Advertisement

Ad space available

Berita AI

Skandal Plagiarisme Musik AI di Olimpiade: Atlet Skating Ceko Jadi Sorotan

Pasangan penari es Kateřina Mrázková dan Daniel Mrázek menggunakan musik AI dalam program rutin mereka di Olimpiade 2026. Alih-alih orisinal, teknologi LLM justru menghasilkan lirik yang menjiplak karya musisi ternama.

Tim Rekayasa AI
Penulis
10 Februari 2026
4 min read
#Generative AI#Olimpiade 2026#LLM#Plagiarisme Digital#Tech News
Skandal Plagiarisme Musik AI di Olimpiade: Atlet Skating Ceko Jadi Sorotan

Skandal Plagiarisme Musik AI di Olimpiade: Atlet Skating Ceko Jadi Sorotan

MILAN, (10 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Pasangan penari es asal Ceko menggunakan musik yang dihasilkan oleh AI untuk kompetisi Olimpiade, yang secara teknis tidak melanggar aturan namun memicu debat etika.
  • Musik tersebut terdeteksi melakukan plagiarisme terhadap lirik lagu populer tahun 90-an milik New Radicals dan Bon Jovi akibat keterbatasan dataset LLM.
  • Kasus ini menjadi bukti nyata bagaimana Generative AI seringkali mereproduksi data latihan secara statistik alih-alih menciptakan karya yang benar-benar baru.

Melansir laporan dari TechCrunch, pasangan penari es asal Ceko, Kateřina Mrázková dan Daniel Mrázek, membuat debut Olimpiade mereka pada hari Senin dengan pilihan musik yang kontroversial. Pasangan kakak-beradik ini menggunakan musik yang dihasilkan oleh Generative AI untuk program rhythm dance mereka. Meski tidak melanggar aturan resmi dari International Skating Union (ISU), langkah ini menjadi simbol perdebatan mengenai peran teknologi dalam seni pertunjukan.

Mengutip data dari ISU, tema kompetisi ice dance musim ini adalah "The Music, Dance Styles, and Feeling of the 1990s". Di saat kontestan lain memberikan penghormatan kepada Spice Girls atau Lenny Kravitz, Mrázková dan Mrázek memilih rutin yang menggabungkan musik dari grup legendaris AC/DC dengan musik buatan AI. Namun, pilihan ini justru menjadi bumerang ketika lirik yang dihasilkan AI tersebut terbukti merupakan hasil plagiarisme terang-terangan.

Masalah Plagiarisme pada LLM

Lagu buatan AI yang digunakan berjudul "One Two by AI (of 90s style Bon Jovi)". Pada awal musim, lagu tersebut mengandung lirik yang identik dengan lagu hit tahun 1998 "You Get What You Give" milik New Radicals. Setelah menyadari adanya kemiripan yang mencolok, tim tersebut mengganti liriknya, namun versi terbarunya pun masih menjiplak lirik lagu "Raise Your Hands" milik Bon Jovi serta meniru gaya vokal Jon Bon Jovi secara identik.

Secara teknis, hal ini terjadi karena cara kerja LLM (Large Language Models). LLM dilatih menggunakan pustaka data musik yang sangat besar, sering kali melalui proses yang secara hukum masih dipertanyakan. Saat diberikan prompt untuk membuat lagu dengan gaya tertentu, LLM akan memberikan respons yang secara statistik paling mungkin muncul. Dalam konteks musik rock tahun 90-an, probabilitas tertinggi sering kali jatuh pada kata-kata atau melodi yang sudah ada dalam data latihan, sehingga menghasilkan output yang sangat mirip dengan karya asli.

Industri musik saat ini memang sedang terbelah. Di satu sisi, ada tren musisi AI yang mendapatkan kontrak rekaman jutaan dolar, namun di sisi lain, risiko hukum terkait hak cipta menjadi ancaman nyata bagi pengguna teknologi ini di panggung global seperti Olimpiade.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena penggunaan Generative AI di ajang internasional seperti Olimpiade memberikan pelajaran penting bagi industri kreatif di Indonesia. Saat ini, banyak kreator konten dan musisi lokal mulai bereksperimen dengan alat musik AI seperti Suno atau Udio karena biaya yang relatif terjangkau (sekitar Rp150.000 - Rp450.000 per bulan untuk paket pro).

Namun, kasus di Ceko ini menegaskan bahwa penggunaan konten AI untuk tujuan komersial atau kompetisi resmi di Indonesia mengandung risiko hukum yang tinggi. Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, perlindungan karya di Indonesia menitikberatkan pada orisinalitas manusia. Jika AI menghasilkan lirik yang menjiplak lagu lama, pengguna di Indonesia dapat terjerat tuntutan hukum dari pemegang hak cipta musik tersebut. Selain itu, para atlet dan seniman lokal diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam melakukan kurasi manual terhadap aset digital yang dihasilkan oleh Machine Learning agar tidak mencederai integritas karya mereka.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin