Advertisement

Ad space available

Berita AI

Toy Story 5 Soroti Ancaman Tablet AI: Saat Woody Melawan Kecanduan Gadget

Pixar merilis trailer Toy Story 5 yang memfokuskan cerita pada persaingan antara mainan klasik dengan tablet bertenaga AI yang adiktif. Film ini dijadwalkan tayang pada 19 Juni mendatang.

Tim Rekayasa AI
Penulis
20 Februari 2026
3 min read
#Toy Story 5#Artificial Intelligence#Pixar#Screen Time#Tech News
Toy Story 5 Soroti Ancaman Tablet AI: Saat Woody Melawan Kecanduan Gadget

Toy Story 5 Soroti Ancaman Tablet AI: Saat Woody Melawan Kecanduan Gadget

BOSTON, (20 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Toy Story 5 memperkenalkan antagonis baru berupa tablet AI bernama Lilypad yang membuat anak-anak mengalami kecanduan screen time.
  • Film ini mengangkat isu privasi digital melalui dialog Lilypad yang menyatakan dirinya "selalu mendengarkan."
  • Pixar menjadwalkan perilisan global pada 19 Juni 2026, menyoroti pergeseran gaya bermain anak dari mainan fisik ke perangkat digital.

Ketika film Toy Story pertama dirilis pada tahun 1995, Google bahkan belum eksis dan Apple berada di ambang kebangkrutan. Melansir data dari TechCrunch, tidak ada yang menyangka bahwa tiga dekade kemudian, Pixar masih memproduksi waralaba ini dengan narasi yang kini berhadapan langsung dengan teknologi modern: Woody dan Buzz Lightyear harus melawan sebuah tablet AI jahat bernama Lilypad.

Dalam trailer terbaru Toy Story 5, Pixar memperlihatkan bagaimana mainan old-school seperti Mrs. Potato Head, Rex, dan Slinky Dog menghadapi ancaman eksistensial dari teknologi digital. Bonnie, anak yang mewarisi mainan Andy, terlihat mendapatkan paket berisi tablet Lilypad (atau sering dipanggil Lily). Seketika, Bonnie menjadi sangat terpaku pada layar, bahkan tidak menghiraukan orang tuanya saat diminta menghentikan sesi screen time.

Ancaman Privasi dan "I'm Always Listening"

Lily digambarkan sebagai karakter antagonis yang manipulatif. Dalam salah satu adegan, Jessie si cowgirl mencoba mengonfrontasi tablet tersebut mengenai kesejahteraan Bonnie. Namun, Lily merespons dengan nada komputer yang dingin dan menyeramkan.

"Aku selalu mendengarkan (I'm always listening)," ujar Lily, mengulang pidato emosional Jessie dalam nada digital sebelum menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol. Hal ini secara tersirat menyentuh isu sensitif mengenai bagaimana perangkat Smart Home dan AI seringkali dianggap menginvasi privasi pengguna.

Jessie mengeluh kepada Woody, "Teknologi telah menginvasi rumah kita. Aku kehilangan Bonnie karena device ini." Woody pun menjawab dengan getir, "Mainan adalah untuk bermain, tapi teknologi adalah untuk segalanya."

Selain konflik teknologi, trailer tersebut juga menunjukkan detail unik di mana Woody tampak mulai mengalami kerontokan rambut (botak), sebuah sentuhan humor sekaligus pengingat bahwa para mainan ini pun "menua" di tengah gempuran zaman digital.

Dampak bagi Indonesia

Isu yang diangkat dalam Toy Story 5 sangat relevan dengan situasi di Indonesia, di mana tingkat penetrasi internet dan penggunaan gadget pada anak-anak terus meningkat. Data menunjukkan bahwa rata-rata screen time anak di wilayah urban Indonesia melampaui batas rekomendasi kesehatan, yang sering memicu konflik antara orang tua dan anak.

Kehadiran film ini dapat menjadi sarana edukasi bagi orang tua di Indonesia untuk mendiskusikan batasan penggunaan device digital secara lebih ringan dengan anak-anak. Selain itu, aspek privasi AI yang disinggung film ini sejalan dengan upaya pemerintah Indonesia dalam memperkuat regulasi Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), terutama terkait data anak-anak yang sering terekam oleh aplikasi pintar atau mainan berbasis internet yang masuk ke pasar lokal.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin