Ad space available
Peneliti MIT Integrasikan AI dan Manusia untuk Misi Bawah Laut Canggih
MIT Lincoln Laboratory mengembangkan teknologi kolaborasi antara penyelam dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk meningkatkan efisiensi misi bawah laut.

Peneliti MIT Integrasikan AI dan Manusia untuk Misi Bawah Laut Canggih
CAMBRIDGE, (14 April 2026)
- Peneliti MIT mengembangkan sistem kolaborasi antara penyelam manusia dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk misi pemeliharaan kabel bawah laut dan operasi penyelamatan.
- Teknologi ini menggabungkan ketangkasan kognitif manusia dalam mengenali objek dengan kekuatan pemrosesan AI dan daya tahan fisik robot.
- Sistem ini menggunakan AI classifier yang mampu memproses data sonar dan optik serta meminta masukan manusia saat menghadapi ketidakpastian objek.
Melansir data dari MIT News, para peneliti di MIT Lincoln Laboratory kini tengah mengembangkan hardware dan algorithm baru untuk navigasi serta persepsi bawah laut. Inovasi ini bertujuan untuk mempererat kerja sama antara penyelam manusia dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dalam menjalankan misi maritim yang kompleks.
Proyek yang dijalankan oleh Advanced Undersea Systems and Technology Group ini, sebagaimana dilaporkan oleh Ariana Gaines, berupaya memanfaatkan kekuatan masing-masing pihak. Manusia unggul dalam ketangkasan memanipulasi objek dan pengenalan visual, sementara robot memiliki keunggulan dalam kekuatan pemrosesan data, kecepatan mobilitas, serta ketahanan di lingkungan ekstrem.
Tantangan Navigasi di Kegelapan Abisal
Madeline Miller, peneliti utama dalam proyek ini, menjelaskan bahwa selama ini penyelam dan AUV jarang bekerja sama secara langsung. Di bawah laut, kondisi air yang keruh dan kurangnya cahaya membuat Sensor optik (kamera) sering kali tidak berguna. Di sisi lain, Sensor akustik seperti Sonar hanya menghasilkan gambar tanpa warna yang sulit diinterpretasikan oleh Artificial Intelligence (AI) tradisional.
"Pada akhirnya, kami ingin merancang solusi navigasi dan persepsi untuk lingkungan ekspedisi di mana peta bawah laut mungkin tidak tersedia sebelumnya," ujar Miller. Untuk mengatasi ini, tim mengembangkan AI classifier yang dapat memproses data optik dan Sonar secara bersamaan. Jika AI merasa tidak yakin dalam mengidentifikasi objek—misalnya ban bekas yang tertutup lumut atau puing pesawat—sistem akan mengirimkan data ke penyelam untuk divalidasi melalui perangkat tablet khusus yang disebut "tube-let".
Komunikasi dan Bandwidth Terbatas
Salah satu kendala terbesar dalam kolaborasi ini adalah rendahnya Bandwidth dan tingginya Latency pada komunikasi akustik bawah laut. Untuk mengirimkan satu gambar tanpa kompresi, diperlukan waktu hingga puluhan menit. Oleh karena itu, tim peneliti fokus pada teknik kompresi data minimal namun efektif agar informasi penting dapat dipertukarkan secara real-time.
Sistem prototipe ini dibangun menggunakan komponen Commercial Off-The-Shelf (COTS) untuk mempermudah transisi teknologi ke pihak militer maupun komersial. Uji coba telah dilakukan di perairan New England dan Great Lakes, menggunakan kapal riset sebagai pengganti penyelam sebelum akhirnya melibatkan penyelam manusia secara langsung.
Dampak bagi Indonesia
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, teknologi kolaborasi manusia-AUV memiliki signifikansi strategis bagi Indonesia:
- Keamanan Infrastruktur Bawah Laut: Indonesia memiliki jaringan kabel telekomunikasi dan listrik bawah laut yang sangat luas (lebih dari 115.000 km). Teknologi ini dapat mempercepat deteksi kerusakan kabel akibat jangkar kapal atau aktivitas tektonik dengan biaya lebih efisien dibanding menyewa kapal survei besar.
- Operasi Search and Rescue (SAR): Belajar dari insiden KRI Nanggala-402 dan kecelakaan pesawat di laut, penggunaan AUV yang dapat berinteraksi langsung dengan penyelam akan meningkatkan akurasi identifikasi puing di kedalaman yang sulit dijangkau manusia saja.
- Ekonomi Digital: Dengan penggunaan komponen COTS, biaya pengadaan sistem ini diperkirakan akan lebih terjangkau bagi industri maritim lokal. Di pasar global, sistem AUV canggih biasanya dihargai mulai dari Rp15 miliar hingga Rp50 miliar per unit. Adopsi teknologi berbasis software dan AI ini memungkinkan peningkatan kemampuan AUV lokal tanpa harus membeli perangkat keras baru yang mahal.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


