Ad space available
Google DeepMind Rilis Kerangka Kerja Kognitif untuk Mengukur Kemajuan AGI
Google DeepMind memperkenalkan taksonomi kognitif baru untuk mengevaluasi kemajuan menuju Artificial General Intelligence (AGI). Melalui kompetisi Kaggle berhadiah Rp3,1 miliar, komunitas AI diundang membangun tolok ukur kemampuan sistem masa depan.

Google DeepMind Rilis Kerangka Kerja Kognitif untuk Mengukur Kemajuan AGI
MOUNTAIN VIEW, (18 Maret 2026)
- Google DeepMind memperkenalkan taksonomi kognitif yang terdiri dari 10 kemampuan utama untuk mengukur progres Artificial General Intelligence (AGI).
- Perusahaan meluncurkan hackathon Kaggle dengan total hadiah USD 200.000 untuk mengembangkan sistem evaluasi AI pada aspek Learning, Metacognition, dan Social Cognition.
- Protokol evaluasi baru ini akan membandingkan performa sistem AI secara langsung dengan baseline kemampuan manusia dewasa yang representatif.
Melansir laporan resmi dari Google DeepMind, raksasa teknologi ini baru saja merilis makalah penelitian berjudul "Measuring Progress Toward AGI: A Cognitive Taxonomy". Langkah ini diambil untuk mengisi celah dalam metodologi evaluasi Artificial General Intelligence (AGI) yang selama ini dianggap kurang memiliki alat empiris yang memadai untuk mengukur kecerdasan umum secara objektif.
Dalam upaya memahami seberapa dekat peradaban dengan tonggak sejarah AGI, Google DeepMind mengusulkan fondasi ilmiah yang berakar pada ilmu kognitif. Mengutip data dari blog resmi perusahaan, kerangka kerja ini tidak hanya berfokus pada kekuatan komputasi, tetapi pada kemampuan sistem dalam menjalankan fungsi-fungsi mental yang kompleks seperti manusia.
Taksonomi 10 Kemampuan Kognitif Utama
Kerangka kerja ini menarik riset selama puluhan tahun dari bidang psikologi dan neurosains untuk mengidentifikasi 10 kemampuan kognitif yang krusial bagi AGI:
- Perception: Ekstraksi dan pemrosesan informasi sensorik.
- Generation: Produksi output seperti teks, suara, dan tindakan.
- Attention: Fokus sumber daya kognitif pada hal-hal penting.
- Learning: Akuisisi pengetahuan baru melalui pengalaman dan instruksi.
- Memory: Penyimpanan dan pengambilan informasi dalam jangka waktu tertentu.
- Reasoning: Penarikan kesimpulan valid melalui inferensi logis.
- Metacognition: Pengetahuan dan pemantauan terhadap proses kognitif diri sendiri.
- Executive Functions: Perencanaan, inhibisi, dan fleksibilitas kognitif.
- Problem Solving: Penemuan solusi efektif untuk masalah spesifik domain.
- Social Cognition: Interpretasi dan respons terhadap informasi sosial.
Untuk menguji kemampuan ini, Google DeepMind mengusulkan protokol evaluasi tiga tahap yang memetakan performa sistem AI terhadap distribusi performa manusia yang representatif secara demografis.
Hackathon Kaggle: Membangun Benchmarks Masa Depan
Sebagai langkah konkret dari teori menuju praktik, Google DeepMind bermitra dengan Kaggle untuk meluncurkan hackathon bertajuk "Measuring progress toward AGI: Cognitive abilities". Kompetisi ini menargetkan pengembangan evaluasi pada lima area dengan celah pengukuran terbesar, yakni Learning, Metacognition, Attention, Executive Functions, dan Social Cognition.
Para peserta dapat menggunakan platform Community Benchmarks dari Kaggle untuk menguji evaluasi mereka terhadap jajaran Frontier Models terkini. Total hadiah sebesar USD 200.000 telah disiapkan, dengan pengumuman pemenang dijadwalkan pada 1 Juni 2026.
Dampak bagi Indonesia
Peluncuran kerangka kerja kognitif AGI ini membawa dampak signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:
- Peluang Finansial dan Talenta Lokal: Total hadiah USD 200.000 setara dengan kurang lebih Rp3,13 miliar (kurs Rp15.650). Ini merupakan peluang besar bagi para praktisi Data Science dan pengembang AI di Indonesia untuk menunjukkan taji di kancah global melalui Kaggle.
- Standarisasi Regulasi AI: Bagi pemerintah dan regulator seperti Kemenkominfo atau BRIN, taksonomi kognitif ini dapat menjadi referensi dalam menyusun pedoman etika dan tata kelola AI di Indonesia. Fokus evaluasi bisa bergeser dari sekadar kapasitas Data Center ke penilaian kemampuan kognitif sistem yang aman dan bertanggung jawab.
- Riset Interdisipliner: Akademisi di Indonesia dapat mulai mengintegrasikan ilmu psikologi kognitif dengan kurikulum Machine Learning. Hal ini penting untuk menciptakan sistem AI yang lebih memahami konteks budaya dan norma sosial lokal melalui pengembangan Social Cognition yang lebih baik.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


