Advertisement

Ad space available

Berita AI

NVIDIA dan Pemerintah AS Jalankan Misi Genesis: AI untuk Masa Depan Energi

NVIDIA berkolaborasi dengan Departemen Energi AS dalam Misi Genesis untuk mempercepat penemuan sains dan optimasi jaringan listrik. Melalui supercomputer bertenaga 100.000 GPU, inisiatif ini bertujuan merevolusi sektor energi global.

Tim Rekayasa AI
Penulis
7 Mei 2026
4 min read
#NVIDIA#Misi Genesis#Supercomputer#GPU#Energi Terbarukan
NVIDIA dan Pemerintah AS Jalankan Misi Genesis: AI untuk Masa Depan Energi

NVIDIA dan Pemerintah AS Jalankan Misi Genesis: AI untuk Masa Depan Energi

WASHINGTON, (7 Mei 2026)

Key Takeaway
  • Misi Genesis adalah kolaborasi strategis antara NVIDIA dan Departemen Energi AS (DOE) untuk menerapkan AI dalam mempercepat riset fusi nuklir dan material baru.
  • Supercomputer 'Solstice' akan ditenagai 100.000 GPU NVIDIA Vera Rubin, menghasilkan performa 5.000 exaflops—lima kali lipat lebih kuat dari gabungan daftar TOP500 saat ini.
  • AI diproyeksikan mampu memangkas waktu studi interkoneksi jaringan listrik yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun menjadi hanya hitungan jam.

Kecerdasan buatan akan membantu membangun energi yang ia butuhkan sendiri. Melansir laporan resmi dari NVIDIA Blog, hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Energi AS, Chris Wright, dan Vice President Hyperscale and High-Performance Computing NVIDIA, Ian Buck, dalam diskusi panel di SCSP AI+ Expo bertajuk "Powering the Next American Century".

Argumen utamanya adalah kepemimpinan global dalam AI sangat bergantung pada kepemimpinan di sektor energi. Wright menyatakan bahwa energi adalah fondasi peluang masyarakat, sementara Buck menekankan bahwa NVIDIA berkomitmen penuh pada Misi Genesis, sebuah inisiatif AI-for-science yang dibangun di atas kerja sama dua dekade antara NVIDIA dan laboratorium nasional Amerika Serikat.

Supercomputer Skala Masif: Equinox dan Solstice

Kolaborasi ini diwujudkan melalui pembangunan dua AI supercomputers di Argonne National Laboratory. Mesin pertama, Equinox, saat ini sedang dipasang dengan 10,000 NVIDIA Grace Blackwell GPU.

Mesin kedua, Solstice, akan menjadi lompatan besar dengan penggunaan 100,000 GPU berbasis arsitektur NVIDIA Vera Rubin. Dengan performa mencapai 5.000 exaflops, supercomputer ini dirancang khusus untuk memajukan sains dunia, memberikan akses bagi peneliti untuk menggunakan blok bangunan hardware dan software yang sama dengan laboratorium AI terkemuka di dunia.

Dalam praktiknya, NVIDIA telah melatih model AI Agent sumber terbuka dengan 1,5 juta makalah fisika dan 100.000 makalah spesifik mengenai fusi nuklir. Hal ini memungkinkan peneliti untuk melakukan interogasi data guna mempercepat penemuan energi bersih secara eksponensial.

Efisiensi dan Optimasi Jaringan Listrik

Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah birokrasi dan kompleksitas interkoneksi jaringan listrik. Wright mencatat bahwa di masa lalu, studi interkoneksi membutuhkan waktu bertahun-tahun, namun dengan bantuan AI, proses tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan jam atau minggu.

Dari sisi efisiensi perangkat keras, Ian Buck menyoroti peningkatan signifikan pada tiap generasi GPU. "Dari generasi Hopper ke Blackwell, kami meningkatkan performa hingga 30 kali lipat, namun yang lebih penting, kami meningkatkan performa per watt hingga 25 kali lipat," ujarnya.

Dampak bagi Indonesia

Langkah ambisius AS dan NVIDIA ini memberikan sinyal penting bagi peta jalan energi dan teknologi di Indonesia:

  1. Optimasi Smart Grid PLN: Teknologi AI yang dikembangkan dalam Misi Genesis dapat diadopsi oleh PLN untuk mengatasi masalah interkoneksi pembangkit energi terbarukan (EBT) ke jaringan nasional, yang selama ini menjadi kendala teknis dan birokrasi di Indonesia.
  2. Efisiensi Data Center: Seiring dengan pertumbuhan Data Center di wilayah seperti Jabodetabek dan Batam, penggunaan GPU yang lebih efisien (seperti Blackwell) sangat krusial untuk menekan biaya operasional dan konsumsi listrik di tengah target Net Zero Emission Indonesia.
  3. Investasi Infrastruktur AI: Jika Indonesia ingin bersaing dalam ekonomi digital, investasi pada AI Infrastructure yang terintegrasi dengan sumber energi murah menjadi keharusan. Konversi biaya listrik yang lebih efisien akan berdampak langsung pada harga layanan Cloud Computing lokal yang lebih kompetitif bagi startup dan Fintech tanah air.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin