Advertisement

Ad space available

Berita AI

Uber 'Assetmaxxing': Strategi $10 Miliar untuk Dominasi Kendaraan Otonom

Uber bertransformasi dari model bisnis aset ringan menjadi 'assetmaxxing' dengan alokasi dana $10 miliar untuk armada Robotaxi. Strategi ini memperkuat posisi Uber melalui kemitraan strategis dengan pemain teknologi otonom global.

Tim Rekayasa AI
Penulis
19 April 2026
4 min read
#Uber#Robotaxi#Kendaraan Otonom#Investasi#Teknologi
Uber 'Assetmaxxing': Strategi $10 Miliar untuk Dominasi Kendaraan Otonom

Uber 'Assetmaxxing': Strategi $10 Miliar untuk Dominasi Kendaraan Otonom

SAN FRANCISCO, (19 April 2026)

Key Takeaway
  • Uber berkomitmen mengalokasikan dana lebih dari $10 miliar untuk investasi ekuitas dan pengadaan armada Robotaxi secara masif.
  • Perusahaan beralih dari model 'asset-light' ke strategi 'assetmaxxing' untuk mengontrol aset fisik kendaraan otonom.
  • Kemitraan strategis dijalin dengan pengembang teknologi kunci seperti Rivian, Wayve, dan Lucid.

Melansir laporan dari TechCrunch Mobility, Uber kini secara resmi memasuki era yang disebut sebagai "assetmaxxing". Setelah bertahun-tahun mencoba menjadi perusahaan yang minim aset fisik, raksasa ride-hailing ini kini berkomitmen menggelontorkan dana lebih dari $10 miliar (sekitar Rp162 triliun) untuk mengakuisisi kendaraan otonom dan mengambil saham di perusahaan pengembang teknologinya.

Langkah ini menandai kembalinya Uber ke dunia kepemilikan aset fisik, namun dengan pendekatan yang lebih terukur dibandingkan sebelumnya. Sekitar $2,5 miliar dialokasikan sebagai investasi langsung, sementara $7,5 miliar sisanya akan digunakan untuk membeli armada Robotaxi dalam beberapa tahun ke depan.

Pergeseran Strategi dan Kemitraan Global

Antara tahun 2015 dan 2020, Uber sempat mencoba mengembangkan teknologi otonom secara internal melalui unit ATG, namun akhirnya menjual unit tersebut untuk merampingkan keuangan. Kini, alih-alih membangun teknologinya dari nol, Uber memilih untuk membeli atau menyewa aset fisik (Robotaxi) yang dibuat oleh pakar industri. Strategi ini memungkinkan Uber tetap mengontrol operasional tanpa harus menanggung risiko kegagalan riset perangkat lunak otonom.

Saat ini, Uber telah memperkuat posisinya dengan menjalin kemitraan bersama berbagai pemain besar seperti WeRide, Lucid, Nuro, Rivian, hingga startup AI asal Inggris, Wayve.

Dinamika Sektor Mobilitas Global

Selain gebrakan Uber, beberapa kesepakatan besar lainnya turut mewarnai industri transportasi pekan ini:

  1. Slate, startup truk listrik yang didukung Jeff Bezos, meraih pendanaan Seri C sebesar $650 juta untuk memulai produksi massal pada akhir 2026.
  2. Waymo resmi menghapus daftar tunggu layanan Robotaxi mereka di Miami dan Orlando, mempercepat ekspansi komersial di wilayah tersebut.
  3. Caterpillar mengakuisisi aset dari Monarch Tractor, startup traktor listrik otonom, untuk memperkuat lini alat berat cerdas mereka.

Langkah agresif Uber ini memberikan sinyal kuat bahwa masa depan transportasi bukan lagi soal siapa yang memiliki aplikasi terbaik, melainkan siapa yang mampu mengintegrasikan teknologi otonom dengan armada fisik secara efisien.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin