Advertisement

Ad space available

Berita AI

OpenAI & Gates Foundation Gunakan AI untuk Percepat Respon Bencana di Asia

OpenAI menggelar 'AI Jam' di Bangkok bersama Gates Foundation untuk melatih pemimpin manajemen bencana dari 13 negara Asia. Program ini fokus pada penggunaan Generative AI untuk mempercepat koordinasi saat krisis.

Tim Rekayasa AI
Penulis
30 Maret 2026
4 min read
#OpenAI#Generative AI#Disaster Management#Gates Foundation#Indonesia
OpenAI & Gates Foundation Gunakan AI untuk Percepat Respon Bencana di Asia

OpenAI & Gates Foundation Gunakan AI untuk Percepat Respon Bencana di Asia

BANGKOK, (30 Maret 2026)

Key Takeaway
  1. OpenAI berkolaborasi dengan Gates Foundation dan Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) untuk melatih 50 pemimpin manajemen bencana dari 13 negara, termasuk Indonesia.
  2. Inisiatif ini berfokus pada pengembangan workflow berbasis Generative AI dan Custom GPTs untuk mempercepat pelaporan situasi dan penilaian kebutuhan di lapangan.
  3. Data internal menunjukkan lonjakan penggunaan ChatGPT hingga 17 kali lipat selama siklon di Sri Lanka, membuktikan peran krusial AI dalam mencari informasi darurat.

Mengutip laporan resmi dari OpenAI, perusahaan teknologi tersebut baru saja menyelenggarakan lokakarya perdana bertajuk "AI Jam for Disaster Management" di Bangkok, Thailand. Bekerja sama dengan Gates Foundation, Asian Disaster Preparedness Center (ADPC), dan DataKind, program ini bertujuan untuk menjembatani celah antara potensi teknologi dengan implementasi nyata di lapangan.

Sebanyak 50 pemimpin manajemen bencana dari 13 negara, termasuk Bangladesh, India, Indonesia, Malaysia, hingga Vietnam, berkumpul untuk mempelajari cara mengintegrasikan AI ke dalam operasi darurat mereka. Fokus utamanya adalah menjawab tantangan bagaimana Generative AI dapat membantu pemerintah dan organisasi non-profit merespons bencana dengan lebih cepat dan efektif.

Mengatasi Keterbatasan Data di Wilayah Rawan Bencana

Asia merupakan wilayah paling rawan bencana di dunia, menyumbang sekitar 75% dari total orang yang terdampak bencana secara global. World Bank memperkirakan bahwa bencana alam telah merugikan negara-negara ASEAN lebih dari $11 miliar dalam beberapa tahun terakhir. Seringkali, tim respons beroperasi dalam lingkungan dengan keterbatasan sumber daya, data yang terfragmentasi, dan infrastruktur yang minim.

Dalam sesi lokakarya ini, para peserta bekerja berdampingan dengan mentor dari OpenAI untuk membangun Custom GPTs dan reusable workflows. Alat-alat ini dirancang untuk membantu berbagai tugas kritikal, mulai dari pembuatan laporan situasi, penilaian kebutuhan masyarakat terdampak, hingga komunikasi publik yang lebih efisien.

OpenAI juga mengungkapkan data menarik mengenai perilaku pengguna saat krisis. Selama Siklon Ditwah di Sri Lanka, terjadi peningkatan 17 kali lipat pesan terkait siklon di ChatGPT. Fenomena serupa terjadi di Thailand pada November 2025 selama Siklon Senyar, di mana volume pesan melonjak 3,2 kali lipat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat secara organik sudah mulai mengandalkan LLM (Large Language Models) sebagai sumber informasi saat darurat.

Dampak bagi Indonesia

Sebagai salah satu negara yang berpartisipasi dalam program ini, Indonesia memiliki kepentingan strategis yang besar. Dengan kerentanan geografis terhadap gempa bumi, banjir, dan tsunami, penerapan AI dalam manajemen bencana di tanah air dapat memberikan dampak signifikan:

  1. Efisiensi Anggaran: Dengan kerugian ekonomi akibat bencana di ASEAN yang mencapai Rp173 triliun (estimasi kurs $11 miliar), efisiensi yang ditawarkan oleh Cloud Computing dan AI dalam mitigasi dapat menekan kerugian materiil maupun korban jiwa.
  2. Integrasi BPBD/BNPB: Pemanfaatan AI Agent dapat membantu instansi seperti BNPB atau BPBD untuk mengolah data satelit dan laporan warga secara real-time menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti (actionable insights).
  3. Literasi Digital Sektor Publik: Keterlibatan delegasi Indonesia dalam program ini mempercepat adopsi teknologi mutakhir bagi para pengambil kebijakan lokal, memastikan bahwa pemanfaatan AI tidak hanya berhenti sebagai tren, melainkan menjadi kapabilitas praktis.

Sandy Kunvatanagarn, Head of Public Policy OpenAI, menekankan bahwa kolaborasi ini adalah bagian dari perluasan program "OpenAI for Countries". Langkah selanjutnya akan mencakup fase uji coba (pilot deployment) dan kolaborasi teknis yang lebih mendalam dengan organisasi-organisasi di seluruh kawasan Asia.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin