Advertisement

Ad space available

Berita AI

Sam Altman: Startup Fusion Helion Negosiasi Pasok Listrik ke OpenAI

Helion Energy, startup fusi nuklir yang didukung Sam Altman, dilaporkan sedang dalam pembicaraan untuk memasok 12,5% output listriknya ke OpenAI. Kesepakatan ini menargetkan pasokan hingga 50 gigawatt pada tahun 2035.

Tim Rekayasa AI
Penulis
23 Maret 2026
4 min read
#OpenAI#Helion Energy#Fusion#Sam Altman#Clean Energy
Sam Altman: Startup Fusion Helion Negosiasi Pasok Listrik ke OpenAI

Sam Altman: Startup Fusion Helion Negosiasi Pasok Listrik ke OpenAI

SAN FRANCISCO, (23 MARET 2026)

Key Takeaway
  1. Helion Energy tengah bernegosiasi untuk menjual 12,5% dari total output energinya kepada OpenAI guna mendukung kebutuhan komputasi masif.
  2. Target ambisius kesepakatan ini mencakup pasokan sebesar 5 gigawatt pada tahun 2030 dan melonjak menjadi 50 gigawatt pada 2035.
  3. Berbeda dengan startup fusi lainnya, Helion menggunakan teknologi magnet untuk mengubah energi dari reaksi Plasma langsung menjadi listrik tanpa melalui turbin uap.

Mengutip laporan dari TechCrunch dan data awal yang dipublikasikan oleh Axios, Helion Energy, startup fusi nuklir yang didukung secara finansial oleh Sam Altman, dilaporkan tengah dalam tahap awal negosiasi untuk memasok daya ke OpenAI. Langkah strategis ini menggarisbawahi kebutuhan energi yang kian eksponensial bagi pengembangan model AI di masa depan.

Jika detail kesepakatan ini akurat, Helion berkomitmen untuk memberikan 12,5% dari kapasitas produksinya kepada OpenAI. Targetnya adalah menyediakan 5 gigawatt pada tahun 2030 dan mencapai 50 gigawatt pada tahun 2035. Sebagai perbandingan, mitra OpenAI, Microsoft, telah lebih dulu menandatangani kesepakatan serupa dengan Helion pada tahun 2023 untuk pembelian daya yang dimulai pada 2028.

Untuk memenuhi target ambisius tersebut, Helion harus melakukan skalabilitas yang luar biasa. Dengan estimasi bahwa setiap reaktor fusi mereka menghasilkan 50 megawatt, perusahaan perlu membangun dan memasang sekitar 800 reaktor pada tahun 2030, serta tambahan 7.200 reaktor lagi dalam lima tahun berikutnya.

Inovasi Teknologi Magnet dan Plasma

Mayoritas startup di sektor Fusion mengejar metode konvensional dengan memanen panas dari reaksi nuklir untuk memutar turbin uap. Namun, Helion mengambil pendekatan berbeda. Di dalam reaktor berbentuk jam pasir mereka, bahan bakar fusi diubah menjadi Plasma, lalu ditembakkan menggunakan medan magnet hingga bertabrakan di bagian tengah.

Tabrakan ini menghasilkan kompresi magnetik yang memicu reaksi fusi. Energi dari reaksi tersebut kemudian mendorong balik medan magnet, yang secara langsung dikonversi menjadi arus listrik. Saat ini, prototipe mereka yang bernama Polaris telah berhasil mencapai suhu 150 juta derajat Celsius pada Februari lalu, mendekati target operasional komersial sebesar 200 juta derajat Celsius.

Sam Altman sendiri dilaporkan telah mengundurkan diri dari posisi ketua dewan direksi di Helion dan menarik diri dari diskusi formal untuk menghindari konflik kepentingan, mengingat perannya sebagai CEO di OpenAI. Langkah serupa pernah diambil Altman pada startup reaktor nuklir modular, Oklo, guna memfasilitasi kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi terkemuka.

Dampak bagi Indonesia

Tren pemanfaatan energi fusi untuk Data Center AI global ini memberikan sinyal penting bagi pasar teknologi di Indonesia. Seiring dengan ambisi pemerintah menjadikan Indonesia sebagai hub Data Center di Asia Tenggara, ketersediaan energi bersih yang stabil dan masif menjadi syarat mutlak.

  1. Kapasitas Masif: Skala 50 gigawatt yang ditargetkan Helion hampir menyamai 70% dari total kapasitas pembangkit listrik terpasang nasional Indonesia saat ini (sekitar 72-75 GW). Ini menunjukkan betapa besarnya haus energi industri AI global.
  2. Investasi Deep Tech: Indonesia perlu mulai melirik regulasi dan investasi pada teknologi energi alternatif seperti nuklir modular atau fusi untuk mendukung infrastruktur Cloud Computing lokal agar tetap kompetitif secara biaya operasional.
  3. Harga Listrik: Jika teknologi fusi berhasil dikomersialisasi, biaya listrik per kWh diprediksi akan turun drastis, yang secara tidak langsung dapat menurunkan biaya langganan layanan berbasis AI bagi pengguna di Indonesia di masa depan.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin