Ad space available
Aikido Siapkan Data Center Terapung di Bawah Turbin Angin Lepas Pantai
Startup Aikido berencana menempatkan unit data center di bawah turbin angin terapung guna mengatasi krisis energi AI. Inovasi ini memanfaatkan air laut sebagai pendingin alami dan mendekatkan server langsung ke sumber daya terbarukan.

Aikido Siapkan Data Center Terapung di Bawah Turbin Angin Lepas Pantai
OSLO, (4 Maret 2026)
- Aikido akan menguji coba Data Center 100 kilowatt yang terendam di bawah turbin angin terapung di Norwegia tahun ini.
- Solusi ini bertujuan mengatasi krisis listrik AI dengan mendekatkan infrastruktur server ke sumber energi terbarukan secara langsung.
- Penggunaan air laut dingin sebagai sistem pendingin alami diklaim dapat menekan biaya operasional secara signifikan dibandingkan fasilitas di darat.
Mengutip laporan dari TechCrunch, krisis pasokan daya untuk AI Data Center telah mencapai titik yang sangat krusial. Hal ini memicu berbagai inovasi radikal, mulai dari rencana peluncuran server ke luar angkasa hingga pemanfaatan dasar laut sebagai lokasi penempatan perangkat keras.
Melansir data dari pengembang turbin lepas pantai, Aikido, perusahaan ini berencana untuk menempatkan sebuah unit demonstrasi Data Center berkapasitas 100 kilowatt di bawah turbin angin terapung di lepas pantai Norwegia akhir tahun ini. Unit kecil ini akan ditempatkan di dalam pod yang terendam sebagai bagian dari struktur turbin tersebut.
Solusi Efisiensi Energi dan Pendinginan
Langkah menuju wilayah offshore ini diklaim dapat menyelesaikan beberapa tantangan utama industri. Pertama adalah kedekatan dengan sumber energi; karena server berada tepat di bawah turbin, akses listrik menjadi lebih stabil. Selain itu, angin di lepas pantai cenderung lebih konsisten dibandingkan di darat, dan penggunaan baterai dalam skala moderat dapat menutupi jeda pasokan energi.
Keunggulan lainnya adalah aspek pendinginan. Menempatkan server di bawah air laut yang dingin mempermudah proses regulasi suhu perangkat keras seperti GPU yang sangat panas saat menjalankan beban kerja AI. Hal ini jauh lebih sederhana dibandingkan teknik pendinginan rumit yang dibutuhkan jika server ditempatkan di ruang hampa udara luar angkasa.
Selain itu, penempatan di tengah laut dapat meredam penolakan dari kelompok masyarakat atau NIMBY groups ("not in my backyard") yang sering kali keberatan dengan pembangunan Data Center di pemukiman karena masalah kebisingan dan polusi visual.
Tantangan Teknis di Lingkungan Maritim
Meskipun menjanjikan, Aikido harus menghadapi kerasnya ekosistem laut. Air laut bersifat korosif, sehingga seluruh peralatan, termasuk kontainer, koneksi daya, dan transmisi data, harus melalui proses pengerasan (hardening) khusus. Meskipun terlindung dari hantaman gelombang karena berada di bawah permukaan, unit ini tetap harus dipastikan stabil dan tidak mudah bergoyang agar komponen Cloud Computing di dalamnya tetap berfungsi optimal.
Upaya menenggelamkan Data Center bukanlah hal baru. Microsoft pernah melakukan eksperimen serupa melalui Project Natick di lepas pantai Skotlandia pada 2018. Meskipun uji coba tersebut terbilang sukses dengan tingkat kegagalan server yang rendah, Microsoft memutuskan untuk menghentikan proyek tersebut pada tahun 2024.
Jika uji coba di Norwegia berjalan mulus, Aikido berencana membangun versi yang lebih besar di lepas pantai Inggris pada tahun 2028. Model tersebut diproyeksikan menggunakan turbin 15 MW hingga 18 MW untuk menyuplai daya bagi Data Center berkapasitas 10-12 MW.
Dampak bagi Indonesia
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, inovasi Data Center terapung memiliki potensi besar bagi Indonesia. Wilayah perairan Indonesia yang luas dapat dimanfaatkan untuk membangun ekosistem ekonomi digital hijau tanpa mengonsumsi lahan daratan yang terbatas di pulau-pulau padat seperti Jawa atau Bali.
Dari sisi ekonomi, efisiensi pendinginan dapat menekan biaya operasional Data Center di Indonesia yang saat ini masih terbebani tarif listrik industri (rata-rata di kisaran Rp1.400 - Rp1.600 per kWh). Jika teknologi ini diterapkan, perusahaan lokal dapat menawarkan layanan Cloud Computing dengan harga yang lebih kompetitif. Namun, regulasi mengenai kedaulatan data di wilayah perairan serta perlindungan infrastruktur bawah laut dari aktivitas maritim ilegal tetap menjadi tantangan regulasi yang harus disiapkan oleh pemerintah.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


