Ad space available
Studi MIT: Perusahaan Gunakan Otomasi untuk Tekan Gaji Pekerja
Riset terbaru dari MIT menunjukkan bahwa perusahaan sering kali menggunakan otomasi untuk menggantikan pekerja bergaji tinggi ketimbang meningkatkan produktivitas. Strategi ini menjadi pemicu utama ketimpangan ekonomi global.

Studi MIT: Perusahaan Gunakan Otomasi untuk Tekan Gaji Pekerja
CAMBRIDGE, (7 Mei 2026)
- Otomasi bertanggung jawab atas 52% pertumbuhan ketimpangan pendapatan di Amerika Serikat antara tahun 1980 hingga 2016.
- Perusahaan cenderung menargetkan karyawan dengan "wage premium" (gaji di atas rata-rata kualifikasi) untuk digantikan oleh teknologi.
- Fokus pada pengurangan biaya upah mengakibatkan lonjakan produktivitas yang rendah meskipun adopsi teknologi masif.
Mengutip laporan terbaru dari MIT News, para ekonom dari Massachusetts Institute of Technology menemukan bahwa perusahaan sering kali menerapkan teknologi bukan untuk mengejar efisiensi maksimal, melainkan untuk mengontrol upah pekerja. Melansir data dari penelitian tersebut, otomasi telah digunakan secara sistematis untuk menggantikan karyawan yang memiliki "wage premium"—yaitu mereka yang mendapatkan gaji lebih tinggi dibandingkan rekan sejawat dengan kualifikasi serupa.
Studi yang dipimpin oleh peraih Nobel bidang ekonomi, Daron Acemoglu, dan profesor Yale, Pascual Restrepo, ini menunjukkan dinamika yang mengkhawatirkan di pasar tenaga kerja. Bukannya menciptakan terobosan inovasi, banyak perusahaan justru terjebak pada penggunaan otomasi sebagai alat pemangkas biaya jangka pendek yang berdampak buruk pada stabilitas ekonomi pekerja.
Ketimpangan vs Produktivitas
Penelitian bertajuk "Automation and Rent Dissipation" ini mengestimasi bahwa otomasi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ketimpangan pendapatan dalam empat dekade terakhir. Penargetan pekerja berpendapatan menengah ke atas (persentil 70 hingga 95) menjadi pemicu utama fenomena ini.
"Ada penargetan otomasi yang tidak efisien," ujar Daron Acemoglu. Menurutnya, semakin tinggi gaji seorang pekerja dalam sebuah industri atau tugas tertentu, maka semakin menarik bagi perusahaan untuk menggantinya dengan mesin. Namun, hasil akhirnya sering kali mengecewakan. Strategi ini hanya meningkatkan profit bersih perusahaan melalui pemangkasan biaya tenaga kerja, namun gagal mendorong produktivitas industri secara keseluruhan.
Hal ini menjelaskan paradoks di mana teknologi seperti Machine Learning dan Generative AI berkembang pesat, namun statistik produktivitas nasional tetap stagnan atau "pitiful" menurut istilah Acemoglu. Perusahaan sering kali memilih teknologi yang sebenarnya kurang efisien secara operasional, asalkan bisa mengurangi beban gaji karyawan.
Dampak bagi Indonesia
Temuan dari MIT ini memberikan alarm penting bagi pasar tenaga kerja dan pembuat kebijakan di Indonesia, terutama di tengah tren digitalisasi industri:
- Risiko pada Sektor Perbankan dan Manufaktur: Pekerja spesialis di Indonesia dengan kisaran gaji Rp15.000.000 hingga Rp30.000.000 per bulan berisiko tinggi menjadi target otomasi. Perusahaan mungkin lebih memilih investasi pada Data Center dan solusi AI ketimbang mempertahankan tenaga kerja ahli yang memiliki daya tawar gaji tinggi.
- Ketimpangan Digital: Jika implementasi Cloud Computing dan otomasi hanya difokuskan pada efisiensi biaya buruh, Indonesia dapat menghadapi risiko pelebaran jurang antara pemilik modal teknologi dan pekerja kelas menengah.
- Urgensi Perlindungan Tenaga Kerja: Diperlukan regulasi yang mendorong perusahaan untuk menggunakan otomasi sebagai alat bantu (augmentation) guna meningkatkan output, bukan sekadar menggantikan manusia demi menekan upah.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


