Advertisement

Ad space available

Berita AI

Sistem Navigasi Pintar MIT Mampu Cari Parkir dan Hemat Waktu 35 Menit

Peneliti MIT menciptakan sistem navigasi yang memprediksi ketersediaan parkir untuk mengurangi stres dan emisi kendaraan. Teknologi ini terbukti mampu memangkas waktu perjalanan hingga 35 menit.

Tim Rekayasa AI
Penulis
19 Februari 2026
4 min read
#Sistem Navigasi#Smart City#Transportasi#MIT#Efisiensi Karbon
Sistem Navigasi Pintar MIT Mampu Cari Parkir dan Hemat Waktu 35 Menit

Navigasi Pintar MIT Bantu Cari Parkir: Hemat Waktu 35 Menit & Kurangi Emisi

CAMBRIDGE, (19 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Peneliti MIT mengembangkan sistem navigasi "parking-aware" yang menyeimbangkan jarak tujuan dengan probabilitas ketersediaan slot parkir secara real-time.
  • Dalam simulasi di Seattle, sistem ini menghemat waktu hingga 35 menit atau 66% lebih efisien dibandingkan metode mencari parkir konvensional di area padat.
  • Teknologi ini menggunakan algoritme Dynamic Programming dan data crowdsourcing untuk memprediksi ketersediaan slot sekaligus mengurangi emisi karbon.

Mengutip laporan dari MIT News, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology telah mengembangkan sistem navigasi baru yang dirancang untuk mengakhiri rasa frustrasi pengemudi saat mencari tempat parkir. Melansir data dari Adam Zewe, sistem ini tidak hanya menghitung rute tercepat ke tujuan, tetapi juga mengarahkan pengguna ke lokasi parkir yang paling optimal berdasarkan peluang ketersediaan slot.

Masalah utama pada aplikasi navigasi populer saat ini adalah mereka sering mengabaikan waktu tambahan yang dibutuhkan untuk mencari parkir setelah mencapai titik tujuan. Hal ini tidak hanya menyebabkan keterlambatan, tetapi juga memperburuk kemacetan dan meningkatkan emisi karbon karena kendaraan terus berputar-putar di area yang sama (cruising).

Algoritme Berbasis Probabilitas

Pendekatan yang dikembangkan oleh tim MIT, yang dipimpin oleh mahasiswa pascasarjana Cameron Hickert dan Associate Professor Cathy Wu, menggunakan metode Dynamic Programming. Sistem ini bekerja mundur dari hasil yang diinginkan untuk menghitung rute terbaik, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti jarak tempuh dari titik asal, jarak jalan kaki dari tempat parkir ke tujuan akhir, dan probabilitas keberhasilan mendapatkan slot parkir.

Sistem ini juga cukup cerdas untuk memodelkan perilaku pengemudi lain. Jika sebuah tempat parkir utama penuh, algoritme akan menghitung jarak ke lokasi parkir alternatif terdekat dan peluang keberhasilannya secara real-time. "Seringkali lebih pintar mengemudi ke area dengan beberapa kantong parkir berdekatan meskipun probabilitasnya lebih rendah, daripada berharap pada satu slot di lokasi yang paling dekat," ujar Hickert.

Pemanfaatan Data Crowdsourcing

Untuk membuat teknologi ini layak diimplementasikan di dunia nyata, para peneliti mengandalkan data crowdsourcing. Karena tidak semua tempat parkir memiliki sensor magnetik atau gerbang otomatis, informasi bisa didapat dari laporan pengguna di aplikasi, data pelacakan kendaraan yang masuk-keluar area, hingga potensi laporan dari Autonomous Vehicles di masa depan.

Dalam pengujian menggunakan data lalu lintas nyata di Seattle, sistem ini mampu memangkas total waktu perjalanan hingga 60% dibandingkan hanya menunggu slot terbuka di lokasi terdekat. Tingkat kesalahan dari data crowdsourcing ini tercatat hanya sekitar 7%, menjadikannya sumber informasi yang sangat efektif untuk memprediksi kepadatan parkir.

Dampak bagi Indonesia

Implementasi sistem navigasi sadar parkir ini memiliki relevansi tinggi bagi kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Berdasarkan pengamatan pasar, kemacetan di area seperti Sudirman atau Thamrin seringkali diperparah oleh kendaraan yang mengantre masuk ke gedung perkantoran atau mal, serta perilaku parkir liar di bahu jalan akibat ketidaktahuan lokasi parkir yang tersedia.

Jika teknologi ini diintegrasikan ke dalam ekosistem Smart City di Indonesia, pengemudi bisa menghemat biaya BBM yang signifikan. Sebagai ilustrasi, penghematan waktu 35 menit per hari setara dengan pengurangan konsumsi bahan bakar yang cukup besar jika diakumulasikan secara bulanan. Selain itu, sinkronisasi dengan sistem pembayaran digital dan data parkir dari pengelola gedung dapat menciptakan sistem transportasi yang lebih teratur dan ramah lingkungan.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin