Advertisement

Ad space available

Berita AI

Astronom Pemburu Galaksi Ikut Picu Kelangkaan GPU Global

Para astronom kini beralih ke teknologi AI dan GPU untuk menganalisis data kosmik yang masif dari teleskop terbaru. Tren ini meningkatkan persaingan ketersediaan perangkat keras di tengah krisis GPU dunia.

Tim Rekayasa AI
Penulis
23 April 2026
4 min read
#GPU#NASA#SpaceTech#Artificial Intelligence#Astronomy
Astronom Pemburu Galaksi Ikut Picu Kelangkaan GPU Global

Astronom Pemburu Galaksi Ikut Picu Kelangkaan GPU Global

[SAN FRANCISCO], (23 April 2026)

Key Takeaway
  • Teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman milik NASA dijadwalkan meluncur September 2026, delapan bulan lebih awal dari target semula, dan akan menghasilkan 20.000 terabyte data.
  • Peneliti beralih dari analisis berbasis CPU ke GPU-accelerated menggunakan arsitektur Transformers untuk mengidentifikasi galaksi secara otomatis.
  • Persaingan mendapatkan akses GPU semakin ketat di tengah pemotongan anggaran riset federal dan dominasi industri komersial.

Mengutip laporan dari TechCrunch, NASA baru saja mengumumkan percepatan jadwal peluncuran teleskop luar angkasa Nancy Grace Roman pada September 2026. Teleskop canggih ini diprediksi akan mengirimkan data sebesar 20.000 terabyte sepanjang masa operasionalnya, menambah beban pengolahan data yang sudah sangat besar bagi komunitas astronomi dunia.

Lonjakan data ini merupakan lompatan besar jika dibandingkan dengan teleskop Hubble yang hanya mengirimkan 1 hingga 2 gigabyte data per hari. Sebagai perbandingan, James Webb Space Telescope (JWST) mengirimkan 57 gigabyte citra harian, sementara Vera C. Rubin Observatory di Chili diperkirakan akan mengumpulkan 20 terabyte data setiap malam. Untuk menghadapi tsunami data ini, para astronom mulai meninggalkan metode manual dan beralih ke GPU serta Artificial Intelligence (AI).

Brant Robertson, astrofisika dari UC Santa Cruz, menjelaskan bahwa telah terjadi evolusi besar dalam metode sains. Melansir data dari penelitiannya, ia telah bekerja sama dengan Nvidia selama 15 tahun untuk menerapkan GPU pada masalah pemahaman ruang angkasa, mulai dari simulasi ledakan supernova hingga alat analisis data observatorium terbaru.

"Terjadi evolusi dari mengamati beberapa objek, melakukan analisis berbasis CPU pada skala data besar, hingga versi analisis yang dipercepat menggunakan GPU (GPU-accelerated)," ungkap Robertson kepada TechCrunch.

Robertson dan timnya mengembangkan model Deep Learning bernama Morpheus untuk mengidentifikasi galaksi. Saat ini, ia tengah memperbarui arsitektur Morpheus dari Convolutional Neural Networks (CNN) menjadi Transformers, teknologi serupa yang menjadi motor penggerak Large Language Models (LLM). Langkah ini diharapkan dapat mempercepat analisis area langit hingga beberapa kali lipat lebih luas dari kemampuan saat ini.

Namun, ambisi ilmiah ini terbentur oleh realitas ekonomi. Kelangkaan GPU global membuat akses ke daya komputasi menjadi sangat mahal dan kompetitif. Robertson mencatat bahwa meskipun ia berhasil membangun cluster GPU di universitasnya, perangkat tersebut cepat menjadi usang di saat permintaan riset yang haus compute-intensive terus meningkat. Tantangan semakin berat dengan adanya usulan pemotongan anggaran National Science Foundation (NSF) hingga 50% oleh pemerintah Amerika Serikat.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena "perburuan galaksi" yang haus daya komputasi ini memperparah krisis GPU global, yang secara langsung berdampak pada pasar teknologi di Indonesia:

  1. Harga Perangkat Keras: Tingginya permintaan GPU kelas atas (seperti seri Nvidia H-series atau RTX seri terbaru) untuk riset global dapat menjaga harga unit tetap tinggi di pasar lokal. Konsumen di Indonesia mungkin harus merogoh kocek lebih dalam, dengan harga GPU kelas profesional yang bisa menembus angka Rp50 juta hingga Rp100 juta per unit.
  2. Akses Riset Lokal: Peneliti di Indonesia, baik dari BRIN maupun universitas, akan menghadapi tantangan biaya yang lebih besar untuk menyewa layanan Cloud Computing atau membangun Data Center mandiri karena harus berebut alokasi GPU dengan proyek sains internasional dan perusahaan AI besar.
  3. Adopsi AI Agent: Kelangkaan ini mungkin mendorong pengembang lokal di Indonesia untuk lebih fokus pada optimalisasi algoritma agar dapat berjalan pada perangkat dengan spesifikasi lebih rendah (low-resource settings) guna menyiasati mahalnya infrastruktur GPU.

--- *Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join [Komunitas Rekayasa AI di Discord](https://discord.gg/s9jwwtXc6V) untuk diskusi lebih lanjut.*

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin