Advertisement

Ad space available

Berita AI

OpenAI Tutup Aplikasi Sora: Kegagalan Eksperimen Media Sosial Video AI

OpenAI resmi menghentikan aplikasi sosial Sora setelah enam bulan beroperasi akibat penurunan minat pengguna. Meskipun aplikasinya ditutup, model Sora 2 tetap tersedia di balik paywall ChatGPT.

Tim Rekayasa AI
Penulis
24 Maret 2026
4 min read
#OpenAI#Sora#Generative AI#Deepfake#Social Media
OpenAI Tutup Aplikasi Sora: Kegagalan Eksperimen Media Sosial Video AI

OpenAI Tutup Aplikasi Sora: Kegagalan Eksperimen Media Sosial Video AI

SAN FRANCISCO, (24 Maret 2026)

Key Takeaway
  • OpenAI resmi menutup aplikasi Sora, platform media sosial mirip TikTok berbasis video AI, hanya enam bulan setelah peluncurannya.
  • Meskipun aplikasi mandirinya dihentikan, model Sora 2 tetap dapat diakses secara eksklusif oleh pengguna berlangganan melalui ChatGPT.
  • Penurunan drastis jumlah download dari 3,3 juta menjadi 1,1 juta serta kontroversi konten Deepfake menjadi faktor utama kegagalan layanan ini.

Melansir laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Amanda Silberling, OpenAI pada hari Selasa mengumumkan penghentian layanan Sora, aplikasi sosial mirip TikTok yang baru saja dirilis enam bulan lalu. Langkah mendadak ini mengejutkan industri teknologi, mengingat Sora awalnya digadang-gadang sebagai masa depan konten video berbasis Generative AI.

Saat pertama kali diluncurkan dengan sistem undangan eksklusif, Sora memicu antusiasme besar. Namun, seperti halnya Horizon Worlds milik Meta, Sora gagal mempertahankan daya tarik jangka panjang. Meskipun model Sora 2 yang menjadi pondasinya memiliki kemampuan video-generation dan audio-generation yang luar biasa, pasar ternyata tidak menunjukkan minat berkelanjutan terhadap social feed yang isinya hanya konten buatan AI.

Kontroversi Konten dan Masalah Deepfake

Sora dirancang untuk berfungsi sebagai platform video vertikal yang mengutamakan teknologi AI. Fitur unggulannya, yang awalnya disebut "Cameos" sebelum berganti nama menjadi "Characters" karena sengketa hukum, memungkinkan pengguna memindai wajah mereka untuk membuat Deepfake yang sangat realistis.

Sayangnya, aplikasi ini dengan cepat berubah menjadi medan tempur konten yang aneh dan tidak terkendali. Banyak pengguna menemukan cara untuk menembus guardrails yang ditetapkan OpenAI, menghasilkan video Deepfake tokoh publik seperti CEO OpenAI Sam Altman hingga tokoh sejarah Martin Luther King, Jr. Hal ini memicu gelombang kritik dari keluarga tokoh terkait dan kekhawatiran serius mengenai Cybersecurity serta etika AI.

Selain masalah etika, masalah hak cipta juga membayangi. Pengguna sering kali membuat konten menggunakan karakter berhak cipta seperti Mario atau Pikachu. Menariknya, Disney sempat mencoba masuk dengan investasi senilai $1 miliar dan kesepakatan lisensi karakter. Namun, seiring dengan ditutupnya Sora, kesepakatan besar tersebut dikabarkan turut kandas tanpa ada dana yang sempat berpindah tangan.

Penurunan Performa dan Strategi Masa Depan

Data dari firma intelijen seluler Appfigures menunjukkan bahwa popularitas Sora mencapai puncaknya pada November 2025 dengan 3,3 juta unduhan, namun merosot tajam menjadi hanya 1,1 juta pada Februari 2026. Sebagai perbandingan, layanan utama OpenAI, ChatGPT, kini memiliki sekitar 900 juta pengguna aktif mingguan.

Meski aplikasi sosialnya mati, teknologi intinya tidak hilang. Model Sora 2 tetap tersedia sebagai fitur premium bagi pelanggan berbayar di ChatGPT. Hal ini menunjukkan bahwa OpenAI mungkin lebih memilih memposisikan teknologi ini sebagai alat produktivitas profesional daripada platform hiburan sosial.

Dampak bagi Indonesia

Penutupan Sora memberikan gambaran penting bagi pasar teknologi di Indonesia:

  1. Filter Konten dan UU ITE: Munculnya tren konten Deepfake yang meresahkan di Sora menjadi pengingat penting bagi regulator di Indonesia untuk memperkuat implementasi UU ITE guna melindungi identitas warga dari penyalahgunaan teknologi Generative AI.
  2. Biaya Akses Teknologi: Karena Sora kini hanya tersedia melalui ChatGPT Plus, pengguna di Indonesia yang ingin memanfaatkan teknologi video AI ini harus membayar biaya berlangganan sekitar Rp315.000 per bulan (estimasi kurs Rp15.750). Ini mungkin membatasi akses bagi kreator konten lokal skala kecil.
  3. Adaptasi Kreator Lokal: Kegagalan model media sosial murni AI ini menunjukkan bahwa penonton di Indonesia tetap lebih menghargai aspek orisinalitas dan kehadiran manusia (human connection) dalam konten digital dibandingkan sekadar visual canggih hasil Machine Learning.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin