Ad space available
Snap Batalkan Kesepakatan AI Senilai $400 Juta dengan Perplexity
Snap secara resmi mengakhiri kemitraan integrasi search engine AI milik Perplexity ke dalam Snapchat. Kesepakatan senilai ratusan juta dolar ini berakhir secara damai pada kuartal pertama 2026.

Snap Batalkan Kesepakatan AI Senilai $400 Juta dengan Perplexity
SANTA MONICA, (6 Mei 2026)
- Snap dan Perplexity resmi mengakhiri kesepakatan integrasi search engine AI senilai $400 juta (sekitar Rp6,4 triliun).
- Keputusan ini diambil secara damai pada kuartal pertama 2026 setelah kedua perusahaan gagal menyepakati jalur peluncuran secara global.
- Snap tetap mencatatkan pertumbuhan pengguna aktif harian (DAU) sebesar 5% menjadi 483 juta meski membatalkan kemitraan ini.
Snap secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka tidak lagi melanjutkan kerja sama dengan Perplexity. Mengutip laporan dari TechCrunch, informasi ini diungkapkan Snap dalam laporan keuangan kuartalannya pada hari Rabu. Melansir data dari penulis asli Aisha Malik, kesepakatan yang pertama kali diumumkan pada November 2025 tersebut awalnya bertujuan untuk mengintegrasikan mesin pencari berbasis Generative AI milik Perplexity langsung ke dalam antarmuka Snapchat.
Dalam kesepakatan aslinya, Perplexity dijadwalkan untuk membayar Snap sebesar $400 juta dalam bentuk tunai dan ekuitas selama satu tahun. Namun, dalam laporan terbaru, Snap menyatakan bahwa kedua perusahaan telah "mengakhiri hubungan secara damai pada Q1" dan panduan penjualan perusahaan ke depan telah mengasumsikan tidak adanya kontribusi pendapatan dari Perplexity.
Hambatan Integrasi dan Visi Masa Depan
Rencana awal integrasi ini akan memungkinkan pengguna Snapchat untuk mengajukan pertanyaan dan menerima jawaban melalui percakapan langsung di dalam fitur "Chat". Meskipun fitur tersebut sempat melewati tahap pengujian dengan sejumlah kecil pengguna, Snap mengungkapkan pada Februari lalu bahwa kedua pihak belum menemukan kesepakatan mengenai metode peluncuran yang lebih luas (broader roll-out).
CEO Snap, Evan Spiegel, sebelumnya menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari visi perusahaan untuk menggunakan Machine Learning dan AI guna meningkatkan pengalaman penemuan di Snapchat. Meskipun kerja sama dengan Perplexity kandas, Spiegel menegaskan bahwa Snap tetap terbuka untuk berkolaborasi dengan mitra inovatif lainnya di masa depan.
Pertumbuhan Pengguna dan Fokus pada Smart Eyewear
Terlepas dari batalnya kesepakatan besar ini, Snap melaporkan performa bisnis yang cukup solid. Jumlah pengguna aktif harian (DAU) global meningkat 5% year-over-year menjadi 483 juta, sementara pengguna aktif bulanan (MAU) mencapai 965 juta. Pertumbuhan ini didorong oleh fitur-fitur seperti Snap Map dan filter Augmented Reality (AR) Lenses.
"Pada Q1, kami kembali ke pertumbuhan pengguna harian, mempercepat pertumbuhan pendapatan, dan menghasilkan arus kas bebas yang kuat," ujar Spiegel. Saat ini, Snap tampak lebih fokus pada investasi jangka panjang di sektor perangkat keras pintar, khususnya Specs dan peluang di bidang intelligent eyewear yang akan dipamerkan lebih lanjut pada ajang AWE tanggal 16 Juni mendatang.
Langkah strategis ini diambil setelah Snap melakukan efisiensi besar-besaran pada April 2026 dengan melakukan PHK terhadap sekitar 16% tenaga kerja globalnya atau sekitar 1.000 karyawan, yang diklaim sebagai dampak dari kemajuan efisiensi Generative AI.
Dampak bagi Indonesia
Batalnya integrasi Perplexity ke Snapchat memberikan beberapa dampak bagi pasar dan pengguna di Indonesia:
- Akses Teknologi Search AI: Pengguna Snapchat di Indonesia, yang didominasi oleh Gen Z, kehilangan kesempatan untuk mencicipi integrasi search engine berbasis LLM yang lebih canggih di dalam aplikasi sosial favorit mereka secara lokal.
- Nilai Transaksi: Nilai kesepakatan $400 juta yang setara dengan Rp6,4 Triliun menunjukkan besarnya modal yang berputar di industri AI global, yang secara tidak langsung memengaruhi valuasi ekosistem startup teknologi di Asia Tenggara.
- Tren Intelligent Eyewear: Fokus Snap pada kacamata pintar (Specs) kemungkinan besar akan menyasar pasar gaya hidup digital di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta dan Bandung, bersaing dengan produk smart glasses dari Meta dan Ray-Ban yang mulai populer.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


