Advertisement

Ad space available

Berita AI

US Army Teken Kontrak US$20 Miliar dengan Anduril untuk Teknologi Pertahanan

US Army resmi menjalin kemitraan 10 tahun dengan Anduril Industries senilai hingga US$20 miliar. Kesepakatan ini menandai pergeseran besar militer AS menuju peperangan berbasis software dan sistem otonom.

Tim Rekayasa AI
Penulis
14 Maret 2026
3 min read
#Anduril#US Army#Defense Tech#AI#Palmer Luckey
US Army Teken Kontrak US$20 Miliar dengan Anduril untuk Teknologi Pertahanan

US Army Teken Kontrak US$20 Miliar dengan Anduril untuk Teknologi Pertahanan

WASHINGTON, (14 MARET 2026)

Key Takeaway
  • Kontrak senilai hingga US$20 miliar ini berlaku selama 10 tahun, mencakup penyediaan hardware, software, infrastruktur, dan layanan pertahanan.
  • Kesepakatan ini mengonsolidasi lebih dari 120 tindakan pengadaan terpisah menjadi satu kontrak korporat tunggal untuk efisiensi.
  • Anduril, yang didirikan oleh Palmer Luckey, kini menjadi pemain kunci dalam visi modernisasi militer AS melalui sistem otonom dan jet tempur tanpa awak.

Mengutip laporan dari TechCrunch, Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) pada Jumat malam mengumumkan penandatanganan kontrak jangka panjang dengan startup teknologi pertahanan, Anduril. Kesepakatan ambisius ini diproyeksikan memiliki nilai total mencapai US$20 miliar (sekitar Rp314 triliun).

Melansir data yang dihimpun oleh jurnalis Anthony Ha, kontrak ini akan dimulai dengan "periode dasar" selama lima tahun, dengan opsi perpanjangan untuk lima tahun berikutnya. Perjanjian ini mencakup seluruh spektrum solusi komersial Anduril, mulai dari hardware, software, hingga infrastruktur pendukung.

Pihak US Army mendeskripsikan langkah ini sebagai kontrak korporat tunggal yang bertujuan untuk menyederhanakan proses birokrasi. Sebelumnya, militer harus mengelola lebih dari 120 tindakan pengadaan (procurement actions) terpisah untuk mendapatkan solusi dari Anduril.

"Medan perang modern semakin ditentukan oleh software," ujar Gabe Chiulli, Chief Technology Officer di Kantor Chief Information Officer Departemen Pertahanan AS (DoD), dalam sebuah pernyataan resmi. "Untuk mempertahankan keunggulan, kita harus mampu memperoleh dan menyebarkan kapabilitas software dengan kecepatan dan efisiensi tinggi."

Ambisi Palmer Luckey dan Dominasi Anduril

Anduril didirikan bersama oleh Palmer Luckey, sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pendiri startup VR Oculus sebelum diakuisisi oleh Facebook (kini Meta). Kehadiran Anduril di panggung pertahanan global semakin kuat, terutama dengan visinya merombak militer AS menggunakan jet tempur otonom, drone, hingga kapal selam nirawak.

Laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa Anduril telah meraup pendapatan sekitar US$20 miliar pada tahun lalu. Saat ini, perusahaan yang namanya diambil dari objek magis dalam "The Lord of the Rings" tersebut dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk putaran pendanaan baru dengan target valuasi mencapai US$60 miliar.

Langkah besar US Army ini muncul di tengah ketegangan antara Departemen Pertahanan AS dengan beberapa raksasa teknologi lainnya. Anthropic saat ini tengah menggugat DoD atas penetapan risiko rantai pasokan, sementara OpenAI menghadapi reaksi keras dari publik dan pengunduran diri eksekutif setelah menandatangani kontrak dengan Pentagon.

Dampak bagi Indonesia

Nilai kontrak US$20 miliar atau sekitar Rp314 triliun ini memberikan gambaran betapa masifnya investasi negara maju dalam teknologi pertahanan otonom. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki beberapa implikasi strategis:

  1. Modernisasi Alutsista: Indonesia, melalui program Minimum Essential Force (MEF), dapat melihat tren ini sebagai sinyal untuk lebih serius mengadopsi teknologi otonom dan AI dalam menjaga kedaulatan wilayah, terutama di area maritim yang luas.
  2. Peluang Startup Defense-Tech Lokal: Keberhasilan Anduril membuktikan bahwa startup teknologi bisa mendisrupsi pemain lama di industri pertahanan. Ini menjadi peluang bagi startup lokal Indonesia untuk mengembangkan solusi Cybersecurity atau sistem pengawasan berbasis AI yang lebih terjangkau namun efektif.
  3. Hukum dan Etika AI: Penggunaan sistem otonom dalam skala besar oleh AS akan mendorong percepatan regulasi internasional terkait etika perang berbasis AI, yang nantinya harus diadopsi atau direspons oleh pemerintah Indonesia dalam kebijakan pertahanan nasional.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin