Ad space available
Pola Kalimat 'Bukan Hanya Ini — Tapi Juga Itu' Jadi Penanda Tulisan AI
Struktur kalimat 'bukan hanya ini — tapi juga itu' kini menjadi penanda kuat bahwa sebuah teks mungkin dihasilkan secara sintetis oleh AI. Laporan terbaru bahkan menunjukkan peningkatannya yang drastis dalam komunikasi korporat.

Pola Kalimat Khas AI: Indikasi Ketergantungan Perusahaan pada Generative AI?
SAN FRANCISCO, (Senin, 20 April 2026)
- Pola kalimat "bukan hanya ini — tapi juga itu" telah menjadi ciri khas tulisan yang dihasilkan oleh Generative AI.
- Laporan Barron's, mengutip data AlphaSense, menunjukkan penggunaan frasa ini dalam komunikasi korporat meningkat lebih dari empat kali lipat dari 2023 hingga 2025.
- Peningkatan ini menyiratkan ketergantungan yang makin besar perusahaan terhadap AI dalam penyusunan dokumen, sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang orisinalitas dan etika.
Kadang kala, sesuatu itu "bukan hanya satu hal — tapi juga hal lain." Struktur kalimat semacam ini, "bukan hanya ini — tapi juga itu," telah menjadi begitu lazim dalam tulisan yang dihasilkan oleh AI sehingga kini bukan lagi sekadar petunjuk bahwa sebuah tulisan mungkin sintetis — melainkan hampir menjadi jaminan.
Mengutip laporan TechCrunch yang merujuk pada analisis Barron's, fenomena ini tidak hanya menarik, tetapi juga menggelitik. Laporan Barron's tidak hanya menyoroti prevalensi frasa ini dalam komunikasi korporat, tetapi juga melakukan pemindaian basis data AlphaSense, sebuah firma intelijen pasar, untuk mengetahui seberapa sering frasa ini digunakan dalam rilis berita perusahaan, laporan pendapatan, dan pengajuan ke pemerintah.
Melansir data dari laporan Barron's, konstruksi kalimat ini bukan hanya keunikan komunikasi korporat — tetapi sebuah "epidemi." Penggunaannya meningkat lebih dari empat kali lipat, dari sekitar 50 kali disebutkan pada tahun 2023 menjadi lebih dari 200 kali pada tahun 2025.
Data tersebut tidak hanya berbicara — beberapa contoh dari tahun lalu turut menguatkan:
- "Pada tahun 2025, AI bukan hanya akan menjadi alat; ia akan menjadi kolaborator." (Cisco)
- "Masa depan otonomi bukan hanya di cakrawala; ia sudah terungkap." (Accenture)
- "Tim DevOps bukan hanya mengelola deployment, tetapi juga kepatuhan keamanan dan pengeluaran Cloud Computing." (Workday)
- "Sistem-sistem ini bukan hanya menjalankan tugas; mereka mulai belajar, beradaptasi, dan berkolaborasi." (McKinsey)
- "Ketika Bill Gates mendirikan Microsoft, ia membayangkan bukan hanya sebuah perusahaan perangkat lunak, tetapi sebuah pabrik perangkat lunak, yang tidak terikat oleh satu produk atau kategori pun." (Satya Nadella dalam unggahan blog Microsoft)
- "Ini bukan hanya tentang membangun alat untuk peran atau tugas tertentu. Ini tentang membangun alat yang memberdayakan setiap orang untuk menciptakan alat mereka sendiri." (Unggahan blog Microsoft yang sama.)
- "Bayangkan jika 8 miliar orang dapat memanggil seorang peneliti... bukan hanya untuk mendapatkan informasi tetapi menggunakan keahlian mereka untuk menyelesaikan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka." (Masih dari unggahan blog Microsoft yang sama.)
Bukan hanya kebetulan bahwa alat Generative AI sering menggunakan frasa ini — ini adalah cerminan dari tulisan manusia yang menjadi dasar pelatihan alat-alat tersebut (dan, patut dicatat, seringkali tanpa izin, yang bukan hanya menghina para penulis — tetapi juga pelanggaran). Selain itu, bukan hanya konstruksi kalimat ini — penggunaan em-dashes (tanda pisah panjang) juga kini dianggap sebagai petunjuk teks yang dihasilkan oleh AI.
Fenomena ini bukan hanya tren yang lucu — ini adalah simbol betapa bergantungnya perusahaan-perusahaan ini pada AI (meskipun kita tidak dapat memastikan apakah komunikasi di atas sepenuhnya dibantu AI). Jadi, lain kali Anda melihat kalimat seperti itu, ingatlah bahwa itu bukan hanya konstruksi yang menarik — itu mungkin merupakan gejala dari sesuatu yang lebih besar.
Dampak bagi Indonesia
Di Indonesia, tren penggunaan AI dalam penulisan juga menunjukkan peningkatan signifikan, terutama di sektor startup dan marketing agency yang mencari efisiensi. Kemudahan akses ke alat Generative AI seperti ChatGPT membuat banyak perusahaan mulai mengadopsi alat ini untuk draf awal komunikasi pers, materi pemasaran, hingga laporan internal. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan serupa mengenai orisinalitas, kualitas, dan etika teks yang dihasilkan.
AI model yang dilatih dengan data berbahasa Indonesia, yang mungkin belum merepresentasikan nuansa budaya, konteks lokal, dan gaya bahasa yang beragam di Indonesia, berpotensi menghasilkan keluaran yang terdengar 'generik' atau tidak otentik. Hal ini menuntut para editor, jurnalis, dan profesional komunikasi di Indonesia untuk lebih teliti dalam menyaring dan mengedit konten buatan AI agar tetap relevan, beresonansi dengan audiens lokal, serta menghindari munculnya pola-pola kalimat berulang yang telah menjadi ciri khas AI-generated text. Harga langganan untuk layanan Generative AI premium bervariasi, mulai dari sekitar Rp 300.000 hingga Rp 1.000.000 per bulan tergantung fitur dan kapasitas penggunaan, menjadikannya investasi yang signifikan bagi perusahaan.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


