Ad space available
Salesforce Libatkan Pelanggan Susun Roadmap AI, Fokus pada Agentic AI
Salesforce kini melibatkan pelanggan secara real-time untuk menyusun roadmap AI mereka guna memastikan relevansi produk di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Salesforce Crowdsourcing Roadmap AI: Pelanggan Kini Pegang Kendali Pengembangan Produk
SAN FRANCISCO, (30 April 2026)
- Salesforce mengadopsi strategi crowdsourcing real-time dengan pelanggan untuk menentukan arah pengembangan roadmap AI mereka.
- Fokus utama bergeser ke 'Agentic AI' dan penyediaan komponen operating system di sekitar LLM untuk fungsionalitas otonom.
- Feedback dari perusahaan seperti Engine dan PenFed membantu Salesforce memperbaiki fitur voice AI dan workflow ITSM secara instan.
Kecerdasan buatan terus berkembang dengan kecepatan yang luar biasa, memaksa perusahaan untuk mengembangkan dan merilis produk baru lebih cepat dari sebelumnya atau berisiko tertinggal oleh kompetitor. Melansir laporan dari TechCrunch, raksasa software manajemen pelanggan Salesforce percaya bahwa mereka telah menemukan strategi yang tepat: melakukan crowdsourcing pada roadmap AI mereka secara real-time langsung dari feedback pelanggan.
Salesforce bukan satu-satunya perusahaan yang bekerja sama erat dengan pelanggan untuk mendapatkan masukan produk. Namun, pendekatan ini menjadi sangat menonjol mengingat skala perusahaan yang masif dan intensitas hubungannya. Salesforce diketahui mengadakan pertemuan dengan beberapa pelanggan kunci hingga seminggu sekali untuk memastikan produk AI yang dibangun benar-benar menyelesaikan masalah nyata di dunia usaha.
Strategi Bottom-Up dan 'Last-Mile Tech'
Jayesh Govindarajan, Executive Vice President di Salesforce AI, menjelaskan bahwa 18.000 pelanggan mereka adalah sumber informasi yang sangat berharga untuk mencapai kesuksesan pelanggan. "Seiring berjalannya waktu, kita bisa mendapatkan konteks yang lebih baik. Saat LLM menjadi lebih cerdas, sistem AI Agent akan melakukan perilaku yang semakin otonom secara penuh," ujarnya dalam sesi wawancara dengan TechCrunch.
Masalah utama yang diidentifikasi Salesforce adalah 'last-mile tech'. Banyak perusahaan ingin segera mengadopsi teknologi ini namun tidak memiliki jembatan teknis untuk menggunakan LLM secara maksimal. Hal inilah yang mendorong peluncuran platform manajemen agen, Agentforce, pada akhir 2024. Daripada mengikuti timeline produk yang kaku, Salesforce kini menggunakan strategi bottom-up yang dipimpin oleh tema-tema besar seperti konteks agen, observabilitas, dan kontrol deterministik.
Inovasi Berdasarkan Masalah Nyata
Engine, sebuah platform manajemen perjalanan, adalah salah satu perusahaan yang terlibat dalam loop feedback ini. Melalui kemitraan ini, Engine mendapatkan akses ke alat AI sebelum dirilis secara umum. CEO Engine, Elia Wallen, mencontohkan bagaimana ia memberikan masukan tentang suara AI Agent yang terdengar tidak natural saat melakukan pemesanan hotel. Dalam waktu singkat, Salesforce melakukan perubahan teknis yang langsung menunjukkan hasil positif pada pengujian perusahaan.
Contoh lain datang dari PenFed, sebuah federal credit union, yang berhasil merampingkan tumpukan teknologi mereka dengan bekerja sama erat dengan Salesforce. PenFed mengembangkan workflow IT Service Management (ITSM) sendiri menggunakan alat yang ada di Agentforce. Salesforce kemudian melihat kesuksesan ini dan mengintegrasikan workflow tersebut ke dalam platform global mereka agar bisa digunakan oleh pelanggan lain.
Dampak bagi Indonesia
Strategi Salesforce ini memiliki relevansi kuat bagi lanskap korporasi di Indonesia yang tengah gencar melakukan transformasi digital. Dengan mengadopsi model feedback real-time, solusi AI yang ditawarkan akan menjadi lebih aplikatif bagi perusahaan lokal di sektor perbankan, e-commerce, dan layanan publik.
Dari sisi ekonomi, efisiensi yang ditawarkan oleh AI Agent dapat membantu perusahaan Indonesia mengoptimalkan biaya operasional, terutama di bagian customer service dan manajemen IT, di mana biaya tenaga kerja dan infrastruktur digital terus meningkat. Meskipun harga lisensi software enterprise biasanya dipatok dalam USD (yang jika dikonversi ke IDR dapat mencapai jutaan rupiah per user per bulan), kemampuan untuk memangkas 'last-mile tech' yang rumit dapat memberikan ROI (Return on Investment) yang lebih cepat bagi pelaku bisnis di tanah air.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


