar akan segera melihat integrasi fitur AI Agent yang lebih agresif dalam platform manajemen SDM dan keuangan mereka.
- Kesesuaian dengan Regulasi Data: Implementasi AI yang lebih masif menuntut kesiapan perusahaan Indonesia dalam mematuhi UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), mengingat sistem Workday memproses data karyawan yang sangat sensitif di Cloud Computing.
- Efisiensi Biaya Operasional: Bagi sektor perbankan dan manufaktur di Indonesia yang menggunakan Workday, fitur AI baru diharapkan dapat mengoptimalkan efisiensi tenaga kerja tanpa harus menambah beban SDM administratif secara signifikan.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


