Advertisement

Ad space available

Berita AI

OpenAI Kembangkan 'AI Researcher': Targetkan Riset Mandiri Sepenuhnya pada 2028

OpenAI mengalihkan fokus utamanya untuk membangun sistem AI Agent yang mampu melakukan riset ilmiah secara mandiri. Proyek ambisius ini ditargetkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2028.

Tim Rekayasa AI
Penulis
20 Maret 2026
5 min read
#OpenAI#AI Agent#Machine Learning#Jakub Pachocki#Generative AI
OpenAI Kembangkan 'AI Researcher': Targetkan Riset Mandiri Sepenuhnya pada 2028

OpenAI Kembangkan 'AI Researcher': Targetkan Riset Mandiri Sepenuhnya pada 2028

SAN FRANCISCO, (20 Maret 2026)

Key Takeaway
  • OpenAI menargetkan peluncuran "AI Research Intern" pada September 2026 sebagai prototipe agen otonom yang bisa menyelesaikan tugas riset selama berhari-hari tanpa bantuan manusia.
  • Visi jangka panjang perusahaan adalah membangun sistem riset multi-agent penuh pada 2028 yang mampu menangani masalah kompleks di bidang matematika, biologi, hingga kebijakan publik.
  • Keamanan sistem akan dipantau melalui metode Chain-of-thought monitoring, di mana AI menuliskan proses berpikirnya di "scratchpad" untuk diawasi oleh model AI lainnya.

Mengutip laporan eksklusif dari MIT Technology Review, OpenAI kini memusatkan seluruh sumber dayanya untuk sebuah tantangan besar: membangun AI Researcher. Sistem ini dirancang sebagai AI Agent yang sepenuhnya otomatis dan mampu menangani masalah besar serta kompleks secara mandiri tanpa pengawasan manusia yang konstan.

Jakub Pachocki, Chief Scientist OpenAI, menjelaskan bahwa proyek ini menjadi "North Star" perusahaan untuk beberapa tahun ke depan. Proyek ini menggabungkan berbagai lini riset utama, termasuk model penalaran (reasoning models), pengembangan agen otonom, hingga aspek interpretability.

Peta Jalan Menuju Riset Otonom

OpenAI telah menetapkan lini masa yang jelas. Mereka berencana membangun "Autonomous AI Research Intern"—sebuah sistem yang mampu menangani masalah riset spesifik secara mandiri—pada bulan September mendatang. Intern AI ini merupakan prekursor bagi sistem riset multi-agent yang sepenuhnya otomatis yang dijadwalkan debut pada tahun 2028.

AI Researcher ini diharapkan mampu menangani tugas-tugas yang terlalu besar atau kompleks bagi manusia, mulai dari merumuskan pembuktian matematika dan konjektur fisika, hingga memecahkan dilema di bidang biologi, kimia, bahkan kebijakan bisnis.

Pachocki menekankan bahwa OpenAI saat ini telah memiliki alat yang dibutuhkan. Ia menunjuk pada kesuksesan Codex, aplikasi berbasis agen yang mampu menyusun kode secara instan untuk menjalankan tugas-tugas komputer. "Saya mengekspektasikan Codex akan menjadi jauh lebih baik secara fundamental," ujar Pachocki. Kuncinya adalah menciptakan sistem yang dapat berjalan dalam durasi yang lebih lama dengan panduan manusia yang minimal.

Tantangan Keamanan dan Risiko

Namun, kemampuan yang luar biasa ini membawa risiko yang tidak sedikit. Pachocki mengakui adanya potensi sistem yang "berjalan di luar kendali", risiko peretasan, hingga kegagalan model dalam memahami instruksi.

Solusi utama yang ditawarkan OpenAI saat ini adalah Chain-of-thought monitoring. Dalam pendekatan ini, LLM dilatih untuk mencatat detail apa yang mereka lakukan saat bekerja dalam sebuah "scratchpad" digital. Peneliti kemudian dapat menggunakan catatan tersebut untuk memastikan model berperilaku sesuai harapan.

"Sampai kita benar-benar bisa mempercayai sistem ini, kita harus memiliki pembatasan yang ketat," tegas Pachocki. Ia menyarankan agar model-model yang sangat kuat dijalankan di dalam sandbox yang terisolasi dari infrastruktur kritis.

Dampak bagi Indonesia

Kehadiran AI Researcher otonom ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi Indonesia. Dari sisi positif, akselerasi riset di bidang biologi dan energi terbarukan dapat membantu institusi riset lokal seperti BRIN atau startup biotech Indonesia dalam menemukan solusi spesifik bagi masalah tropis dengan biaya komputasi yang lebih efisien dibandingkan riset laboratorium konvensional yang memakan waktu bertahun-tahun.

Namun, ketergantungan pada infrastruktur Data Center global milik OpenAI dapat memunculkan isu kedaulatan data riset nasional. Selain itu, dengan kurs IDR yang fluktuatif, biaya langganan akses ke teknologi Enterprise berbasis GPT-5 atau model penerusnya diprediksi akan menjadi beban signifikan bagi sektor akademisi. Pemerintah Indonesia perlu segera menyiapkan regulasi terkait keamanan hayati (biosafety) dan Cybersecurity untuk mengantisipasi potensi penyalahgunaan AI Agent otonom dalam menciptakan ancaman digital atau patogen sintetik di masa depan.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin