Advertisement

Ad space available

Berita AI

Raksasa AI Habiskan Jutaan Dolar untuk Jegal Kandidat Kongres Pro-Regulasi

Super PAC yang didukung OpenAI dan a16z mengucurkan dana hingga US$125 juta untuk melawan kandidat yang mendorong regulasi AI ketat.

Tim Rekayasa AI
Penulis
3 Maret 2026
4 min read
#Artificial Intelligence#Silicon Valley#Regulasi AI#Alex Bores#Cybersecurity
Raksasa AI Habiskan Jutaan Dolar untuk Jegal Kandidat Kongres Pro-Regulasi

Raksasa AI Habiskan Jutaan Dolar untuk Jegal Kandidat Kongres Pro-Regulasi

NEW YORK, (3 Maret 2026)

Key Takeaway
  • Super PAC "Leading the Future" yang didukung oleh OpenAI, a16z, dan Palantir telah mengumpulkan dana sebesar US$125 juta untuk melawan kandidat yang vokal mengenai regulasi AI.
  • Alex Bores, kandidat Kongres dengan latar belakang Computer Science, menjadi target serangan iklan senilai US$10 juta karena perannya dalam mengesahkan RAISE Act di New York.
  • Persaingan ini mencerminkan konflik internal di Silicon Valley antara pendukung pengembangan AI tanpa batas dengan mereka yang menuntut transparansi serta pengawasan publik.

Mengutip laporan dari TechCrunch, sejumlah raksasa industri kecerdasan buatan (AI) kini tengah melancarkan serangan finansial besar-besaran terhadap Alex Bores, anggota dewan New York yang mencalonkan diri untuk distrik kongres ke-12. Bores, yang merupakan mantan eksekutif di Palantir, dianggap sebagai ancaman serius bagi industri karena pemahamannya yang mendalam terhadap teknologi dan dukungannya pada regulasi yang lebih ketat.

Kampanye negatif terhadap Bores didanai oleh Super PAC bernama Leading the Future. Kelompok ini didukung oleh tokoh-tokoh besar Silicon Valley, termasuk co-founder Palantir Joe Lonsdale, Presiden OpenAI Greg Brockman, firma VC Andreessen Horowitz (a16z), dan startup AI search Perplexity. Secara total, PAC tersebut telah mengumpulkan dana sebesar US$125 juta (sekitar Rp1,9 triliun) untuk menyerang kandidat yang mendorong legislasi AI di tingkat negara bagian.

Serangan Personal dan Latar Belakang Teknologi

Iklan yang menyerang Bores menuduhnya meraup ratusan ribu dolar dari teknologi yang digunakan oleh ICE untuk deportasi massal saat ia bekerja di Palantir. Namun, melansir data dari wawancara terbarunya, Bores mengklarifikasi bahwa ia justru mengundurkan diri dari Palantir pada 2019 secara spesifik karena ketidaksetujuannya terhadap kerja sama perusahaan dengan lembaga tersebut.

"Mereka berkomitmen menghabiskan setidaknya US$10 juta untuk melawan saya... karena mereka tahu saya adalah ancaman terbesar bagi upaya mereka menguasai pekerja Amerika, pikiran anak-anak kita, iklim, dan biaya utilitas tanpa kendali," ujar Bores. Ia menambahkan bahwa latar belakangnya di bidang teknologi justru membuatnya sulit untuk diabaikan atau dianggap tidak mengerti persoalan.

Kemarahan Silicon Valley terhadap Bores memuncak setelah ia mensponsori RAISE Act di New York. Undang-undang ini mewajibkan laboratorium AI besar dengan pendapatan di atas US$500 juta untuk memiliki rencana keselamatan publik yang transparan dan melaporkan setiap insiden keselamatan yang bersifat katastrofik.

Fragmentasi di Silicon Valley

Tidak semua perusahaan teknologi berada di kubu yang sama dalam perang lobi ini. Sementara Meta telah mengucurkan US$65 juta ke Super PAC lain untuk mendukung kandidat ramah industri, Anthropic justru mendukung kelompok bernama Public First Action yang mengucurkan US$450.000 untuk membela Bores. Kelompok ini memandang regulasi, transparansi, dan pengawasan publik sebagai hal yang krusial bagi kemajuan AI yang sehat.

Bores berpendapat bahwa sebagian besar warga Amerika berada di posisi tengah: mereka menggunakan AI dan melihat potensinya, namun khawatir dengan kecepatan perkembangannya yang bergerak terlalu cepat tanpa kendali pemerintah.

Dampak bagi Indonesia

Lobi politik besar-besaran di Amerika Serikat ini memiliki implikasi yang signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:

  1. Standar Regulasi Global: Jika lobi pro-industri berhasil melemahkan regulasi di AS, Indonesia kemungkinan akan menghadapi tantangan dalam merumuskan kerangka kerja etika AI nasional. Standar transparansi yang diperjuangkan Bores (seperti metadata untuk konten sintetik) sangat krusial bagi Indonesia dalam memitigasi penyebaran disinformasi.
  2. Dominasi Pemain Global vs Lokal: Dengan anggaran lobi mencapai miliaran dolar (sekitar Rp1,9 triliun), perusahaan-perusahaan besar ini menunjukkan kekuatan finansial yang dapat mendikte narasi teknologi dunia. Hal ini berpotensi mempersulit startup lokal Indonesia untuk bersaing jika aturan main hanya menguntungkan raksasa global yang "anti-regulasi".
  3. Harga Layanan AI: Upaya penghindaran regulasi seringkali bertujuan untuk menekan biaya operasional. Jika regulasi ketat seperti RAISE Act akhirnya diadopsi secara luas, pengguna di Indonesia mungkin akan melihat penyesuaian harga pada layanan Generative AI (seperti ChatGPT atau Perplexity) untuk menutupi biaya kepatuhan (compliance) dan keamanan data.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin