Ad space available
Poke: AI Agent Canggih Kini Bisa Diakses Semudah Mengirim Pesan Teks
Poke menghadirkan AI Agent untuk pengguna awam melalui iMessage dan SMS tanpa perlu instalasi aplikasi rumit. Startup ini baru saja meraih valuasi $300 juta.

Poke Hadirkan AI Agent Semudah Mengirim Pesan Teks
PALO ALTO, (8 April 2026)
- Poke memungkinkan pengguna mengakses AI Agent melalui antarmuka pesan teks seperti iMessage, SMS, dan Telegram tanpa perlu instalasi software yang rumit.
- Startup ini baru saja mengumpulkan pendanaan tambahan sebesar $10 juta, meningkatkan valuasinya menjadi $300 juta (post-money).
- Poke dirancang untuk mengeksekusi tugas praktis (action-oriented) dan otomatisasi, berbeda dengan chatbot riset seperti ChatGPT atau Claude.
Mengutip laporan dari TechCrunch, startup baru bernama Poke berupaya mendemokrasi akses ke AI Agent dengan menjadikannya semudah mengirim pesan teks. Melansir data yang dibagikan oleh Sarah Perez, Poke memungkinkan konsumen untuk memiliki asisten pribadi yang dapat melakukan tindakan nyata atas nama mereka melalui antarmuka yang sudah sangat dikenal.
Diluncurkan secara publik pada Maret lalu, Poke membantu kebutuhan sehari-hari seperti perencanaan harian, pengelolaan kalender, pelacakan kesehatan dan kebugaran, hingga pengendalian perangkat Smart Home. Semua ini dilakukan melalui iMessage, SMS, Telegram, dan di beberapa pasar tertentu, WhatsApp.
Otomatisasi Tanpa Hambatan Teknis
Berbeda dengan platform Generative AI populer seperti ChatGPT atau Claude yang sering digunakan untuk riset atau tanya jawab, Poke difokuskan pada penyelesaian tugas secara cepat. Pengguna dapat meminta Poke untuk memberikan peringatan pada email spesifik dari atasan, mengingatkan membawa payung jika cuaca mendung, atau mengirimkan pengingat minum obat setiap pagi.
Kelebihan utama Poke adalah kemudahannya. Startup ini memposisikan dirinya sebagai alternatif bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan teknis untuk mengoperasikan sistem seperti OpenClaw, yang memerlukan instalasi lewat terminal dan manajemen dependensi yang rumit. Dengan Poke, pengguna cukup mendaftarkan nomor telepon di situs resmi dan asisten tersebut langsung siap beroperasi.
Di balik layarnya, Poke menggunakan LLM (Large Language Model) yang paling sesuai untuk setiap tugas, baik itu model dari penyedia besar maupun Open Source. Marvin von Hagen, co-founder dari The Interaction Company of California, menjelaskan bahwa kekuatan mereka terletak pada fleksibilitas model, tidak seperti Meta AI atau ChatGPT yang terikat pada satu penyedia saja.
Ekosistem "Recipes" dan Dukungan Investor
Poke menawarkan berbagai "recipes" atau alat siap pakai untuk otomatisasi di berbagai bidang seperti finansial, produktivitas, hingga travel. Alat-alat ini terintegrasi dengan layanan populer seperti Gmail, Google Calendar, Notion, hingga perangkat kebugaran seperti Strava dan Oura. Bagi pengembang, Poke juga menyediakan integrasi dengan GitHub, Vercel, dan Cloud Computing lainnya.
Startup beranggotakan 10 orang ini didukung oleh investor kelas berat seperti Spark Capital dan General Catalyst. Bahkan, beberapa tokoh besar industri seperti pendiri Stripe (John dan Patrick Collison), eksekutif OpenAI (Joanne Jang), hingga pendiri Hugging Face (Thomas Wolf) turut memberikan dukungan sebagai angel investors.
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran Poke memiliki relevansi besar bagi pasar teknologi di Indonesia, mengingat tingginya penetrasi pengguna perangkat seluler dan ketergantungan pada aplikasi pesan instan. Berikut adalah beberapa poin dampaknya:
- Aksesibilitas Tanpa High-End Device: Karena berbasis teks (SMS/Telegram), AI canggih ini bisa diakses tanpa memerlukan smartphone dengan spesifikasi tinggi atau koneksi internet yang sangat stabil, membuka peluang bagi pengguna di daerah terpencil.
- Potensi Otomatisasi UMKM: Dengan biaya yang fleksibel (sekitar $10-$30 atau setara Rp160.000 - Rp480.000 per bulan), pelaku usaha lokal dapat menggunakan Poke untuk mengelola inventaris atau jadwal pengiriman secara otomatis melalui pesan teks.
- Kendala WhatsApp: Mengingat WhatsApp adalah aplikasi pesan utama di Indonesia, kebijakan Meta yang sempat membatasi chatbot pihak ketiga mungkin akan menjadi hambatan bagi adopsi massal Poke di tanah air, kecuali regulasi lokal atau global memaksa Meta untuk lebih terbuka seperti yang terjadi di Uni Eropa dan Brasil.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


