Advertisement

Ad space available

Berita AI

Shapes: Aplikasi Chat yang Gabungkan Manusia dan AI dalam Satu Grup

Shapes adalah aplikasi komunikasi baru yang memungkinkan manusia dan karakter AI berinteraksi dalam satu ruang obrolan grup yang sama. Startup ini telah mengumpulkan pendanaan awal sebesar US$8 juta untuk merevolusi cara kita bersosialisasi dengan teknologi.

Tim Rekayasa AI
Penulis
29 April 2026
4 min read
#Shapes#Generative AI#AI Agent#Social App#Startup Funding
Shapes: Aplikasi Chat yang Gabungkan Manusia dan AI dalam Satu Grup

Shapes: Masa Depan Komunikasi Sosial Melalui Integrasi AI Agent dalam Grup

SAN FRANCISCO, (29 April 2026)

Key Takeaway
  • Shapes berhasil mengantongi pendanaan seed sebesar US$8 juta yang dipimpin oleh Lightspeed untuk mengembangkan platform chat sosial berbasis AI.
  • Aplikasi ini telah memiliki lebih dari 400.000 pengguna aktif bulanan (MAU) dengan lebih dari 3 juta karakter AI yang telah dibuat oleh pengguna.
  • Konsep Shapes bertujuan mengatasi "AI Psychosis" dengan memindahkan interaksi AI dari ruang privat satu-lawan-satu ke dalam dinamika obrolan grup yang lebih sehat secara sosial.

Mengutip laporan dari TechCrunch, sebuah aplikasi inovatif bernama Shapes baru saja muncul dari mode senyap (stealth) dengan dukungan pendanaan awal senilai US$8 juta. Shapes menawarkan pengalaman berkomunikasi yang unik: bayangkan platform seperti Discord, namun dengan kehadiran karakter AI yang berinteraksi secara organik di samping pengguna manusia dalam satu grup chat.

Melansir data yang dibagikan oleh pendirinya, Anushk Mittal dan Noorie Dhingra, Shapes didirikan pada tahun 2022 dan kini telah mencatatkan pertumbuhan signifikan dengan 400.000 pengguna aktif bulanan. Fokus utama aplikasi ini bukan sekadar menjadi alat produktivitas, melainkan ruang sosial di mana AI berperan sebagai fasilitator komunikasi.

Mengatasi Fenomena "AI Psychosis"

Salah satu misi utama Shapes adalah menangani isu "AI Psychosis". Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana individu mulai mengembangkan delusi atau paranoia akibat interaksi berkepanjangan dengan AI chatbot atau AI companion dalam ruang privat yang terisolasi.

CEO Shapes, Anushk Mittal, menjelaskan bahwa komunikasi manusia secara alami terjadi dalam kelompok. "Saat ini, hampir semua percakapan kita dengan AI bersifat pribadi dan satu-lawan-satu, padahal bukan begitu cara manusia berkolaborasi," ujar Mittal. Dengan membawa AI Agent ke dalam grup chat, interaksi tersebut menjadi lebih transparan dan tetap berakar pada konteks sosial nyata.

Dalam aplikasi ini, karakter AI yang disebut sebagai "Shapes" memiliki identitas yang jelas namun diberikan kebebasan untuk memulai percakapan sendiri tanpa perlu dipicu (summoned) oleh manusia. Hal ini membantu menghidupkan kembali grup chat yang seringkali menjadi sunyi karena tidak ada anggota manusia yang memulai pembicaraan.

Ekosistem Kreativitas dan Fandom

Pengguna Shapes tidak hanya menjadi penonton; mereka telah membuat lebih dari tiga juta karakter AI dengan kepribadian yang unik. Sebagian besar interaksi ini didorong oleh budaya fandom, di mana para penggemar menciptakan karakter AI untuk mengeksplorasi subkultur tertentu dan bertemu dengan sesama penggemar manusia lainnya.

Startup ini berencana menggunakan pendanaan baru tersebut—yang juga diikuti oleh AI Capital Partners dan AI Grant—untuk mempercepat pengembangan produk dan akuisisi pengguna. Sejak awal tahun, Shapes mengklaim telah mengalami peningkatan basis pengguna sebanyak enam kali lipat, dengan ribuan pengguna menghabiskan waktu dua hingga empat jam setiap hari di dalam aplikasi.

Dampak bagi Indonesia

Masuknya platform seperti Shapes ke pasar global memberikan sinyal penting bagi lanskap digital di Indonesia, terutama bagi generasi Z dan Alpha yang sangat adaptif terhadap teknologi Generative AI. Berikut adalah beberapa dampak potensialnya:

  1. Ekonomi Kreatif dan IP: Pendanaan US$8 juta (sekitar Rp128 miliar) menunjukkan besarnya nilai ekonomi pada karakter AI. Kreator konten di Indonesia dapat memanfaatkan tren ini untuk membangun kekayaan intelektual (IP) berbasis AI yang bisa berinteraksi langsung dengan basis penggemar lokal.
  2. Perubahan Perilaku Media Sosial: Dengan tingginya penggunaan WhatsApp dan Telegram di Indonesia untuk komunitas, integrasi AI Agent dalam grup chat bisa menjadi standar baru. Hal ini akan mengubah cara brand lokal melakukan customer engagement dari yang sebelumnya kaku menjadi lebih personal dan cair.
  3. Kesadaran Kesehatan Mental Digital: Isu "AI Psychosis" yang diangkat Shapes menjadi pengingat penting bagi regulator dan pengguna di Indonesia mengenai dampak psikologis dari AI companion. Platform yang mengedepankan aspek sosial grup bisa menjadi alternatif yang lebih sehat di tengah maraknya aplikasi teman kencan atau pendamping AI yang bersifat isolatif.

--- *Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join [Komunitas Rekayasa AI di Discord](https://discord.gg/s9jwwtXc6V) untuk diskusi lebih lanjut.*

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin