Advertisement

Ad space available

Berita AI

Bret Taylor dari Sierra: Era Klik Tombol Berakhir, Digantikan AI Agent

CEO Sierra, Bret Taylor, memprediksi bahwa interaksi software berbasis klik akan segera digantikan oleh bahasa alami melalui AI Agent. Startup tersebut baru saja memperkenalkan Ghostwriter, sebuah platform 'agent as a service' yang revolusioner.

Tim Rekayasa AI
Penulis
9 April 2026
4 min read
#Sierra AI#Bret Taylor#AI Agent#Ghostwriter#Enterprise Software
Bret Taylor dari Sierra: Era Klik Tombol Berakhir, Digantikan AI Agent

Bret Taylor dari Sierra: Era Klik Tombol Berakhir, Digantikan AI Agent

SAN FRANCISCO, (9 April 2026)

Key Takeaway
  • Sierra meluncurkan Ghostwriter, alat "agent as a service" yang memungkinkan pembuatan AI Agent lain secara otonom hanya dengan bahasa alami.
  • CEO Sierra, Bret Taylor, memprediksi antarmuka software tradisional berbasis klik akan segera punah dan digantikan oleh instruksi verbal/teks.
  • Sierra mencatatkan pertumbuhan fenomenal dengan ARR mencapai $100 juta dan valuasi sebesar $10 miliar dalam waktu kurang dari dua tahun.

Bret Taylor, co-founder dan CEO Sierra sekaligus mantan co-CEO Salesforce, meyakini bahwa cara manusia berinteraksi dengan software akan berubah secara fundamental dalam waktu dekat. Mengutip laporan dari TechCrunch oleh Marina Temkin, Taylor menyatakan bahwa era menavigasi aplikasi dengan mengeklik berbagai tombol akan segera berakhir.

Bulan lalu, Sierra meluncurkan Ghostwriter, sebuah agent yang dirancang khusus untuk membangun agent lainnya. Melalui alat berkonsep "agent as a service" ini, startup tersebut berencana mengganti aplikasi web tradisional yang berbasis klik dengan natural language (bahasa alami). Pengguna cukup mendeskripsikan apa yang mereka butuhkan, dan Ghostwriter akan secara otonom membuat serta menerapkan specialized agent untuk mengeksekusi tugas tersebut.

Pergeseran Paradigma dalam Enterprise Software

Taylor berpendapat bahwa banyak alat yang digunakan di lingkungan Enterprise saat ini tidak digunakan secara rutin, sehingga menyulitkan pengguna untuk mempelajarinya. Ia mencontohkan sistem seperti Workday yang mungkin hanya diakses karyawan saat proses onboarding atau pendaftaran asuransi tahunan.

"Alih-alih belajar menavigasi sistem yang kompleks, pengguna akan segera menggunakan bahasa alami untuk menyelesaikan tugas tanpa perlu berinteraksi langsung dengan antarmuka software," ujar Taylor dalam konferensi HumanX di San Francisco minggu ini.

Sierra mengklaim telah menggunakan Ghostwriter untuk menyebarkan AI Agent dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Taylor memberikan contoh implementasi AI Agent untuk Nordstrom yang berhasil diselesaikan hanya dalam waktu empat minggu.

Valuasi Fantastis dan Tantangan Otonomi

Kesuksesan Sierra di sektor Generative AI tercermin dari angka finansialnya yang impresif. Musim gugur lalu, perusahaan mengumumkan telah mencapai annual revenue run rate (ARR) sebesar $100 juta (sekitar Rp1,59 triliun), kurang dari 21 bulan sejak didirikan. Pada September 2025, Sierra meraih pendanaan senilai $350 juta yang dipimpin oleh Greenoaks Capital, mendongkrak valuasinya menjadi $10 miliar (sekitar Rp159 triliun).

Meski Taylor memprediksi masa depan yang sepenuhnya otonom, kenyataan di lapangan menunjukkan tantangan teknis yang masih ada. Beberapa teknolog dan investor mengungkapkan bahwa implementasi AI Agent saat ini belum sepenuhnya mandiri. Perusahaan seperti Sierra dan startup AI hukum, Harvey, masih mengandalkan forward-deployed engineers untuk terus memperbarui dan melakukan fine-tuning pada agent pelanggan guna memastikan sistem bekerja sesuai harapan.

Dampak bagi Indonesia

Transformasi menuju AI Agent yang dipelopori Sierra membawa implikasi besar bagi lanskap teknologi di Indonesia:

  1. Efisiensi Operasional Korporasi: Perusahaan besar di Indonesia yang menggunakan sistem ERP kompleks kini memiliki peluang untuk menyederhanakan alur kerja mereka. Dengan nilai ARR Sierra yang mencapai Rp1,59 triliun, ini menunjukkan potensi pasar Enterprise AI yang sangat besar untuk diadopsi oleh BUMN atau perusahaan swasta nasional guna memangkas birokrasi internal.
  2. Peluang Developer Lokal: Munculnya konsep "agent as a service" membuka ruang bagi pengembang di Indonesia untuk berfokus pada Prompt Engineering dan integrasi sistem dibandingkan hanya membangun UI/UX tradisional.
  3. Kebutuhan Infrastruktur Data Center: Adopsi AI Agent yang masif akan meningkatkan permintaan terhadap kapasitas Data Center lokal dan layanan Cloud Computing yang andal di tanah air untuk menjaga latensi tetap rendah bagi pengguna domestik.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin