Advertisement

Ad space available

Berita AI

Sandbar Raih US$23 Juta untuk Kembangkan Cincin Pintar AI Note-Taking

Sandbar mengamankan pendanaan Seri A senilai US$23 juta untuk meluncurkan 'Stream', cincin pintar yang fokus pada produktivitas dan pencatatan suara.

Tim Rekayasa AI
Penulis
10 Maret 2026
4 min read
#Sandbar#Smart Ring#Generative AI#Startup#Hardware
Sandbar Raih US$23 Juta untuk Kembangkan Cincin Pintar AI Note-Taking

Sandbar Raih US$23 Juta untuk Kembangkan Cincin Pintar AI Note-Taking

SAN FRANCISCO, (10 Maret 2026)

Key Takeaway
  • Sandbar mengamankan pendanaan Seri A senilai US$23 juta (sekitar Rp368 miliar) yang dipimpin oleh Adjacent dan Kindred Ventures.
  • Produk utamanya, cincin pintar bernama "Stream", berfokus pada fitur note-taking, asisten AI, dan kontrol media, bukan pelacakan kesehatan.
  • Perangkat ini dijadwalkan mulai dikirimkan kepada pelanggan pada musim panas 2026.

Melansir laporan dari TechCrunch, startup asal San Francisco, Sandbar, baru saja meraih pendanaan Seri A sebesar US$23 juta. Perusahaan yang didirikan oleh mantan karyawan Meta, Mina Fahmi dan Kirak Hong, ini mengembangkan perangkat wearable inovatif berupa cincin pintar bernama Stream yang mengintegrasikan teknologi Generative AI untuk produktivitas.

Berbeda dengan pemain besar seperti Oura yang mendominasi pasar lewat fitur pelacakan kesehatan, Sandbar memposisikan Stream sebagai alat bantu kerja. Cincin ini dilengkapi dengan mikrofon yang secara default berada dalam kondisi mati demi privasi, namun dapat diaktifkan melalui panel sentuh di bagian atas untuk merekam catatan suara atau berinteraksi dengan asisten AI melalui aplikasi pendamping di smartphone.

Inovasi Hardware untuk Produktivitas

CEO Sandbar, Mina Fahmi, menyatakan bahwa pengembangan cincin ini telah memakan waktu lebih dari dua tahun. Mikrofon pada Stream dirancang khusus untuk sensitivitas jarak dekat (proximity), sehingga pengguna perlu mengangkat tangan ke arah wajah untuk melakukan pencatatan. Selain mencatat, perangkat ini juga berfungsi sebagai kontrol media untuk memutar, menjeda, atau mengatur volume musik.

Fahmi mengungkapkan bahwa antusiasme pasar sangat tinggi, di mana gelombang pertama pre-order telah terjual habis tahun lalu. Beberapa pengguna awal dilaporkan menggunakan cincin ini lebih dari 50 kali sehari untuk merencanakan presentasi hingga menyusun menu makanan.

Ke depannya, Sandbar berencana untuk mengimplementasikan agentic workflows yang memungkinkan pengguna melakukan tindakan nyata (seperti mengirim email atau memesan tiket) secara langsung dari catatan yang terekam. Mereka juga sedang mengembangkan platform web dan berupaya menurunkan tingkat latency dari respon model AI agar percakapan terasa lebih natural.

Persaingan di Industri Wearable AI

Pasar perangkat hardware khusus untuk note-taking berbasis AI memang tengah berkembang pesat. Sandbar kini bersaing dengan Plaud yang merilis perangkat perekam pertemuan, Omi yang menawarkan antarmuka otak-ke-AI, serta Pebble yang berencana merilis cincin serupa dengan harga terjangkau sebesar US$75.

Investor dari Adjacent, Nico Wittenborn, menilai form faktor yang ditawarkan Sandbar lebih unggul karena terlihat seperti perhiasan biasa namun memiliki fungsi profesional yang kuat. Dengan total pendanaan yang kini mencapai US$36 juta, Sandbar berencana menggandakan tim Software dan Machine Learning mereka untuk mempercepat peluncuran produk secara global.

Dampak bagi Indonesia

Masuknya Sandbar ke pasar perangkat AI global memberikan sinyal kuat bagi konsumen dan pengembang teknologi di Indonesia:

  1. Potensi Pasar dan Harga: Jika dikonversi, pendanaan Sandbar setara dengan Rp368 miliar. Untuk konsumen di Indonesia, perangkat serupa dari kompetitor seperti Pebble dihargai sekitar Rp1,2 juta. Stream dari Sandbar kemungkinan akan menyasar segmen premium dengan estimasi harga di kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta, bersaing dengan cincin pintar kesehatan yang sudah mulai populer di e-commerce lokal.
  2. Pergeseran Tren Gadget: Tren smart ring di Indonesia saat ini masih didominasi oleh fitur kebugaran. Kehadiran Stream dapat memicu pergeseran di mana profesional muda di Jakarta atau kota besar lainnya mulai mengadopsi wearable untuk mendukung multitasking dan produktivitas harian.
  3. Kesiapan Infrastruktur AI: Penggunaan fitur multi-turn conversation pada Stream sangat bergantung pada koneksi internet yang stabil dan layanan Cloud Computing. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi penyedia infrastruktur data center di Indonesia untuk mendukung beban kerja AI yang semakin mobile.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin