Advertisement

Ad space available

Berita AI

NVIDIA AI dan GPU: Menyingkap Misteri Galaksi Purba di Alam Semesta

Astronom kini menggunakan AI dan GPU NVIDIA untuk menganalisis data masif dari Teleskop James Webb demi mengungkap sejarah kosmos. Teknologi ini mempercepat klasifikasi ratusan ribu galaksi dari hitungan tahun menjadi hanya beberapa hari.

Tim Rekayasa AI
Penulis
23 April 2026
4 min read
#Astronomi#NVIDIA#AI#GPU#Teknologi
NVIDIA AI dan GPU: Menyingkap Misteri Galaksi Purba di Alam Semesta

NVIDIA AI dan GPU: Menyingkap Misteri Galaksi Purba di Alam Semesta

SANTA CRUZ, (22 Mei 2024)

Key Takeaway
  • Integrasi AI Morpheus dan GPU NVIDIA memangkas waktu analisis data galaksi dari skala tahunan menjadi hitungan hari saja.
  • Teknologi Semantic Segmentation memungkinkan identifikasi struktur internal galaksi dengan tingkat presisi piksel yang sangat tinggi.
  • Inovasi berbasis AI membantu teleskop darat menghasilkan citra sejernih teleskop luar angkasa dengan mengoreksi gangguan atmosfer.

Alam semesta menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang bisa diproses oleh mata manusia secara manual. Sejak Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) mulai mengirimkan data dalam skala terabyte, para astronom menghadapi tantangan besar dalam mengolah informasi tersebut. Tanpa bantuan teknologi komputasi mutakhir, data-data berharga ini akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipahami sepenuhnya oleh para ilmuwan.

Brant Robertson, Profesor Astronomi di University of California, Santa Cruz (UCSC), menyatakan bahwa volume data kosmik saat ini sangat luar biasa dan melampaui kapasitas manusia. Timnya kini mengandalkan sistem AI bernama Morpheus yang dijalankan pada infrastruktur GPU NVIDIA untuk mengklasifikasikan ratusan ribu galaksi secara otomatis dengan akurasi yang konsisten.

Peran AI Morpheus dalam Astronomi

Morpheus menggunakan teknik Machine Learning yang disebut semantic segmentation. Mirip dengan cara sistem kemudi otomatis pada mobil mengenali objek di jalan raya, Morpheus membedah setiap piksel gambar untuk menentukan struktur galaksi, apakah itu berbentuk piringan, tonjolan, atau sekadar objek latar belakang. Proses analisis ini sepenuhnya bergantung pada akselerasi GPU NVIDIA, yang mampu melakukan perhitungan paralel masif jauh lebih cepat dibandingkan prosesor konvensional.

Penelitian ini mengungkapkan temuan mengejutkan bahwa galaksi yang menyerupai Bima Sakti ternyata sudah terbentuk jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya. Temuan ini secara langsung menantang teori evolusi alam semesta yang ada dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana struktur kosmos pertama kali terbentuk setelah peristiwa Big Bang.

Teknologi DLSS untuk Langit Malam

Selain membantu teleskop luar angkasa, AI juga membawa revolusi bagi observatorium di permukaan Bumi. Dengan mengadaptasi konsep teknologi NVIDIA DLSS (Deep Learning Super Sampling), para ilmuwan melatih model AI untuk menghapus efek kabur atau distorsi yang disebabkan oleh atmosfer Bumi. Hal ini memungkinkan teleskop darat seperti Observatorium Vera C. Rubin di Chile untuk menghasilkan gambar yang tajam, mendekati kualitas teleskop yang berada di orbit luar angkasa.

Dampak bagi Komunitas Riset Global

Inovasi ini membawa dampak luas bagi komunitas sains internasional. Brant Robertson merilis seluruh dataset klasifikasi terhadap hampir 500.000 galaksi tersebut secara publik. Hal ini memberikan peluang emas bagi para peneliti dan mahasiswa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk mengakses data kelas dunia dan melatih model AI mereka sendiri guna memajukan pemahaman manusia tentang asal-usul alam semesta.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin