Ad space available
Sarvam Luncurkan Indus, Chat App AI Penantang ChatGPT di Pasar India
Startup AI Sarvam resmi merilis aplikasi chat Indus berbasis model LLM 105B untuk menantang dominasi OpenAI dan Google di India.

Sarvam Luncurkan Indus, Chat App AI Penantang ChatGPT di Pasar India
[NEW DELHI], (20 Februari 2026)
- Sarvam resmi merilis Indus, aplikasi chat AI yang menggunakan model LLM internal berkapasitas 105 miliar parameter (105B).
- India kini menjadi medan tempur utama Generative AI dengan 100 juta pengguna mingguan aktif ChatGPT.
- Startup ini telah mengumpulkan pendanaan sebesar $41 juta (sekitar Rp644 miliar) untuk membangun infrastruktur AI berorientasi lokal.
Melansir laporan dari TechCrunch, startup AI asal India, Sarvam, resmi meluncurkan aplikasi chat Indus untuk pengguna web dan mobile pada hari Jumat. Langkah ini menandai masuknya pemain lokal ke pasar yang selama ini didominasi oleh raksasa teknologi global seperti OpenAI, Anthropic, dan Google.
Peluncuran ini dilakukan saat India bertransformasi menjadi pusat adopsi Generative AI terbesar di dunia. Mengutip data terbaru, CEO OpenAI Sam Altman menyatakan bahwa ChatGPT kini memiliki lebih dari 100 juta pengguna mingguan aktif di India. Sementara itu, Anthropic melaporkan bahwa India menyumbang 5,8% dari total penggunaan Claude, menjadikannya pasar terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Kekuatan Model Lokal 105B
Indus berfungsi sebagai antarmuka chat untuk model Sarvam 105B yang baru diumumkan, sebuah Large Language Model (LLM) dengan 105 miliar parameter. Aplikasi ini hadir hanya dua hari setelah Sarvam memperkenalkan model 105B dan 30B di ajang India AI Impact Summit di New Delhi.
Selain aplikasi konsumen, Sarvam juga menguraikan inisiatif korporasi dan rencana perangkat keras. Mereka telah mengumumkan kemitraan strategis dengan HMD untuk menghadirkan fitur AI pada ponsel fitur (feature phones) Nokia, serta berkolaborasi dengan Bosch untuk aplikasi otomotif berbasis AI.
Saat ini, Indus tersedia dalam versi beta di platform iOS, Android, dan web. Pengguna dapat memberikan perintah melalui teks maupun suara dan menerima respons dalam format teks dan audio. Untuk sementara, layanan ini tampaknya masih terbatas untuk pengguna dengan nomor telepon atau akun di wilayah India.
Tantangan dan Kapasitas Komputasi
Meski menjanjikan, aplikasi ini masih memiliki beberapa keterbatasan teknis. Pengguna saat ini tidak dapat menghapus riwayat chat tanpa menghapus akun secara permanen. Selain itu, fitur reasoning pada aplikasi tidak dapat dimatikan, yang terkadang menyebabkan respons menjadi lebih lambat.
Co-founder Sarvam, Pratyush Kumar, menjelaskan melalui platform X bahwa peluncuran Indus dilakukan secara bertahap karena keterbatasan kapasitas Data Center dan GPU yang tersedia. "Kami meluncurkan Indus secara bertahap dengan kapasitas komputasi yang terbatas, sehingga pengguna mungkin akan masuk ke dalam daftar tunggu (waitlist) terlebih dahulu," ungkapnya.
Didirikan pada tahun 2023, Sarvam telah menggalang dana sebesar $41 juta dari investor kelas kakap seperti Lightspeed Venture Partners, Peak XV Partners, dan Khosla Ventures. Fokus utama mereka adalah membangun infrastruktur AI yang disesuaikan dengan konteks linguistik dan budaya lokal India.
Dampak bagi Indonesia
Langkah Sarvam di India memberikan refleksi penting bagi ekosistem teknologi di Indonesia. Dengan total pendanaan sekitar Rp644 miliar, Sarvam menunjukkan bahwa kedaulatan digital melalui LLM lokal sangat mungkin dilakukan. Di Indonesia, inisiatif serupa seperti proyek Sahabat-AI yang didukung oleh grup teknologi besar bertujuan untuk mengatasi kesenjangan bahasa pada model AI global yang sering kali kurang akurat dalam menangkap nuansa dialek lokal.
Kesuksesan Indus bisa menjadi tolok ukur bagi startup lokal Indonesia untuk mengembangkan AI Agent yang tidak hanya bergantung pada infrastruktur Cloud Computing global, tetapi juga mengoptimalkan penggunaan bahasa daerah. Dari sisi regulasi, tren "Sovereign AI" atau AI kedaulatan ini kemungkinan akan mendorong pemerintah Indonesia untuk memperketat aturan mengenai lokalisasi data dan pengembangan model AI yang memahami konteks budaya nasional.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


