Advertisement

Ad space available

Berita AI

Proyek AI Fable Berupaya Hidupkan Kembali Film Orson Welles yang Hilang

Startup Fable menggunakan Generative AI untuk merekonstruksi mahakarya Orson Welles yang hilang, memicu perdebatan antara inovasi teknologi dan orisinalitas seni.

Tim Rekayasa AI
Penulis
8 Februari 2026
4 min read
#Generative AI#Orson Welles#Fable#Startup#Restorasi Film
Proyek AI Fable Berupaya Hidupkan Kembali Film Orson Welles yang Hilang

Ambisi Fable Merekonstruksi Mahakarya Sinema yang Hilang dengan AI

NEW YORK, (8 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Startup Fable berupaya merekonstruksi 43 menit cuplikan film "The Magnificent Ambersons" karya Orson Welles yang hilang menggunakan teknologi Generative AI.
  • Proyek ini menggabungkan Live Action dengan overlay digital untuk menghadirkan kembali aktor asli, namun masih menghadapi kendala teknis seperti anomali visual dan ekspresi karakter yang tidak akurat.
  • Meski mendapat dukungan dari biografer Simon Callow, proyek ini memicu perdebatan etika mengenai batasan manipulasi sejarah dalam seni.

Mengutip laporan dari TechCrunch dan profil mendalam oleh Michael Schulman di The New Yorker, dunia perfilman sedang dihebohkan oleh upaya sebuah Startup bernama Fable. Perusahaan yang didirikan oleh Edward Saatchi ini berencana merekonstruksi cuplikan yang hilang dari film klasik Orson Welles, "The Magnificent Ambersons", menggunakan teknologi Generative AI.

Proyek ini menjadi kontroversial karena "Ambersons" dianggap sebagai salah satu "holy grail" dalam sejarah sinema. Pada tahun 1942, pihak Studio memotong 43 menit durasi film tersebut setelah pemutaran perdana yang dianggap gagal, mengubah akhir ceritanya, dan akhirnya menghancurkan potongan asli film tersebut untuk mengosongkan ruang di Vault.

Pendekatan Teknologi dan Visi Artistik

Melansir data dari Fable, proyek ini tidak sekadar menggunakan Deepfake sederhana. Tim ini merekam adegan baru secara Live Action, yang kemudian dilapisi dengan kreasi digital dari aktor asli dan suara mereka menggunakan teknologi Cloud Computing dan Neural Networks. Edward Saatchi mengklaim bahwa proyek ini lahir dari kecintaan mendalam terhadap karya Welles, bukan sekadar komersialisasi.

Namun, tantangan teknis tetap membayangi. Dalam pengembangannya, tim menemukan berbagai kesalahan teknis seperti penggambaran aktor Joseph Cotten yang tampak memiliki dua kepala dalam hasil Machine Learning, hingga masalah subjektif seperti AI yang cenderung membuat karakter wanita terlihat "terlalu bahagia" secara tidak proporsional dibandingkan suasana aslinya.

Perdebatan Etika dan Orisinalitas

Meski biografer Welles, Simon Callow, menyebut ini sebagai "ide cemerlang," tidak semua pihak setuju. Melissa Galt, putri dari aktris Anne Baxter yang membintangi film asli, menyatakan keberatannya. Ia menilai bahwa hasil AI bukanlah sebuah kebenaran orisinal, melainkan konstruksi kebenaran orang lain. Kritikus juga berargumen bahwa keterbatasan dan kehilangan adalah bagian dari apa yang membuat sebuah karya seni menjadi berharga.

Saatchi sendiri mengakui sempat melakukan kesalahan karena tidak menghubungi pihak ahli waris Welles sebelum mengumumkan proyek ini ke publik. Saat ini, ia tengah berusaha mendapatkan dukungan penuh dari Warner Bros. yang memegang hak cipta film tersebut.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena penggunaan Generative AI dalam restorasi film ini memiliki implikasi signifikan bagi industri kreatif di Indonesia:

  1. Restorasi Arsip Nasional: Indonesia memiliki banyak arsip film klasik (seperti karya Usmar Ismail) yang kondisinya memprihatinkan. Teknologi ini dapat menjadi solusi berbiaya efisien untuk menyelamatkan sejarah sinema nasional jika diimplementasikan dengan etika yang tepat.
  2. Regulasi Hak Cipta: Muncul urgensi bagi pemerintah melalui Kemenparekraf atau DJKI untuk memperjelas aturan penggunaan wajah dan suara aktor yang telah tiada dalam konten berbasis AI agar tidak terjadi sengketa hukum di masa depan.
  3. Pasar Komputasi: Meningkatnya proyek serupa akan mendorong permintaan infrastruktur Data Center dan GPU berperforma tinggi di lokal, mengingat proses rendering AI skala film membutuhkan daya komputasi yang sangat besar.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin