Ad space available
Sift Stack: Eks Insinyur SpaceX Bawa Software Roket ke Lantai Pabrik
Startup Sift Stack yang didirikan mantan insinyur SpaceX menghadirkan infrastruktur data canggih untuk mengotomatisasi manufaktur fisik. Platform ini mengelola jutaan sensor secara real-time agar dapat dianalisis oleh AI Agent secara efisien.

Sift Stack: Eks Insinyur SpaceX Bawa Software Roket ke Lantai Pabrik
EL SEGUNDO, (25 Maret 2026)
- Sift Stack, startup yang didirikan oleh dua mantan insinyur SpaceX, menyediakan infrastruktur data untuk mengelola jutaan sensor pada proses manufaktur tingkat lanjut.
- Perusahaan baru saja mengamankan pendanaan Series B sebesar $42 juta (sekitar Rp662 miliar) dengan dukungan dari GV (Google Ventures).
- Fokus platform ini adalah mengubah data mentah dari mesin kompleks menjadi format yang machine readable untuk dianalisis oleh AI Agent.
Tren industri Silicon Valley kini mulai bergeser dari produk digital murni ke manufaktur fisik, sebuah fenomena yang sering disebut sebagai gerakan "atoms, not bits". Melansir laporan dari TechCrunch, obsesi ini semakin menguat setelah Jeff Bezos dikabarkan menyiapkan dana $100 miliar untuk mengakuisisi dan mengotomatisasi pabrik-pabrik lama menggunakan AI.
Namun, mengotomatisasi pabrik bukan sekadar masalah Hardware. Karthik Gollapudi, CEO Sift Stack, menekankan bahwa efisiensi manufaktur modern sangat bergantung pada software dan infrastruktur data yang mumpuni. Bersama CTO Austin Spiegel, keduanya mendirikan Sift Stack pada 2022 setelah sebelumnya bekerja di SpaceX mengelola data telemetry roket dalam jumlah masif.
Mengelola Jutaan Sensor dengan AI
Sift Stack hadir untuk mengisi celah bagi perusahaan yang membangun mesin kompleks seperti pesawat luar angkasa, kendaraan otonom, hingga jaringan listrik. Mengutip data dari perusahaan, beberapa kendaraan yang menggunakan sistem mereka memiliki lebih dari 1,5 juta sensor yang mengirimkan data secara bersamaan dalam berbagai format.
Jika sebelumnya perusahaan manufaktur harus membuat skrip Python kustom atau menggunakan Database standar, Sift menawarkan alat khusus yang mampu mengorganisir data tersebut agar siap diproses oleh Machine Learning.
"Visi jangka panjang kami tentang bagaimana industri ini berkembang selama lima tahun ke depan, ternyata terjadi lebih cepat tahun ini," ujar Gollapudi kepada TechCrunch. Hal ini didorong oleh kebutuhan akan AI Agent yang mampu mengambil keputusan di lantai pabrik atau mendeteksi masalah pada data uji coba secara otomatis.
Efisiensi Biaya Data
Jeff Dexter, VP Software di Astranis (perusahaan satelit pengguna Sift), menjelaskan bahwa infrastruktur data yang baik sangat krusial. Astranis melakukan hingga 10 juta uji coba software otomatis dalam sehari, yang jika tidak dikelola dengan baik, bisa memakan biaya jutaan dolar per bulan hanya untuk penyimpanan di Cloud Computing.
Dengan teknologi dari Sift, perusahaan dapat mengelola penyimpanan data tersebut dengan lebih cerdas tanpa khawatir akan lonjakan biaya infrastruktur yang tidak perlu. Keberhasilan ini membawa Sift meraih pendanaan Series B sebesar $42 juta pada tahun 2025 dengan valuasi mencapai $274 juta.
Dampak bagi Indonesia
Langkah Sift Stack memberikan gambaran penting bagi inisiatif "Making Indonesia 4.0". Industri manufaktur di Indonesia, terutama di sektor otomotif dan pengembangan baterai kendaraan listrik (EV), mulai mengadopsi lebih banyak sensor dan otomatisasi.
Implementasi teknologi serupa Sift dapat membantu pabrik-pabrik di Indonesia menghemat biaya operasional yang sering kali membengkak akibat manajemen data yang buruk. Investasi sebesar $42 juta (setara Rp662 miliar) dalam skala global menunjukkan bahwa sektor infrastruktur data untuk manufaktur fisik adalah area panas yang patut diperhatikan oleh investor dan pengembang software lokal yang ingin merambah sektor industrial AI.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


