Advertisement

Ad space available

Berita AI

Pekerja Tech China Mulai Latih AI Agent 'Kembaran' dan Beri Perlawanan

Tren proyek GitHub viral 'Colleague Skill' memicu kekhawatiran massal di kalangan pekerja teknologi China terkait otomatisasi pekerjaan. Karyawan kini dipaksa melatih AI Agent yang mampu meniru kepribadian dan alur kerja mereka.

Tim Rekayasa AI
Penulis
20 April 2026
5 min read
#AI Agent#China Tech#GitHub#Masa Depan Kerja#Otomatisasi
Pekerja Tech China Mulai Latih AI Agent 'Kembaran' dan Beri Perlawanan

Pekerja Tech China Mulai Latih AI Agent 'Kembaran' dan Beri Perlawanan

SHANGHAI, (20 APRIL 2026)

Key Takeaway
  • Proyek GitHub viral bernama Colleague Skill memungkinkan pengguna mengklon keahlian dan kepribadian rekan kerja menjadi AI Agent yang dapat digunakan kembali.
  • Perusahaan teknologi di China mulai mewajibkan karyawan mendokumentasikan workflow mendetail untuk melatih sistem AI seperti OpenClaw dan Claude Code.
  • Muncul gerakan perlawanan melalui alat "anti-distilasi" yang dirancang untuk menyabotase proses pelatihan AI guna melindungi martabat dan keamanan kerja manusia.

Para pekerja teknologi di China kini menghadapi instruksi yang meresahkan dari atasan mereka: melatih AI Agent untuk menggantikan posisi mereka sendiri. Mengutip laporan dari MIT Technology Review, fenomena ini memicu gelombang refleksi mendalam di kalangan pengadopsi awal teknologi yang sebelumnya sangat antusias.

Melansir data dari media sosial China, sebuah proyek GitHub bernama Colleague Skill menjadi viral awal bulan ini. Proyek tersebut mengklaim dapat melakukan "distilasi" terhadap keahlian dan ciri kepribadian rekan kerja untuk direplikasi ke dalam AI Agent. Meskipun sang pencipta menyebutnya sebagai sebuah parodi atau spoof, proyek ini menyentuh saraf sensitif para pekerja yang mulai dipaksa perusahaan untuk mendokumentasikan setiap detail workflow mereka demi kepentingan otomatisasi.

Replika Digital yang Presisi

Colleague Skill bekerja dengan mengimpor riwayat percakapan dan file dari aplikasi kerja populer seperti Lark dan DingTalk. Alat ini kemudian menghasilkan manual yang menggambarkan tugas, gaya komunikasi, bahkan kebiasaan unik seorang karyawan untuk ditiru oleh AI Agent.

Tianyi Zhou, insinyur di Shanghai Artificial Intelligence Laboratory yang menciptakan proyek tersebut, menyatakan bahwa ide ini muncul sebagai protes terhadap tren PHK massal terkait AI. Namun, bagi sebagian pekerja, ini bukan sekadar lelucon. Amber Li (27), seorang pekerja teknologi di Shanghai, mencoba menduplikasi mantan rekan kerjanya sebagai eksperimen.

"Hasilnya sangat bagus hingga terasa menakutkan," ujar Li. "Alat itu bahkan menangkap kebiasaan tanda baca dan cara rekan saya bereaksi saat melakukan debug kode." Meskipun efisien, Li mengaku merasa tidak nyaman dengan keberadaan 'rekan kerja digital' tersebut.

Perlawanan Melalui "Sabotase" AI

Hancheng Cao, asisten profesor di Emory University, menilai perusahaan memiliki motif kuat untuk mendorong pembuatan cetak biru kerja seperti ini. Dengan data yang kaya akan pola pengambilan keputusan manusia, perusahaan dapat memetakan bagian mana yang bisa distandarisasi ke dalam sistem dan mana yang masih memerlukan penilaian manusia.

Namun, para pekerja tidak tinggal diam. Koki Xu (26), seorang AI Product Manager di Beijing, meluncurkan alat "anti-distillation" di GitHub. Alat ini dirancang untuk menyabotase proses pembuatan workflow bagi AI Agent. Pengguna dapat memilih mode sabotase ringan hingga berat, di mana AI akan menulis ulang materi kerja menjadi bahasa yang sangat generik dan tidak bisa ditindaklanjuti oleh sistem otomatisasi.

"Penting bagi kita (karyawan) untuk terus mengikuti tren ini agar bisa ikut membentuk bagaimana teknologi ini digunakan, bukan hanya menjadi objek otomatisasi," tegas Xu.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena di China ini diprediksi akan segera merambah ekosistem startup dan perusahaan teknologi di Indonesia seiring dengan meningkatnya adopsi Generative AI.

  1. Tekanan Efisiensi Biaya: Perusahaan di Indonesia kemungkinan akan mulai melirik AI Agent berbasis LLM untuk memangkas biaya operasional. Dengan biaya langganan Claude atau OpenClaw berkisar antara Rp320.000 hingga Rp480.000 per bulan, potensi substitusi tenaga kerja manusia untuk tugas administratif dan coding dasar menjadi sangat tinggi.
  2. Isu Privasi dan Kepemilikan Data: Indonesia membutuhkan regulasi yang lebih spesifik mengenai kepemilikan data percakapan di platform kerja (seperti Slack atau WhatsApp Business). Apakah gaya bicara dan logika pemecahan masalah seorang karyawan adalah milik perusahaan atau hak pribadi?
  3. Kesenjangan Keahlian: Pekerja lokal perlu segera menguasai Prompt Engineering dan manajemen AI Agent agar tidak sekadar menjadi subjek yang digantikan, tetapi menjadi operator dari sistem otomatisasi tersebut.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin