Ad space available
Riset MIT: Bagaimana Bahasa Membentuk Otak dan Masa Depan AI
Olivia Honeycutt dari MIT meneliti hubungan antara kognisi manusia, linguistik, dan teknologi AI. Riset ini mengeksplorasi bagaimana penguasaan bahasa mempengaruhi cara kerja otak dan pengembangan Large Language Models.

Riset MIT: Bagaimana Bahasa Membentuk Otak dan Masa Depan AI
CAMBRIDGE, (1 Mei 2026)
- Riset ini menggabungkan studi Computation and Cognition dengan linguistik untuk memahami perbedaan cara kerja otak manusia dibandingkan dengan Neural Networks pada AI.
- Olivia Honeycutt menekankan bahwa bahasa adalah medium pemikiran yang dapat membatasi atau memperluas cara pandang seseorang terhadap dunia.
- Integrasi antara teknologi, sains kognitif, dan kebijakan publik diperlukan untuk menciptakan AI yang lebih inklusif dan meningkatkan literasi global.
Mengutip laporan dari MIT News, Olivia Honeycutt, seorang mahasiswa senior di Massachusetts Institute of Technology, sedang melakukan riset mendalam di persimpangan antara pemikiran manusia, pembelajaran bahasa, dan teknologi. Dengan mengambil konsentrasi ganda dalam Computation and Cognition serta linguistik, Honeycutt mengeksplorasi bagaimana komunikasi membentuk pandangan dunia kita.
Honeycutt tertarik pada bagaimana otak mengatur ulang dirinya sendiri saat dihadapkan pada tantangan komunikasi, seperti penggunaan bahasa isyarat. Menurutnya, berbicara dalam berbagai bahasa dan dialek sambil mengelola nuansa emosional serta budaya dapat menggeser pengalaman seseorang terhadap dunia. Hal ini membuka peluang riset di berbagai disiplin ilmu mulai dari neurologi, Large Language Models (LLMs), hingga psikologi.
Pendekatan MIT terhadap Studi Linguistik
Di MIT, Honeycutt menemukan bahwa jurusan Computation and Cognition memberikan landasan unik untuk mempelajari teknologi yang tetap berpusat pada manusia. Ia menggunakan pendekatan berbasis data untuk menganalisis bahasa, menggabungkan ketelitian sains untuk mengelola data manusia yang seringkali dianggap kompleks dan kacau.
Risetnya tidak hanya terbatas di laboratorium. Pada tahun 2025, ia melakukan perjalanan ke Afrika Selatan untuk mendukung kampanye "Right to Read". Di sana, ia mempelajari bagaimana keragaman linguistik menjadi tantangan dalam sistem pendidikan, di mana anak-anak seringkali kesulitan karena bahasa yang digunakan di sekolah berbeda dengan bahasa ibu yang mereka gunakan di rumah.
Hubungan Manusia dan AI
Honeycutt menyoroti perbedaan krusial antara model bahasa manusia dan LLMs. Ia percaya bahwa pemahaman bahasa yang mendalam sangat penting agar setiap orang memiliki akses untuk mengomunikasikan pemikiran mereka secara efektif. "Akses ke kosa kata yang luas, termasuk kata-kata untuk emosi, dapat meningkatkan kecerdasan emosional Anda," ujarnya.
Setelah lulus, Honeycutt berencana melanjutkan studi ke bidang hukum dan kebijakan publik. Ia berambisi membantu siswa yang kurang terlayani melalui peningkatan literasi dan memastikan keberagaman linguistik tetap terjaga melalui kebijakan yang didukung oleh riset ilmiah.
Dampak bagi Indonesia
Indonesia, sebagai negara dengan lebih dari 700 bahasa daerah, dapat memetik pelajaran penting dari riset Honeycutt. Pengembangan Generative AI dan LLM di tanah air tidak boleh hanya terpaku pada bahasa Indonesia formal, tetapi juga harus mulai mengintegrasikan dialek lokal agar teknologi ini lebih inklusif bagi seluruh rakyat.
Selain itu, investasi pada infrastruktur seperti Data Center dan Cloud Computing untuk mendukung riset linguistik komputasional lokal sangat diperlukan. Jika AI Agent dapat dikembangkan untuk membantu transisi dari bahasa daerah ke bahasa nasional di sekolah-sekolah pelosok, Indonesia dapat mempercepat peningkatan literasi nasional dan memperkecil kesenjangan pendidikan di daerah terpencil.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


