Ad space available
ScaleOps Raih $130 Juta: Solusi Hemat Biaya GPU dan Kubernetes hingga 80%
ScaleOps baru saja mengamankan pendanaan Seri C senilai $130 juta untuk merevolusi manajemen infrastruktur cloud melalui otomatisasi Kubernetes. Platform ini membantu perusahaan menghemat biaya hingga 80% di tengah kelangkaan sumber daya GPU global.

ScaleOps Raih Pendanaan $130 Juta demi Efisiensi GPU dan Kubernetes di Era AI
JAKARTA, (21 November 2024)
- ScaleOps mengamankan pendanaan Seri C sebesar $130 juta yang dipimpin oleh Insight Partners.
- Platform ini menggunakan otomatisasi real-time untuk mengelola Kubernetes dan GPU, mengklaim penghematan biaya hingga 80%.
- Solusi ini menjadi krusial di tengah kelangkaan GPU global dan melonjaknya biaya operasional cloud bagi perusahaan AI.
Di tengah lonjakan adopsi kecerdasan buatan (AI) secara global, banyak perusahaan justru menghadapi masalah pemborosan sumber daya komputasi yang masif. Startup asal New York, ScaleOps, baru saja mengumumkan perolehan pendanaan Seri C senilai $130 juta untuk mengatasi inefisiensi pada infrastruktur Cloud Computing.
Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Insight Partners, dengan partisipasi dari investor terdahulu seperti Lightspeed Venture Partners dan NFX. Dengan suntikan modal baru ini, ScaleOps berencana memperluas kemampuan platformnya dalam mengoptimalkan penggunaan GPU yang kini menjadi komoditas paling dicari di dunia teknologi.
Otomatisasi untuk Mengatasi Kelangkaan GPU
Masalah utama yang dihadapi industri saat ini bukanlah sekadar kelangkaan fisik GPU, melainkan manajemen sumber daya yang buruk. Banyak unit GPU yang dibiarkan idle atau beban kerja (workload) yang dikonfigurasi secara berlebihan (over-provisioned), sehingga biaya cloud membengkak tanpa hasil yang optimal.
ScaleOps menawarkan solusi berupa perangkat lunak yang secara otomatis mengelola dan mengalokasikan sumber daya komputasi secara real-time. Platform ini bekerja di atas Kubernetes, sistem yang populer untuk menjalankan aplikasi dalam cluster besar, namun sering kali sulit dikelola karena konfigurasi statis.
"Kubernetes adalah sistem yang luar biasa, namun sangat bergantung pada konfigurasi statis. Padahal, aplikasi saat ini sangat dinamis," ujar Yodar Shafrir, CEO ScaleOps. Menurutnya, tim DevOps sering kali kesulitan menjaga efisiensi karena infrastruktur tidak mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan inference AI yang cepat.
Dampak bagi Ekosistem Teknologi
Kehadiran ScaleOps memberikan sinyal penting bagi perusahaan rintisan dan korporasi di Indonesia yang mulai beralih ke layanan cloud berbasis AI. Dengan efisiensi hingga 80%, perusahaan dapat mengalokasikan anggaran infrastruktur mereka untuk inovasi produk alih-alih membayar kapasitas server yang tidak terpakai.
Saat ini, teknologi ScaleOps telah digunakan oleh raksasa global seperti Adobe, Salesforce, dan DocuSign. Langkah ini membuktikan bahwa manajemen infrastruktur otonom akan menjadi standar baru dalam operasional IT modern.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


