Advertisement

Ad space available

Berita AI

Scout AI Raih $100 Juta, Latih Model AI 'Fury' untuk Medan Perang

Startup pertahanan Scout AI mengamankan pendanaan Seri A sebesar $100 juta untuk melatih AI Agent yang mampu mengendalikan kendaraan tempur otonom. Teknologi ini berbasis Vision Language Action (VLA) untuk navigasi medan ekstrem.

Tim Rekayasa AI
Penulis
29 April 2026
5 min read
#Scout AI#Defense Tech#AI Agent#VLA#Autonomous Vehicles
Scout AI Raih $100 Juta, Latih Model AI 'Fury' untuk Medan Perang

Scout AI Raih $100 Juta, Latih Model AI "Fury" untuk Medan Perang

CALIFORNIA, (29 April 2026)

Key Takeaway
  • Scout AI berhasil mengumpulkan pendanaan Seri A senilai $100 juta untuk mengembangkan model AI militer bernama "Fury" berbasis Vision Language Action (VLA).
  • Teknologi ini memungkinkan kendaraan otonom beroperasi di medan off-road yang tidak terstruktur, jauh lebih kompleks dibandingkan navigasi mobil otonom di perkotaan.
  • Startup ini juga memperkenalkan "Ox," perangkat lunak komando yang memungkinkan prajurit mengendalikan armada drone dan kendaraan darat menggunakan perintah berbasis prompt.

Mengutip laporan dari TechCrunch, startup teknologi pertahanan Scout AI mengumumkan perolehan pendanaan Seri A sebesar $100 juta (sekitar Rp1,6 triliun). Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Align Ventures dan Draper Associates, setelah sebelumnya meraih seed round sebesar $15 juta pada Januari 2025. Scout AI, yang didirikan pada 2024 oleh Coby Adcock dan Collin Otis, memposisikan dirinya sebagai "frontier lab" untuk sektor pertahanan.

Perusahaan ini tengah mengembangkan model AI yang diberi nama "Fury" untuk mengoperasikan aset militer, mulai dari dukungan logistik hingga potensi senjata otonom di masa depan. CTO Collin Otis membandingkan proses ini dengan pelatihan prajurit manusia. Scout AI membangun kecerdasan tempur ini di atas fondasi LLM yang sudah ada, lalu melatihnya secara spesifik untuk kebutuhan militer.

Revolusi Navigasi dengan Vision Language Action (VLA)

Scout AI menggunakan pendekatan teknologi otonomi terbaru yang disebut Vision Language Action atau VLA. Teknologi ini, yang awalnya dipopulerkan oleh Google DeepMind, memungkinkan AI Agent untuk memahami input visual, bahasa, dan mengeksekusi tindakan fisik secara simultan.

Collin Otis, mantan eksekutif di perusahaan truk otonom Kodiak, menyadari bahwa sistem otonom konvensional tidak cukup cerdas untuk menghadapi zona perang yang tidak terprediksi. Berbeda dengan jalan raya kota yang terstruktur, medan tempur penuh dengan pasir lepas, tanjakan curam, dan persimpangan yang membingungkan. Dengan VLA, AI Agent diharapkan memiliki kemampuan penalaran (reasoning) untuk menghadapi ancaman yang muncul tiba-tiba.

Saat ini, Scout AI telah mengantongi kontrak pengembangan teknologi militer senilai $11 juta dari berbagai lembaga seperti DARPA dan Army Applications Laboratory. Teknologi mereka juga sedang diuji oleh 1st Cavalry Division Angkatan Darat AS dalam siklus pelatihan rutin di Ft. Hood, Texas.

AI Agent untuk Kendali Armada

Produk komersial utama yang ditawarkan Scout AI adalah "Ox," sebuah sistem perangkat lunak komando dan kendali yang dipasang pada perangkat keras tangguh berisi GPU, kamera, dan sistem komunikasi. Dengan "Ox," seorang prajurit dapat menjadi "quarterback" yang mengatur sekelompok drone dan kendaraan otonom melalui perintah sederhana, seperti: "Pergi ke titik ini dan pantau posisi musuh."

Meski isu senjata otonom sering menuai debat etika, Scout AI berpendapat bahwa sistem ini justru lebih presisi. Jay Adams, pensiunan Kapten Angkatan Darat AS yang memimpin tim operasional Scout, menjelaskan bahwa sistem mereka dapat diprogram untuk hanya menyerang target di area geografis tertentu atau hanya dengan konfirmasi manusia. Selain itu, sistem AI tidak akan melepaskan tembakan karena rasa takut atau panik, berbeda dengan prajurit manusia yang masih sangat muda di medan tempur.

Dampak bagi Indonesia

Perkembangan teknologi Scout AI memberikan gambaran penting bagi arah pertahanan nasional Indonesia:

  1. Modernisasi Alutsista Berbasis AI: Dengan pendanaan setara Rp1,6 triliun, Scout AI menunjukkan besarnya investasi di sektor ini. Indonesia, melalui visi Minimum Essential Force (MEF), perlu mulai mempertimbangkan integrasi AI Agent pada armada drone dan kendaraan taktis untuk menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan yang sulit dijangkau.
  2. Efisiensi Logistik di Medan Sulit: Penggunaan kendaraan otonom untuk suplai amunisi dan logistik sangat relevan untuk geografis Indonesia yang berhutan lebat dan bergunung-gunung. Hal ini dapat mengurangi risiko kehilangan nyawa personel TNI dalam misi distribusi di wilayah konflik atau rawan.
  3. Kemandirian Teknologi Defense-Tech: Ketergantungan pada model LLM luar negeri menjadi catatan penting. Indonesia perlu mendorong riset lokal dalam bidang Machine Learning dan Semiconductor agar sistem pertahanan berbasis AI di masa depan tidak sepenuhnya bergantung pada hyperscaler asing yang memiliki kebijakan restriktif.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin