Ad space available
Science Corp Mulai Uji Klinis Sensor Otak Biohybrid Pertama pada Manusia
Science Corp akan memulai uji klinis sensor otak biohybrid pertama yang menggabungkan neuron laboratorium dengan perangkat elektronik. Teknologi ini dipimpin oleh mantan co-founder Neuralink, Max Hodak, untuk solusi medis masa depan.

Science Corp Mulai Uji Klinis Sensor Otak Biohybrid Pertama pada Manusia
SAN FRANCISCO, (15 April 2024)
- Science Corp, pesaing utama Neuralink, akan memulai uji klinis manusia untuk Brain-Computer Interface (BCI) jenis biohybrid.
- Teknologi ini menggunakan neuron hasil laboratorium untuk menghubungkan perangkat elektronik dengan jaringan otak manusia secara alami.
- Berbeda dengan elektroda logam tradisional, sensor biohybrid ini dirancang untuk lebih awet dan meminimalisir risiko peradangan pada otak.
Science Corporation, startup neuroteknologi yang didirikan oleh mantan Presiden Neuralink, Max Hodak, mengumumkan langkah besar dalam pengembangan antarmuka otak-komputer (BCI). Perusahaan ini telah merekrut Dr. Murat Günel, Kepala Bedah Saraf dari Yale Medical School, untuk memimpin uji klinis pertama pada manusia untuk sensor otak biohybrid mereka.
Inovasi Biohybrid: Menggabungkan Biologi dan Elektronik
Berbeda dengan pendekatan Neuralink milik Elon Musk yang menggunakan kabel elektroda logam tipis yang dimasukkan ke dalam jaringan otak, Science Corp mengembangkan sensor "biohybrid". Teknologi ini menggunakan neuron yang dibiakkan di laboratorium sebagai perantara antara sirkuit elektronik dan sel saraf asli manusia.
Dr. Günel menjelaskan bahwa penggunaan logam dalam jangka panjang seringkali memicu reaksi penolakan dari tubuh, yang menyebabkan terbentuknya jaringan parut di sekitar elektroda. "Pendekatan Science Corp dengan menciptakan jembatan biologis antara mesin dan manusia adalah lompatan besar untuk memastikan stabilitas perangkat dalam jangka waktu lama," ujarnya.
Prosedur yang Lebih Aman
Sensor baru ini memiliki ukuran sebesar kacang polong dan berisi lebih dari 500 elektroda perekam. Namun, alih-alih ditanam jauh ke dalam jaringan otak, sensor ini hanya akan diletakkan di permukaan korteks otak. Hal ini diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi bedah saraf yang serius.
Science Corp baru-baru ini juga mengamankan pendanaan sebesar $230 juta, yang akan digunakan untuk mempercepat pengembangan produk PRIMA—sebuah implan retina yang saat ini sedang menjalani uji coba untuk membantu pasien tunanetra melihat kembali.
Dampak Bagi Masa Depan Kedokteran
Meskipun uji klinis ini masih dalam tahap awal, keberhasilan teknologi biohybrid dapat membuka pintu bagi pengobatan berbagai penyakit neurologis, mulai dari kelumpuhan hingga stroke. Bagi Indonesia, perkembangan ini memberikan harapan baru dalam rehabilitasi saraf, meskipun tantangan biaya dan infrastruktur medis tetap menjadi faktor penentu adopsi teknologi ini di tanah air.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Ikuti perkembangan teknologi AI dan Neuroteknologi melalui kanal berita kami.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


